| Kamis, 27 Desember 2007 | NASIONAL |
PERJALANAN Jembatan Budaya KBRI di Phnom Penh (2-Habis)"Rumaket" untuk Menuju "Rumasuk"
KETIKA Memorandum of Understanding (MoU) Sister Temple Province antara Siem Reap dan Jawa Tengah ditandatangani di Magelang bulan lalu, telah serta merta mewujudkah sebuah hubungan kepentingan antara Indonesia dan Kamboja? Poin-poin yang menggambarkan kesadaran untuk mengembangkan kerja sama peningkatan kunjungan wisata ke Borobudur dan Angkor Wat memang telah disepakati, namun lebih dari semuanya adalah bagaimana seharusnya memperlakukan MoU itu sebagai sekadar "pintu". Apakah kita akan memasuki, membiarkannya terbuka, atau justru menutupnya, itulah soalnya. Sebuah MoU jelas hanya dokumen, yang untuk "menghidupkannya" butuh rencana aksi. Basis pemikiran itu harus ditopang oleh komitmen. Bahwa delegasi bisnis Kamboja yang berkunjung ke sejumlah kota di Jateng terpesona oleh keanggunan Borobudur, itu diakui oleh Eko Indiarto dari KBRI di Phnom Penh yang menyertai mereka. Tetapi bagaimana mengarahkan agar keterpesonaan itu memikat secara lebih luas dengan indikator kenaikan angka kunjungan ke Borobudur dan Jateng, jelas dibutuhkan relasi-relasi pengikat, juga aksi-aksi yang dimodali sikap dan infrastruktur pendukung. MoU hanya memfasilitasi, dan seperti kata iklan sebuah produk pemanjaan aroma tubuh, "Selanjutnya terserah Anda..." Sama-sama disadari, Angkor Wat dan Borobudur sebagai situs warisan dunia merupakan aset wisata terpenting bagi kedua negara. Realitasnya, pada tahun ini, kedua situs tersebut tidak masuk dalam The Seven Wonder edisi terbaru dalam polling kurator museum Bernard Weber. Namun bukan hanya karena realitas itu kerja sama kedua provinsi dituang dalam formalitas. Yang lebih penting, kerja sama pengembangan pariwisata menjadi bagian dari rencana makro membuka peluang di bidang-bidang yang lain, terutama untuk meraih kemaslahatan ekonomi. Kolaborasi Potensi Nah, komposisi musik dan tari "Rumaket" garapan Haris Nathanael pada Malam Budaya peresmian Pusat Budaya Indonesia (Pusbudi) Nusantara di Chakdomouk Theatre Phnom Penh, pekan lalu, kira-kira bisa mewakili penggambaran proses ke-rumaket-an untuk menuju ke rumasuk, penghayatan, selanjutnya implementasi-implementasi. Haris berpijak pada keyakinan, sebuah kolaborasi potensi etnika dan sumberdaya manusia bisa melahirkan harmoni bunyi yang tidak merugikan salah satu elemen. Dari gamelan Jawa, angklung, kolintang, alat musik tradisional Kamboja, beduk, dan drum, Haris mengangkat rasa Nusantara sekaligus rasa Khmer yang kuat dalam "bunyi" khas Indochina-nya. "Saya tidak akan pernah menganggap kurang salah satu falsafah musiknya, sehingga boleh didominasi yang lain. Seminggu berkunjung dan berdialog ke sanggar-sanggar musik dan tari, saya maksimalkan untuk meminta izin menyerap apa yang bisa dipadukan dalam sebuah kolaborasi," kata dosen ISI Yogyakarta itu. Memang, hubungan kepentingan kedua negara tidak bergantung sepenuhnya pada bagaimana kita "menawarkan" atau "menjual" kesenian, karena budaya hakikatnya merupakan jembatan yang secara fleksibel bisa diserap maknanya secara universal. Ketika ke-rumaket-an itu tergarap, barulah dengan luwes pula masuk kepentingan-kepentingan kerja sama ekonomi sebagai "target" lanjutannya. Disadari benar oleh Duta Besar RI untuk Kerajaan Kamboja, Nurrachman Oerip, betapa pun besar kebanggaan kita sebagai bangsa, tetapi