| Sabtu, 29 Desember 2007 | NASIONAL |
BENCANAMusibah Longsor (3-Habis)Mayat Ibu dan Anak Ditemukan Berpelukan
KASIH ibu sepanjang hayat, kasih mama dibawa mati. Itulah ungkapan yang selama ini selalu dinasehatkan orang tua pada anak. Realitanya memang benar. Dua ibu dan anak korban bencana tanah longsor di Ledoksari, Tawangmangu, ditemukan dalam kondisi berpelukan. Suara Merdeka yang memantau di lokasi kejadian melaporkan, mereka adalah Muryani (23) dan anaknya, Latief yang baru berusia 8 bulan. Keduanya ditemukan tim pencarian korban dalam posisi Muryani menggendong anaknya yang masih bayi itu. Begitu pula Sutarmi (27) dengan anaknya, Mahmud (4) yang juga ditemukan sedang berpelukan di salah satu bagian sudut rumahnya. Agaknya saat kejadian itu, mereka sedang terlelap tidur, sehingga tidak tahu ada longsor. Karena itu, mereka tidak sempat menyelamatkan diri lagi. Yang lebih mengenaskan, keluarga Muryani habis, karena suaminya, Pono Parjoko (26) juga tewas dalam bencana tersebut. Mayatnya ditemukan lebih dahulu, Kamis lalu. Sekeluarga menjadi korban, di saat mereka sedang menikmati kebahagiaan karena dikaruniai putra yang sedang lucu-lucunya. "Sekeluarga sudah habis, karena pasangan muda itu memang baru menikah setahun lalu dan dikaruniai anak berusia 8 bulan itu. Bencana memupus harapan pasangan itu untuk mengarungi kehidupan sampai nanti," kata salah seorang kerabatnya, yang menunggui sejak Rabu lalu. Jenazah Pono sudah dikebumikan di pemakaman umum di atas dusun tersebut, dekat dengan bukit yang longsor. Adapun jenazah Muryani bersama anaknya diminta keluarganya di Dusun Tengklik, Tawangmangu, dimakamkan di pemakaman keluarganya. Isak tangis mewarnai penemuan mayat ibu dan anak itu. Keluarga dari kedua belah pihak juga sudah menunggu dengan harap-harap cemas. Setiap hari, sejak pagi sampai malam, mereka menunggui dengan setia, di rumah salah satu saudaranya di Dusun Ledoksari. Sementara itu, kemarin, di tiga masjid yang menggelar shalat jumat, dilaksanakan shalat gaib, untuk seluruh korban bencana longsor. Jamaah yang juga warga dusun, ditambah tim dari TNI, Polri, serta sukarelawan lainnya dengan khusyuk mengikuti ajakan khatib untuk shalat gaib tersebut. Dalam khutbahnya, khatib Jumat mengajak seluruh warga menerima cobaan berupa bencana itu dengan ikhlas. Isak tangis mewarnai doa di akhir khutbah. Terutama para warga yang ditinggal saudaranya menjadi korban bencana tersebut. ''Kami ikhlas, namun kami mohon agar pencarian seluruh korban dilakukan sampai semua ketemu. Apa pun wujudnya, kami ingin menyaksikan saudara-saudara kami dikubur secara wajar di pekuburan, bukan dikubur oleh tanah longsor seperti ini. Karena itu, kami berharap semoga pencarian korban berjalan cepat,'' kata seorang warga sambil melelehkan air mata. Para keluarga korban pasrah dengan bencana yang terjadi ini. Selanjutnya banyak yang pindah dari dusun tersebut untuk melupakan kejadian yang memilukan itu. Misalnya Suparmi (50) yang kehilangan suami, adik, dan anaknya, akan pindah dan tinggal bersama anaknya yang lain di luar Tawangmangu. ''Kalau tinggal di Ledoksari terus, saya akan selalu ingat kejadian ini. Saya akan ingat terus suami dan anak saya yang tidak bisa menyelamatkan diri dari bencana. Jadi saya akan pindah ke luar Tawangmangu saja, ikut anak saya di kota lain,'' kata dia. Saat kejadian itu, dia masih sempat melarikan diri. Apalagi rumahnya berada di ujung barat sehingga dia dengan cepat bisa keluar rumah saat mendengar suara berdengung keras, bak pesawat jatuh itu. ''Saya tidak peduli lagi dengan apa pun, pokoknya keluar rumah. Tapi justru itu yang membuat saya menyesal, sebab suami dan anak saya masih ada di dalam dan ikut menjadi korban,'' kata dia. Suparmi hanya berharap keluarganya mendapatkan tempat yang layak di sisi Tuhan.(Joko Dwi Hastanto-62) | ||||