| Sabtu, 29 Desember 2007 | NASIONAL |
16 Desa Terendam Banjir
KUDUS- Ratusan warga dari sejumlah desa di Kecamatan Undaan, Kudus yang rumahnya diterjang banjir akibat meluapnya Sungai Wulan memilih bertahan di tanggul kanan sungai itu. Mereka menjaga ternak atau harta bendanya yang ditempatkan di lokasi tersebut. Apalagi kondisi banjir di Kota Kretek itu semakin memprihatinkan. Di Undaan yang berpenduduk 65.685 jiwa, misalnya, semua desa (16 desa) terendam. Genangan di Dukuh Setrokalangan, Desa Karangturi, Kecamatan Kaliwungu juga makin tinggi. Jumlah pengungsi sampai pukul 17.30 kemarin dilaporkan 7.552 jiwa, semuanya warga Kecamatan Undaan. Itu belum termasuk warga yang mengungsi hingga di daerah Prawoto, Kecamatan Sukolilo, Pati berjumlah 800 orang. Arus evakuasi korban banjir ke beberapa tempat penampungan sampai petang kemarin masih terus berjalan. Namun mayoritas warga Undaan memilih bertahan di bagian atap bangunan rumah, atau mendirikan tenda darurat di tanggul kanan sungai. Warga mendirikan tenda-tenda darurat di tanggul beralas tikar, atau bahkan tidak beralas sama sekali. Sementara aneka hewan ternak dan harta benda mereka seperti motor atau mobil diparkir di dekatnya. Beberapa pegawai kecamatan memilih bertahan di lantai II akibat genangan setinggi satu setengah meter di bangunan tersebut. Selain itu, personel Polsek dan Koramil Undaan melakukan hal serupa. Di tengah kepungan banjir setinggi tiga meter, mereka memilih berdiam di atap kantor. Untuk makan nasi sebungkus pun cukup sulit didapat. Sejumlah pengungsi mengaku hanya mengharapkan bantuan dari dermawan saja. Sementara itu, Bupati Kudus Tamzil mengatakan pemkab menyiapkan tempat penampungan bagi para pengungsi akibat banjir di Kecamatan Undaan, Kudu, yakni di Gedung Olahraga (GOR), sekolahan dan balai desa berserta makanan, air bersih dan pengobatan. Di sela-sela persiapan penganan korban banjir, Bupati mengatakan bencana ini lebih berat dari tahun 1993. Namun pihaknya sudah mengantisipasinya. Pemkab juga sudah mendapat bantuan dari Bulog 30 ton beras untuk para pengungsi. Sedangkan dana, dia akan mengambilkan dari dana tak terduga dan dana bantuan bencana. Makin Melebar Banjir di kawasan tersebut hingga kemarin setidaknya sudah merendam ribuan rumah. Tak hanya itu, tercatat 32 bangunan SD dan MI juga tergenang. Termasuk satu kantor Puskesmas dan empat pasar desa. ''Ketinggiannya sekitar satu hingga tiga meter,'' kata Kades Undaan Kidul, Hadi Sucahyono. Tanggul yang jebol di depan kantor kecamatan, Kamis lalu (27/12), semakin melebar. Akibatnya, sebuah rumah yang persis berada di dekat tanggul yang bocor tersebut nyaris roboh. ''Tanggul yang bobol di tempat tersebut langsung mengarah ke wilayah Desa Undaan Kidul,'' katanya. Koordinator Federasi Perkumpulan Petani Pengguna Air Sistem Kedungombo H Kaspono mengatakan debit Sungai Wulan yang menyebabkan banjir di Kecamatan Undaan sudah mulai turun. Jika sehari sebelumnya tercatat 1.100 kubik per detik, kemarin debitnya mencapai 950 kubik per detik. ''Debit dapat saja naik, tergantung kondisi di bagian hulu,'' jelasnya. Kasatlantas AKP Sri Wigiyanti mengatakan, mulai Kamis (27/12) jalan raya yang menghubungkan Kudus-Purwodadi masih tertutup untuk angkutan umum, karena debit air masih tinggi. Selain itu, penutupan jalan itu juga untuk memfokuskan arus lalu lintas bantuan. "Mulai Ngemplak, jalan ditutup untuk kendaraan umum. Kebijakan itu sekaligus untuk memperlancar arus lalu lintas bantuan bencana," katanya. Banjir juga melanda Kecamatan Kaliwungu. Satu desa yakni Setrokalangan terisolasi. Satu-satunya jalan menuju desa itu terendam air hingga 1 meter. Sekitar 300 penduduk desa itu diungsikan ke gudang di dekat lokasi. Sebagain besar dari mereka adalah perempuan dan anak-anak. Dapur Induk Sementara itu jumlah pengungsi yang meninggalkan kawasan Kecamatan Undaan terus bertambah. Data terakhir dari Satkorlak jumlah pengungsi sudah mencapai 7.552 orang. Saat ini mereka ditempatkan di 24 titik penampungan, tersebar di Kecamatan Jati dan Kota, Kudus. Penampunngan terbesar adalah kawasan GOR Wergu Wetan, mencapai 5.000 orang. Arus pengungsi begitu cepat sehingga para koordinator penampungan kewalahan, terutama untuk penyediaan makanan. Di kawasan GOR Wergu Wetan saat ini hanya ada dua dapur umum yang dikelola Karang Taruna setempat dan PMI. Keterbatasan personel membuat pelayanan sedikit terlambat. Menanggapi belum maksimalnya pelayanan dapur umum, Komandan Satgas Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi, Eko DJ mengatakan akan mendirikan dapur umum induk di Kodim. "Kita akan dibantu personel Kodim. Kita akan mendatangkan bantuan alat memasak, dari Kodam IV Diponegoro, dan Bakorlim," katanya. Dengan adanya dapur induk dan tambahan personel, diharapkan pasokan makanan pengungsi bisa maksimal. "Besok pagi kemungkinan dapur induk sudah siap," tegasnya. Ketua DPRD Jateng Murdoko saat mengunjungi korban banjir di Kudus mendatangi tempat penampungan di GOR Wergu, membagikan 100 dus mi instan, 5 ton beras. Saat di jalan lingkar Kudus menuju Jepara, secara pribadi membagi-bagikan uang Rp 50.000 kepada korban kebanjiran, dengan total bantuan Rp 10 juta. (H8,H50, H35,A14,H7, J14,H37-77) | ||||