meyakinkan negara kecil yang berpenduduk sekitar 12 juta jiwa itu untuk percaya dalam berbagai hubungan kepentingan pun, sesungguhnya tidak mudah. "Walaupun mereka baru pulih dari trauma perang saudara pada pertengahan 1980-an, tetapi kebangkitan dengan kesungguhan rekonsiliasinya memang luar biasa. Pertumbuhan ekonomi Kamboja sangat bagus, di atas 9 persen setahun. Kita mau membantu duit, kan nggak punya, Ya kita pelihara dulu kepercayaan yang pernah kita bangun ketika ikut berperan menyatukan faksi-faksi yang bertikai di sini," katanya. Di era Menteri Luar Negeri Ali Alatas, prakarsa jalan damai Kamboja lewat Jakarta Informal Meeting (JIM) I dan II pada akhir 1980-an secara luas diakui menjadi produk sukses diplomasi Indonesia. Ketika negeri itu telah bangkit secara politik dan ekonomi, medan pertarungan kepentingan ekonomi pun berlangsung seru. Malaysia, Singapura, Vietnam, dan Thailand sangat disegani dengan investasinya di sini. Di tengah keterbatasan untuk memberi "iming-iming" ekonomis, jalan budaya pun dipilih Nurrachman lewat berbagai aksi, terutama dengan mempersentuhkan nuansa-nuansa kesamaan antarbudaya. Pria yang selalu bersemangat bicara soal nasionalisme dan mentalitas bangsa itu, dari kantor KBRI di Camer Norodom Boulevard Phnom Penh, mengajak "sibuk" para stafnya menggodok langkah-langkah pe-rumaket-an pemahaman pentingnya hubungan kepentingan kedua negara. Pusbudi Nusantara merupakan salah satu pintu yang kini secara formal dibuka untuk orang-orang Kamboja rumasuk memahami budaya Indonesia. Haris Nathanael mengakui, orang-orang sanggar seni di Phnom Penh yang ditemui dan diajaknya berkolaborasi memperlihatkan kesungguhan yang mempercepat adaptasi. "Itu contoh mentalitas belajar yang mesti kita serap," katanya. Nurrachman melihat betapa strategis missi budaya itu, yang dipercayainya sebagai bagian dari "ilmu manungsa", atau mengedepankan sikap nguwongke, karena budaya membawa alur pikir untuk bicara dari hati ke hati, tidak selalu soal cost and benefit. "Itu sarana paling kondusif yang di mana pun pasti 'laku' dengan dasar berpikir waras," tutur pria kelahiran Jakarta tahun 1945 itu. Setelah memimpin KBRI di Phnom Penh sejak 2004, dia bakal mewariskan jalan bagi penerusnya untuk menapak dengan lebih mengarah ke berbagai implementasi, setelah pintu diketuk dan dibukakan. Pesan yang selalu disampaikan kepada para stafnya, jangan sampai kita menjadi bangsa yang tidak tahu bahwa sebenarnya kita tidak tahu apa-apa. "Kamboja itu tidak ada seperempatnya Indonesia, tetapi ada potensi-potensi yang seharusnya dimanfaatkan untuk kemaslahatan bangsa kita juga," ungkapnya. Maka, komposisi gamelan Jawa garapan Ludiro, "Ojo Dumeh", sebagai pembuka, secara tepat mengingatkan sikap "jangan mentang-mentang". Jangan merasa lebih besar, lebih maju, lebih dulu berkembang, dan sebagainya. Menjadi lebih mengena, ketika celetukan-celetukan "Ojo dumeh!" disampaikan Akiko, perempuan Jepang yang masuk dalam komposisi gamelan Ludiro. Pesan terpenting dari komposisi puncak di Chakdomouk Theatre itu sangatlah gamblang: produk dari suatu kerja sama dapat di-setting untuk menghasilkan harmoni tanpa kehilangan jatidirinya, baik aroma Jawanya, bunyi dinamis Balinya, tidak meraba-raba di mana rasa Nusantaranya, juga tidak sampai menindih irama Khmernya. Harmoni budaya ke harmoni kemaslahatan. Dari rumaket ke rumasuk. Dari rumasuk ke implementasi!(77) | ||||