logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 02 Januari 2008 NASIONAL
Line

1.912 Paspor Hijau Jamaah Ditahan


SM/dok
  • Maftuh Basyuni

JAKARTA- Ratusan ribu paspor hijau milik jamaah haji masih ditahan pemerintah Arab Saudi. Sebanyak 1.912 paspor di antaranya milik jamaah haji asal Indonesia. "Paspor itu belum diberikan karena mereka belum membayar kewajiban-kewajiban, baik di Arafah maupun di Mina," ujar Menag Maftuh Basyuni dalam konferensi pers di Terminal I VIP Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, setibanya dari Arab Saudi kemarin.

Menag tiba di Tanah Air bersama Naib Amirul Haj KH Abdullah Syukri Zarkasy (pimpinan Pondok Pesantren Gontor), Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Slamet Ryanto, anggota Amirul Haj Dr H Endang Turmudi (sekjen PBNU), dan H Rosyad Saleh (sekum PP Muhammadiyah).

Dia mengatakan, paspor hijau memang menjadi masalah baik saat jamaah belum berangkat maupun ketika sudah berada di Tanah Suci. "Banyak yang tidak bisa keluar dari airport karena harus menyelesaikan pembayaran-pembayaran lebih dahulu," ujar Amirul Haj Indonesia itu.

Padahal, lanjutnya, UU tidak memperbolehkan seseorang berangkat haji dengan menggunakan paspor hijau. Paspor itu berlaku jika seseorang tengah menjalankan tugas di luar negeri yang kemudian berhaji.

Di Saudi, jamaah pemegang paspor hijau terpaksa ditampung bersama jamaah lain. Akibatnya, mereka menambah kepadatan tenda-tenda jamaah asal Indonesia. "Mudah-mudahan tahun depan bisa lebih tegas lagi mengenai paspor hijau ini."

Sukses

Dia juga mengatakan, penyelenggaraan haji 2007 yang paling sukses dalam 16 tahun terakhir ini. ''Waktu kami diterima menteri haji Arab Saudi, beliau sangat gembira. Tahun ini yang tersukses dalam 16 tahun terakhir,'' tuturnya.

Menurut Menag, kesuksesan juga dirasakan untuk Indonesia. Hal tersebut terlihat dari banyaknya peningkatan atau perbaikan yang diapresiasi para jemaah haji. ''Saat kami kunjungi tenda-tenda, kami mendapat sambutan yang melegakan,'' tambahnya.

Mengenai katering Maftuch menegaskan, kejadian pada penyelenggaraan haji 2006 (kasus kelaparan) tidak terjadi lagi, karena sistemnya diperbaiki dengan sistem prasmanan yang sukses. Depag berencana untuk meneruskan sistem itu.

Ia mengakui, walaupun secara umum penyelenggaraan haji 2007 ini sukses bagi Arab Saudi maupun Indonesia, namun masalah pemondokan tetap menjadi beban karena banyak kekurangannya.

''Pemondokan jamaah kita banyak yang masih jauh jaraknya dari Masjidil Haram. Plafon yang rendah (dibandingkan negara lain-red) memang cukup menyulitkan,'' ujarnya.

Namun, hal tersebut tidak terjadi untuk pemondokan yang di Madinah. Begitu nyamannya pemondokan di Madinah membuat jamaah haji Indonesia ingin berlama-lama di sana. ''Bahkan ada jamaah di Madinah yang minta diperpanjang dua atau tiga hari lagi.''

Dia mengaku, pemerintah sudah melakukan penandatanganan kerja sama dengan pihak pengembang Arab Saudi untuk menangani lebih baik masalah pemondokan di Makkah.

KH Abdullah Syukri Zarkasyi menambahkan, penandatanganan tersebut terkait dengan penyewaan pemondokan selama lima tahun yang akan mulai berlaku pada penyelenggaraan haji 2009.

Sementara itu, jamaah haji Indonesia yang wafat di Tanah Suci hingga 1 Januari 2008 mencapai 318 orang atau setara satu kloter. Di antara yang meninggal di penghujung 2007 adalah Sutimah binti Amat Tanjis (66) kloter SOC-14 dengan nomor paspor 11087301 yang beralamat di Dusun Kaligaleh RT/RW 03/04, Jambu, Ambarawa, Semarang, Jateng yang wafat di bandara di Jeddah pada Minggu (30/12) pukul 19.00 Waktu Arab Saudi (WAS) dan dimakamkan di pemakaman Hawa, Jeddah. (F4, bn,dtc-49)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA