logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 27 Desember 2007 NASIONAL
Line

Dari Tur Java Promo 14 Daerah (2-Habis)

Banyak PR untuk Pariwisata Jateng dan DIY

KETIKA ditanya objek wisata di Jateng dan DIY mana saja yang dikenal, Leli (45), guru SMP Negeri 7 Bandung menjawab dengan cepat dan lancar. Namun ironisnya yang dia sebut hanya nama-nama tempat wisata konvensional seperti Candi Borobudur, Prambanan, Keraton Surakarta, Pura Mangkunegaran, dan Keraton Yogyakarta. Sementara yang lain? ''Kurang tahu ya,'' begitu katanya.

Hanya itu memang yang dia kenal. Di luar tempat-tempat wisata konvensional, dia nyaris tak memiliki referensi. Apalagi tempat wisata di daerah-daerah yang tak memiliki ikon wisata monumental seperti yang telah dikemukakan tersebut. Jangankan kenal, mendengar pun jarang kalau tidak boleh dikatakan belum pernah.

Kebetulan sekali, Leli adalah peserta travel dialog yang baru-baru ini diselenggarakan Java Promo di aula SMP Negeri 7 Bandung. Maka pernyataan itu tentu sangatlah menarik dan patut untuk dijadikan catatan bagi Java Promo. Apalagi jika mengingat lembaga itu dibentuk untuk melakukan promosi pariwisata 14 daerah di wilayah Jateng dan DIY.

Benar, perwakilan daerah di luar Magelang, Klaten, dan Yogyakarta, tentunya akan merasa prihatin mendengar ketidaktahuan guru itu. Padahal Wonosobo memiliki Dieng, Temanggung punya Jumprit, dan Karanganyar ada Tawangmangu. Belum lagi dengan daerah-daerah lain yang juga tergabung dalam Java Promo seperti Kebumen, Purworejo, Boyolali, Kota Magelang, Bantul, Kulonprogo, Sleman dan Gunung Kidul. Betapa pun daerah-daerah tersebut masing-masing juga memiliki wisata unggulan.

Meski terasa menyesakkan, namun dari sana muncul pemaknaan betapa dunia pariwisata di wilayah Jateng dan DIY memang masih banyak ''PR'' (pekerjaan rumah). Sekaligus menjadi beban dari Java Promo yang mau tidak mau harus dicarikan solusinya. Dan travel dialog yang digelar hampir sepekan adalah salah satu caranya. ''Kami berharap, dari travel dialog ini tempat wisata yang belum dikenal bisa diperkenalkan,'' ujar Sutrisna, ketua Java Promo yang juga Sekda Pemerintah Kabupaten Sleman.

Butuh Kecerdasan

Meski pernyataan dari Leli tersebut belum tentu mewakili secara umum, menurut Winarno Sudjas, direktur Usaha Pariwisata Direktorat Jenderal Pengembangan Destinasi Pariwisata Depbudpar RI, dunia wisata di Jateng dan DIY memang masih memerlukan banyak sentuhan. ''Butuh kecerdasan untuk membuat wisata yang cerdas,'' kata dia.

Lalu bagaimana dengan tempat-tempat wisata di Jateng? Secara aset menurut dia memang sudah cukup memenuhi. Hanya persoalannya kemudian bagaimana membuat daya tarik itu bisa lebih menjadi magnet untuk menarik wisatawan. ''Inilah yang saya maksud butuh kecerdasan itu,'' katanya.

Dia kemudian memberikan gambaran tentang objek wisata yang berhubungan dengan dunia kuliner. Menurutnya itu akan menjadi lebih menarik jika wisatawan tak sekadar datang dan membeli. Namun juga turut dilibatkan, bahkan termasuk dalam proses pembuatannya. Kalau objek wisatanya tak berhubungan dengan dunia kuliner? Metode tersebut masih bisa diterapkan untuk objek yang berbeda.

Asal ada upaya penggalian kearifan lokal, baik itu menyangkut dengan dunia pertanian maupun budaya masyarakat, wisata yang cerdas itu sangat mungkin dimunculkan sekaligus sebagai unggulannya.

Tentu bukan hanya persoalan itu yang mengemuka. Terlepas dari persoalan yang muncul, ada banyak ''PR'' memang bagi daerah-daerah yang tergabung dalam Java Promo sepulang dari travel dialog.

Sekaligus mengilhami ide tentang agenda-agenda tertentu yang diharapkan bisa membuat objek wisata bisa lebih hidup.

Ya, bukan sekadar melihat artefak, pantai, air terjun atau objek yang lain. Namun bagaimana dari hal-hal yang bersifat kebendaan itu kemudian memunculkan kehidupan yang tidak hanya di dalam angan, namun bisa diaktivitaskan. (Wisnu Kisawa-62)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA