| Sabtu, 29 Desember 2007 | NASIONAL |
Solo-Surabaya LumpuhNGAWI- Jalur darat lintas Selatan Solo-Surabaya, sejak Kamis hingga semalam, masih lumpuh total akibat jalan raya di wilayah Ngawi tergenang air di beberapa titik. Sebenarnya jalur dari arah Sragen ke Mantingan yang sebelumnya terendam banjir, Jumat (28/12), sudah bisa dilewati kembali pukul 15.00. Namun truk dan bus dari arah Sragen itu tidak bisa memasuki Kota Ngawi, tertahan banjir di Watualang. Sedangkan dari arah Ngawi, jalan putus total karena terendam banjir. Putusnya jalur perbatasan provinsi Jateng-Jatim itu akibat meluapnya Bengawan Solo dan Kali Sawur serta beberapa anak sungai, sehingga menggenangi badan jalan di Dukuh Pondok, Jatisumo, Sambungmacan, Sragen dan Mantingan, Ngawi. Genangan banjir juga terjadi di depan Kecamatan Mantingan, timur Polsek Mantingan, jalan raya Watualang dan Ngale, Ngawi. "Genangan air setinggi paha mengakibatkan arus lalu lintas Sragen-Ngawi atau sebaliknya, lumpuh total," tutur Kapolres AKBP Dra Sri Handayani dan Kasat Lantas AKP Khoiron El Altiq, Jumat (28/12). Hingga pukul 21.00 semalam, jalur Sragen-Ngawi masih terputus. Satlantas Sragen menempatkan petugas di pertigaan Tunjungan, Sambungmacan untuk memberi petunjuk jalur alternatif bagi pengemudi. Terputusnya jalan itu mengakibatkan ratusan bus rute Surbaya-Madiun-Solo-Yogyakarta tidak bisa memasuki wilayah Jawa Tengah. Ratusan bus asal Jatim hanya sampai Ngawi. Bus jurusan Ngawi-Sragen-Solo-Yogyakarta ditiadakan sementara. Dampak tidak masuknya ratusan bus itu mengakibatkan terminal Pilangsari, Sragen dan Terminal Tirtonadi Solo, sepi. Jalur Alternatif Namun kendaraan menuju Madiun atau Surabaya bisa memilih jalur alternatif. Dari arah Sragen, setibanya di pertigaan Tunjungan belok ke arah kanan melewati Gondang-Sine-Ngrambe-Jogorogo- Magetan baru masuk Madiun. "Rute alternatif itu tidak mungkin kebanjiran, karena di kaki Gunung Lawu," tutur Bripda Didik Eko, anggota Satlantas Sragen. Namun jalan antarkecamatan kelas IIIc ini sempit hanya bisa digunakan mobil pribadi. "Lewat jalur biasa Sragen-Ngawi hanya 51 km, sedangkan kalau lewat jalur alternatif jaraknya sampai 80 km," tutur Bripka Suhardi anggota Satlantas yang bertugas di pertigaan Tunjungan, bedoro, Sambungmacan. Ratusan truk tertahan di jalan raya Sragen-Ngawi, tepatnya di Sambungmacan. Awak truk beristirahat di tepi jalan sambil menunggu air surut. "Saya sudah menunggu air surut sejak Kamis pukul 22.00," tutur Mukmin, pengemudi truk tronton yang memuat pipa. Wakil Dansat Penanggulangan Banjir Sragen Kasdim Mayor Sutrisno memaparkan, korban banjir tercatat sudah lima orang. Korban terakhir diduga meninggal adalah Parto (52) warga Dukuh Manisrejo, Desa Patihan, Sidoharjo. "Korban hanyut terseret arus air, namun belum berhasil ditemukan," tutur Mayor Sutrisno. Empat korban tewas lainnya yang sudah dikuburkan Purwaningsih (16) warga Brangkal, Sragen Kota, Kasiyem (65) warga Newung, Sukodono, Agus Setyawan (11) warga Bibis RT 24 Desa Hadiluwih, dan Kristanto (20) warga Jambangan, Sidoharjo, Sragen.(nin-77) |