| Jumat, 28 Desember 2007 | NASIONAL |
BENCANAMusibah Longsor (2)Terkubur bersama Jenmanii Rp 4 M
MATA Hamidah menatap kosong longsoran tanah yang ada di depannya. Dua hari sejak longsor terjadi sekitar pukul 04.00, dia tidak mau beranjak dari tempat duduknya, di sebuah rumah warga yang masih utuh, dekat lokasi bencana, di Dusun Ledoksari, Tawangmangu, Karanganyar. Mungkin saja Midah, sapaan gadis berusia 20 tahun itu masih berharap ibunya, Sarmi (60), bisa ditemukan dalam keadaan hidup, meski sudah tertimbun tanah selama dua hari. Air matanya terus menerus meleleh membasahi pipinya, sampai menetes ke baju dan kerudungnya. Dia tidak mau makan dan minum, meski sudah dicoba disuapi oleh kerabatnya dan tetangga kanan-kirinya. Tak setetes air minum dan sebulir nasi masuk ke mulutnya. Dia hanya menangis sambil menyaksikan para warga yang melakukan pencarian korban. Akhirnya, sekitar pukul 14.00, gadis itu pun ambruk, pingsan. Oleh petugas SAR yang siap di lokasi bencana, dia langsung dinaikkan ke tandu dan dibawa ke posko kesehatan. Dia dibawa empat petugas, diiringi isak tangis kerabatnya. ''Oalah nduk, ikhlasne ya. Ayo ndonga wae, muga-muga ibumu ndang isa ketemu. Wis, aja sedih, ora mung kowe dhewe sing kena alangan. Wong sak desa padha wae sedhih. Mula aja diterus-terusne,'' kata salah seorang kerabatnya. Namun yang dipesan tidak bisa menjawab, karena pingsan. Itu baru Midah. Masih ada puluhan warga lainnya yang hanya bisa menangis sedih saat menyaksikan tim melakukan evakuasi, ataupun saat menyaksikan mayat yang berhasil ditemukan dan dirawat di masjid untuk dikafani dan dikubur. Mereka tak bisa menahan kesedihannya. Termasuk Agus, lelaki 40 tahun yang harus kehilangan dua anak dan istrinya. Anaknya, Anggi (10) dan Santi (8) serta istrinya, Mugiyem, sudah ditemukan kemarin. Sore harinya langsung dimakamkan di pemakaman desa di atas lokasi bencana. Agus tidak kuasa menahan kesedihannya. Namun air matanya sudah habis ditumpahkan pada hari pertama terjadinya longsor. Dia sempat meraung-raung melihat tumpukan tanah meratakan rumahnya di RT 3, Dusun Ledoksari, Tawangmangu itu. Dia tidak punya daya lagi saat menyaksikan ketiga jenazah dibersihkan dan dikafani, serta dishalatkan di masjid. Dia dipapah tetangganya untuk bisa menyaksikan detik terakhir jenazah keluarganya itu. Agus selamat karena usai kerja bakti malam itu, mengobrol bersama tetangganya di lain RT. Di rumah, hanya tinggal istri dan dua anaknya yang tidur pulas. ''Ternyata, itu hari terakhir saya bertemu mereka, sebab longsor merenggut mereka, tanpa saya bisa menolongnya,'' kata dia. Saat longsor kedua terjadi, dia hanya bisa menyaksikan bongkahan tanah patahan Bukit Kempong yang meratakan 13 rumah di bawahnya, termasuk tempat tinggalnya. Dia langsung berlari dan meraung-raung meratapi keluarganya, namun apa daya semuanya sudah terjadi. Dusun Jenmanii Yang pasti, duka menyeruak di dusun jenmanii itu. Dusun yang dihuni 180 KK tersebut hampir semuanya bermatapencaharian sebagai pedagang bunga. Karena itu ketika demam anthurium jenmanii melanda Karanganyar, kampung itu termasuk yang mendapatkan berkah. Sebab tidak ada rumah yang tak memiliki green house. Besar atau kecil, semuanya punya rumah-rumahan khusus yang ditutup kain paranet hitam, ditutup plastik. Isinya jenmanii berbagai jenis dan ukuran. Ada yang sudah induk, ada yang baru bibit. ''Kalau ditotal, ada ratusan anthurium yang ikut terkubur di lokasi bencana itu. Bahkan, ada satu anthurium berharga Rp 400 juta, yang sebenarnya sudah disepakati akan dibeli salah seorang pengusaha dari Jakarta. Tapi sayang, nasib berkata lain. Jenmanii itu sekarang rata dengan tanah, ikut terkubur bersama pemiliknya,'' kata salah seorang warga. Total tanaman hias mahal yang dimiliki keluarga yang terkubur itu mencapai Rp 4 miliar. Tentu itu dinilai dari harga pasaran tanaman hias mahal, meski sekarang harganya sedang turun. Tuhan rupanya sedang menguji warga dusun yang semula hidup makmur karena terkena imbas jenmanii itu. (Joko Dwi Hastanto-62) | ||||