| Sabtu, 29 Desember 2007 | NASIONAL |
Penuh, Waduk Bisa Jebol
SOLO- Debet air di Waduk Gajah Mungkur Wonogiri saat ini mencapai titik maksimal, sehingga harus dibuang ke hilir. Jika tetap dipertahankan, waduk bisa jebol dan merendam kota-kota di hilir, termasuk Wonogiri, Sukoharjo dan Solo. Namun untuk mengurangi debet air waduk, pembuangan dilakukan secara perlahan, mulai dari 50 m3 per detik hingga 200 m3 per detik. Kepala Divisi Air dan Sumber Air Perum Jasa Tirta Jateng-Jatim, Suwartono mengatakan batas tinggi muka air (TMA) waduk itu 135,3 m3 per detik. Namun, saat hujan deras di hulu pekan ini, dalam waktu sehari TMA bisa mencapai 136,40 m3 per detik. "Jika ini tidak dikeluarkan, bisa jadi waduk jebol dan volume air sebanyak itu akan merendam Solo dan sekitarnya," tegasnya. Bukan Utama "Jadi tidak sepenuhnya anggapan penyebab utama banjir di Solo adalah akibat buangan air dari waduk," tegasnya. Debet pembuangan itu hanya 16% dari daya tampung Bengawan Solo. Suwartono menambahkan luas Waduk Wonogiri 90 km2. Debet air yang dibuang ke Bengawan Solo hanya sekitar 200 m3 per detik. Sementara daya tampung sungai itu 1.200 m3 per detik. Dengan data itu, kata dia, penyebab meluapnya Bengawan Solo bukan akibat buangan air waduk tetapi debet dari aliran anak sungai-sungai kecil yang tidak terpantau dan tidak masuk ke Waduk Wonogiri. "Waduk itu menampung aliran dari enam sungai besar di sekitarnya, yakni Sungai Tirtomoyo, Walikan, Wingko, Keduang, Kemon, serta Solo Hulu. Waduk mengeluarkan air sebanyak 200 m3 per detik itu melihat situasi, tidak setiap hari," jelasnya. Dia menegaskan pihaknya belum bisa memastikan apakah situasi TMA mencapai 136,40 m3 per detik akan berjalan lama. Padahal, hari hari biasa, untuk mengumpulkan volume air sejumlah itu butuh waktu 4 bulan. "Ini kejadian langka, dan baru kali pertama terjadi setelah tahun 1966. Untuk itu, kami berharap masyarakat waspada," ungkapnya. (H46,bt-77) |