| Sabtu, 29 Desember 2007 | NASIONAL |
Alutsista TNI AL Diutamakan
JAKARTA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara kemarin secara resmi melantik Jendral TNI Djoko Santoso sebagai Panglima TNI menggantikan Marsekal Djoko Suyanto. Selain itu dilantik juga Letjen TNI Agustadi Sasongko Pramono sebagai KSAD baru menggantikan Djoko Santoso dan KSAU Marsekal Madya TNI Subandrio menggantikan Marsekal TNI Herman Prayitno. Djoko Suyanto dan Herman Prayitno selanjutnya akan memasuki masa pensiun. Hadir pada acara tersebut Wakil Presiden Jusuf Kalla, sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu, Ketua DPR Agung Laksono, Ketua MPR Hidayat Nurwahid, Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie, Jaksa Agung Hendarman Supandji, Kapolri Jenderal Sutanto, Ketua Mahkamah Agung Bagir Manan, dan sejumlah pejabat TNI. Sejumlah program menjadi sorotan Djoko Santoso dalam pembangunan TNI di masa depan. "Visi yang saya tetapkan adalah TNI yang solid profesional, andal, berwawasan kebangsaan, dicintai dan mencintai rakyat," kata Djoko di Istana Negara. Pembangunan alat utama sistem persenjataan (Alutsista), menurut dia, adalah bagian penting dalam pembangunan kekuatan TNI. Dia menjelaskan, pengadaan alutsista sudah tersusun dalam rencana jangka panjang 2005-2025. "Prioritas pertama adalah pembangunan alutsista Angkatan Laut, lalu Angkatan Udara, dan ketiga Angkatan Darat," jelasnya. Mengenai isu kesejahteraan prajurit, dia menyerahkan pada kebijakan pemerintah. "Yang dipunyai TNI tinggal koperasi, maka mengoptimalkan koperasi itu untuk kesejahteraan, sedangkan yang lain-lain akan dipikirkan oleh negara," kata Djoko. Djoko Santoso yang lahir di Solo 8 September 1952 adalah alumnus Akademi Militer (Akmil) 1975. Pernah menjabat sebagai Panglima Kodam XVI/Pattimura sekaligus Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan (Pangkoopslihkam) di Maluku periode 2002-2003. Kemudian menjadi Panglima Kodam Jaya pada Mei-Oktober 2003. Djoko dipercaya untuk menjabat sebagai Wakil KSAD sejak 2003 hingga 2005, selanjutnya diangkat menjadi KSAD menggantikan Jenderal Ryamizard Ryacudu. Letnan Jenderal Agustadi Sasongko Purnomo yang lahir di Surabaya 6 Agustus 1952 merupakan lulusan terbaik Akmil 1974 dan memperoleh Bintang Adhi Makayasa. Agustadi pernah menjabat Komandan Kodim 0106/Aceh Tengah, Wakil Asisten Operasi Kasdam I/Bukit Barisan, Kasdam XVII/Trikora, Panglima Divisi II/Kostrad, Panglima Kodam XVI/Pattimura dan Pangdam Jaya. Selanjutnya ditarik menjadi Sekretaris Menko Polhukkam. Dia pernah mengikuti Operasi Seroja di Timtim pada 1975, Operasi Pamungkas di Timor-Timur pada 1978, Operasi Kikis (Timtim) pada 1981, Operasi Kilat (Timtim) pada 1983, Operasi Jaring Merah di NAD (1991-1994), dan Operasi Nuri di Irian Jaya pada 2001. Sementara itu, Marsekal Madya Subandrio kelahiran Bandung, 22 Maret 1953 adalah lulusan Akademi Angkatan Udara (AAU) 1975. Dia pernah menjabat sebagai Komandan Skadron 7 Pangkalan Udara (Lanud) Suryadharma Kalijati, Subang. Selanjutnya dipercaya sebagai Komandan Pangkalan Udara (Lanud) Atang Sandjaya Bogor, Direktur Pendidikan Seskoau, Wakil Komandan Seskoau, Panglima Komando Operasi Angkatan Udara (Koopsau) II dan Wakil KSAU. Terpisah, Agustadi diwanti-wanti Wakil Ketua DPR Soetardjo Soerjogoeritno. Mbah Tardjo berpesan agar dia berani menjaga kedaulatan NKRI. "Jangan sampai kita dihina-hina lagi oleh Malaysia. Pulau-pulau itu harus dijaga. Jangan dijual orang-orang sembarangan," kata dia, di Gedung DPR, Senayan, kemarin. (F4,dtc-49,62) | ||||