| Sabtu, 29 Desember 2007 | NASIONAL |
Longsoran Baru Terjadi di Jenawi
KARANGANYAR- Upaya penyelamatan di lokasi bencana tanah longsor di Ledoksari belum selesai, longsoran baru di lain tempat terjadi Kamis (27/12) pukul 22.30. Longsoran itu terjadi di Desa Seloromo, Kecamatan Jenawi. Bukit di desa tersebut rekah dan longsor menimpa satu dusun di bawahnya. Tidak ada korban jiwa, tapi empat rumah roboh tertimpa tanah dan 64 keluarga yang tinggal di dusun itu diungsikan ke balai desa setempat. ''Ada sekitar 250 jiwa yang kami evakuasi dari dusun tersebut, karena terlalu riskan jika tetap tinggal di lokasi itu. Sebab sangat mungkin akan terjadi longsor tambahan. Sebab perbukitan di belakang dusun itu juga termasuk titik rawan. Kami tidak ingin kejadian Tawangmangu terjadi di Jenawi,'' kata Kasi Kesiagaan dan Penanggulangan Bencana, Kesbanglinmas Karanganyar, Aji Pratama Heru. Tidak hanya di Jenawi, sekitar 62 keluarga di Desa Gerdu, Karangpandan juga mengungsi ke puskesmas, balai desa, dan masjid di luar desa tersebut. Pasalnya, warga merasakan tanah di sekitar dusun yang baru saja longsor dan menewaskan seorang warga Rabu lalu, bergoyang lagi. ''Warga yang ketakutan terjadi longsor susulan memilih ke luar rumah dan mengungsi. Untuk sementara mereka ditampung di beberapa lokasi di desa sekitar. Paling tidak mereka memerlukan situasi yang aman dan tenang, agar trauma mereka bisa hilang,'' kata Aji Pratama. Lokasi dusun itu memang berada di bawah perbukitan terjal dan sangat dalam. Untuk mencapai dusun itu, warga biasanya berjalan kaki paling tidak sekitar 700 meter. Jalannya berkelok-kelok sangat tajam, kemiringannya hampir 75 derajat. Bukit di atas dusun itu sendiri berada di ketinggian sekitar 150 meter. Korban Ditemukan Sementara itu kemarin, jenazah korban longsoran yang ditemukan di Ledoksari, Tawangmangu sebanyak 9 orang, yakni Muryani (23) dan anaknya Latief (8 bulan), Ny Sutarmi (27) dan anaknya Mahmud (4), Pardi alias Bejo (50), Ny Harsi (32), Anis alias Mujiman (39), Nyami (39), serta Munir (11) yang ditemukan paling akhir, pukul 16.40. Data di Posko Pemkab Karanganyar, yang meninggal 37 orang. Tinggal 11 korban yang diperkirakan masih tertimbun di bawah reruntuhan rumah dan longsoran tanah Bukit Kempong di Ledoksari. Namun data di posko Forum komunikasi Antarmasjid (FKAM) yang berada di bawah lokasi bencana, korban hanya 34 orang, sehingga yang belum ditemukan tinggal delapan orang. ''Untuk sementara, kami berpegang pada data 37 korban. Sebab keterangan yang diberikan warga, tiga orang itu katanya sedang pergi kulakan bunga ke luar kota. Tapi kenyataannya sampai tiga hari ini, tidak pulang ke dusunnya. Padahal mereka tahu dusunnya dalam kondisi terkena bencana. Apa mungkin tidak pulang ?'' kata Bupati Rina Iriani. Dia menambahkan, yang penting evakuasi dilaksnaakan sampai titik akhir dan dinyatakan tidak ada korban lagi. Baru data kongkret korban bisa diperoleh secara jelas, berapa yang meninggal. Karena itu tidak perlu dipertentangkan data Pemkab dengan yang lainnya. Untuk mempercepat evakuasi, tim memperoleh tambahan satu unit begu dari Pangdam IV/Diponegoro Mayjen Agus Suyitno. Bupati Rina masih berharap ada satu tambahan begu lagi, namun saat bantuan alat itu dari Dinas Bina Marga Jateng tiba di Tawangmangu, ternyata terlalu besar ukurannya, sehingga tidak bisa masuk ke lokasi. Akhirnya alat keruk itu dikembalikan. ''Kalau dipaksakan masuk ke lokasi malah berbahaya, sebab jalannya sangat terjal. Ada jembatan kecil di bawah, bisa-bisa ambrol. Yang bisa masuk ke lokasi bencana hanya yang ukuran kecil. Biasanya memang sedikit sulit, karena jarang ada yang punya,'' kata Kadis PU Karanganyar, Didik Joko Bakdono. Namun pihaknya akan mengupayakan ada tambahan satu lagi pada Sabtu ini, sehingga sisa yang tinggal 11 korban diharapkan bisa segera ditemukan. Sebab jika terlalu lama, kondisi mayat sudah semakin rusak, serta keluarga yang menunggui di lokasi bencana juga semakin prihatin. Setelah bencana ini, bukit di sekitar Tawangmangu akan ditanami tanaman keras untuk menahan erosi tanah. Salah satu penyebab longsor, karena perbukitan itu digunakan lahan pertanian dan ditanami sayur mayur. Akibatnya tanaman penahan tidak ada. begitu pula pohon yang bisa menyerap air. ''Dulu, Pemkab pernah menawari bantuan bibit tanaman keras, tapi ditolak warga di Tawangmangu, karena sayur-mayur itu menjadi salah satu mata pencaharian mereka. Kalau sekarang, tidak ada lagi alasan untuk menolak. Kami sudah menyiapkan lebih dari 10.000 bibit tanaman keras,'' kata Rina. Pukul 17.05, evakuasi dihentikan karena hujan lebat. Menurut rencana, Senin (31/12), Presiden SBY akan mengunjungi lokasi bencana. Lokasi Sulit Sementara itu, pencarian korban tanah longsor di Kecamatan Tirtomoyo dan Manyaran, Kabupaten Wonogiri Jumat (28/12) terus dilakukan. Namun, sulitnya medan menyebabkan pancarian sembilan korban dari 17 korban tewas hanya bisa dilakukan dengan alat tradisional. Satu lagi jenazah yakni Sido (55) warga Dusun Kopen, Desa Bero, Kecamatan Manyaran sudah dievakuasi setelah terimpit batu besar. Kepala Kantor Kesbanglinmas, Pemkab Wonogiri Margono SH mengatakan, pukul 10.00 jenazah Sido diangkat. Di lokasi longsoran Kecamatan Tirtomoyo, pencarian dihentikan karena hujan dan tidak ada alat berat. Lokasi longsoran sulit dijangkau alat berat, apalagi jalan sangat sempit dan medannya menanjak. Selain itu banyak jembatan kecil. Jika alat berat dipaksakan sampai ke lokasi kejadian, dikhawatirkan jembatan akan ambrol. Upaya pencarian hanya dilakukan dengan menyemprotkan air agar tanah hanyut. Dengan diangkatnya jenazah Sido, jumlah total korban yang sudah diangkat jadi delapan orang. Sebelumnya adalah jenazah Ernawati (11), Katiyem (65), Marinah (40), Novita (10), Samiyem (80), Tumiyem (40), dan Tumi (40) warga Kecamatan Tirtomoyo. (an,F4,H34,H7, J14,H37,F4-46) |