logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 02 Januari 2008 NASIONAL
Line

Longsor di Karanganyar Lebih dari 50 Titik


BERSIHKAN LUMPUR: Seorang nenek warga Desa Undaan Kidul, Kecamatan Undaan, Kudus membersihkan lumpur yang masuk rumahnya, Selasa (1/1). (30)

KARANGANYAR- Pantauan dari udara terlihat lebih dari 50 titik tanah longsor di Kabupaten Karanganyar. Terbanyak di sekitar Tawangmangu dan Matesih yakni sekitar 20 titik, disusul Jatiyoso dan Ngargoyoso, dan wilayah lainnya. Tidak semua longsoran itu membawa korban jiwa atau menimpa rumah warga, namun intensitasnya cukup besar.

Hingga kemarin, hasil penghitungan kasar Pemkab Karanganyar, kerugian akibat bencana ditaksir Rp 100 miliar. Itu meliputi rusaknya sarana dan prasana seperti dua dam di Lalung dan Jatiyoso, 20 jembatan (dua di antaranya jembatan besar lebih dari 20 meter), ribuan rumah, ratusan hektare sawah, dan lain sebagainya.

Bahkan, ratusan hektare sawah di Godangrejo dan Kebakkramat terlihat masih tergenang air. Hampir pasti bibit padi yang baru saja ditanam oleh petani di dua wilayah itu gagal tumbuh. Selain itu, banjir juga menenggelamkan rumah warga, sehingga sekitar 600 kepala keluarga warga harus diungsikan ke balai desa.

Suara Merdeka yang mengikuti pantauan udara bersama Bupati Rina Iriani dan staf Pemkab lainnya, mengelilingi wilayah Karanganyar. Pantauan menggunakan helikopter Superpuma sumbangan PT Dirgantara Indonesia Bandung, dengan kapten pilot Bambang Priombodo, kopilot Haryono. Tim juga didampingi Tim SAR PT DI. Sekitar 1,5 jam heli mengudara di ketinggian sekitar 500 meter di atas permukaan tanah.

Pertama yang dipantau di wilayah Tawangmangu. Beberapa titik terlihat tanah merah menutup permukaan, tanda terjadi longsoran. Paling parah terjadi di Ledoksari yang terihat hamparan tanah merah cukup luas. Pantauan dilanjutkan ke wilayah selatan di Jatipuro dan Jatiyoso, kemudian di Ngargoyoso. Longsoran terjadi sangat hebat di hampir seluruh wilayah di lereng Gunung Lawu itu.

Paling akhir, heli mengudara di atas wilayah Gondangrejo dan Kebakkramat. Jelas terlihat hamparan air menenggelamkan persawahan dan perumahan. Bengawan Solo yang berkelak-kelok menyambung permukaan airnya dengan persawahan.

''Ternyata dari udara banjir yang terjadi sangat hebat. Sampai sekarang airnya tidak juga surut. Padahal permukaan Bengawan Solo sebenarnya sudah jauh menurun dibandingkan saat Rabu dan Kamis lalu saat banjir datang. Artinya, permukaan sawah itu masih kalah tinggi dengan permukaan air Bengawan,'' terang Bupati Rina.

Dia mengajak seluruh warga agar tetap siaga. Sebab masih ada kemungkinan terjadi bencana longsor. Apalagi hujan diprediksi masih turun dengan curah yang cukup lebat.

''Selain itu, kita harus sudah mulai sadar. Hentikan penebangan hutan, stop penggundulan. Mulailah melakukan penanaman. Termasuk lokasi yang selama ini digunakan untuk pertanian semusim, yang ada di lereng bukit, harus diganti. Kalau menjadi mata pencaharian, ya harus berganti profesi. Pemkab akan membantu memfasilitasi alih profesi itu,'' tandas dia.

Mengenai dana rehabilitasi kerusakan sarana dan prasarana, ia akan meminta bantuan pemerintah pusat dan provinsi. Dana yang dibutuhkan terlalu besar, sehingga tidak mungkin diselesaikan oleh Pemkab Karanganyar.

''Sebagaimana dipesankan presiden, ada bagian yang harus diselesaikan oleh Pemkab, ada yang dengan dana Pemprov Jateng, dan ada yang dari pusat. Tentu kami akan berupaya agar prasana bisa segera dipulihkan, terutama yang menyangkut masyarakat banyak.''

Begu Rusak

Dari lokasi bencana di Ledoksari, pencarian korban selama dua hari tersendat karena dua begu untuk mengeruk tumpukan tanah rusak. Satu alat berat patah as, dan satu lagi rusak bagian pengeruknya. Untuk memperlancar evakuasi, Pemkab mendatangkan lagi satu begu sumbangan PT United Tractor Semarang.

''Sulit kalau tidak menggunakan bantuan alat berat. Sebab kondisi tanah semakin keras. Selain itu, lokasi longsor yang tinggal sekitar 30 % juga terdiri dari bongkahan beton yang hancur saat longsoran terjadi,'' kata Letkol Kav Achmad Mustain, koordinator lapangan.

Dandim Karanganyar itu mengatakan, sebenarnya tinggal tiga korban yang belum berhasil ditemukan. Yaitu Asmopaidi, Ny Suhar, dan Bu Sami.

Tim evakuasi masih terus mencari, lokasinya tinggal di lereng paling ujung timur sekitar 70 meter persegi dan rumah bertingkat yang bagian bawahnya penuh tanah.

''Rumah Asmopaidi di sebelah timur rumah itu. Beberapa kali petugas juga mencium bau busuk, tapi ketika digali, tidak ada mayatnya. Kami bertekad akan terus mencari, dan menemukan,'' kata dia.

Rencana semula, evakuasi akan dilakukan selama seminggu penuh. Jika dalam waktu tujuh hari masih belum ditemukan akan ditambah dua hari lagi. Setelah itu, seluruh kekuatan akan ditarik dan evakuasi diserahkan kepada masyarakat sekitar dipandu oleh Muspika.

Tim evakuasi masih menyisakan sekitar 100 kekuatan. Antara lain dari Kopassus, Kostrad, Banteng Raiders, dan sekarelawan berbagai ormas serta masyarakat. Juga dikerahkan alat las listrik untuk memotong besi beton di rumah-rumah yang terkena longsoran.(an-60)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA