logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 27 Desember 2007 NASIONAL
Line

Musibah Longsor (1)

Serumah 8 Orang Meninggal


SM/Yusuf Gunawan MENANGIS: Seorang warga menangis di dalam mobil setelah mengetahui anggota keluarganya menjadi korban bencana tanah longsor.(57)

SELALU ada berkah di balik musibah. Beruntung listrik padam, saat bencana menimpa warga Ledoksari, Kecamatan Tawangmangu. Meski korban tewas 37 orang, dan baru bisa ditemukan 5 orang, namun mereka sempat mengatakan "untung".

Apa pasal? Yusep, salah seorang warga bercerita, seandainya malam itu listrik tidak padam, bisa jadi korban tewas karena longsoran tanah itu bisa lebih dari 100 orang. "Sebab malam itu, ada lebih dari 150 warga yang bekerja bakti di bawah Bukit Kepong itu, setelah terjadi longsoran pertama pada tengah malam," kata dia.

Longsor memang terjadi dua kali. Yang pertama tengah malam sekitar pukul 00.30. Namun longsoran tidak membawa korban dan tidak menimpa rumah warga. Hanya saluran air yang rusak sehingga air masuk ke dusun. Warga malam itu juga membetulkan dan membendung saluran air itu.

"Lha, kok, dua jam kemudian, listrik mati. Warga kemudian pulang ke rumah masing-masing. Sebagian masih makan-makan menghabiskan malam di rumah Atmopaidi. Terutama yang masih keluarga dekat dengan mereka. Ternyata, longsor kedua jauh lebih hebat dan mengubur 12 rumah di bawahnya," kata dia.

Satu Rumah

Bencana tanah longsor terjadi wilayah RT 2 RW 4 Dukuh Kewes Desa Jumantoro, Kecamatan Jumapolo, Karanganyar, dini hari sangat tragis. Delapan orang dalam satu rumah, tewas diterjang longsoran dan baru diketahui sekitar pukul 04.30.

Mereka adalah suami-istri, Wiryodiyono (60) dan Mikem (55), serta enam orang cucunya yang ditinggal orang tua merantau di Jakarta. Empat anak, yakni Yati (13 tahun, kelas 2 SMP Karangsari 2 Jatiyoso), Ariyanto (11, kelas 6 SD), Wahyu (5) dan Tia (2) merupakan anak pasangan Siswanto-Warti. Dua lainnya, Atun (kelas 2 SMP) dan Mita (kelas 2 SD) anak Warso-Narsi.

Sebenarnya, dalam keseharian Atun dan Mita tinggal di rumah orang tuanya, berdampingan dengan rumah kakek-neneknya. Namun, Selasa (25/12) malam mereka bergabung dengan saudara-saudara sepupunya dan menginap di rumah kakeknya.

"Atun dan Mita bermalam karena mereka ingin ikut menunggui Yati dan Tia yang sedang masuk angin," ujar salah seorang tetangga korban, Sutardi.

Kebersamaan kakek-nenek dan para cucunya itu ternyata berakhir tragis. Hujan yang beberapa hari terakhir sering mengguyur kawasan tersebut membuat lahan di daerah atas rumah mereka, longsor.

Sutarman, orang pertama yang mengetahui musibah tersebut bersama warga setempat segera melakukan evakuasi jenazah para korban.

Pasangan Siswanto-Warti dan Warso-Narsi segera dikabari. Tetapi karena orang tua anak-anak tersebut belum kunjung tiba, masyarakat akhirnya berinisiatif menguburkan jenazah para korban di pemakaman desa setempat.

Bisa Selamat

Jika saat itu warga masih bekerja bakti, hampir pasti ratusan warga itu akan ikut tertimbun patahan bukit di sebelah timur perkampungan berpenduduk 800 jiwa itu.

Sebagian warga pun bersyukur ternyata ada hikmah listrik padam saat musibah itu tiba.

Kini warga berharap-harap cemas menyaksikan anggota keluarganya yang belum ditemukan. Kartiyani (55), wanita penghuni RT 3 dusun itu hanya bisa merintih menangisi dua anak dan satu keponakan yang masih belum ditemukan.

Dia selamat meski punggungnya terluka kejatuhan kayu bangunan rumahnya. "Saat longsor, suaranya seperti pesawat jatuh. Saat itu, usai meladeni yang bekerja bakti, saya belum tidur. Saya bermaksud ke belakang. Tapi belum juga sampai melangkah ke kamar kecil yang hanya lima meter itu, tiba-tiba rumah sudah ambruk tertimpa tanah."

Namun secara reflek, wanita kurus itu mencoba menahan kayu tersebut. Dan ajaib, ternyata kayu itu tertahan oleh tangan mungilnya.

Padahal, rumahnya sudah terkubur tanah. Dengan sisa kekuatannya, dia mencoba keluar dari tanah yang menguburnya.

"Alhamdulillah, saya bisa keluar dan akhirnya ditolong tetangga-tetangga. Hanya, saya tidak bisa membantu anak perempuan saya. Saat terjadi longsor, saya masih mendengar anak saya meminta tolong, tapi saya sendiri tidak bisa berbuat apa-apa."

Kartiyani yang tahun lalu kehilangan suaminya yang meninggal dunia, kini juga harus kehilangan anak lelaki nomor dua, Suparlan (25), anak bungsu Maryati (15), dan keponakannya Hamid (4). Ketiganya belum bisa ditemukan dan masih terkubur di reruntuhan rumahnya.

Yang lebih membuatnya sedih, Suparlan sudah lama menderita sakit seperti kehilangan ingatan. Setelah dirawat dengan cara rukyah selama hampir dua tahun, dia mulai membaik. "Eh, ternyata kesembuhannya tidak bisa dinikmati, karena keburu tertipa tanah longsor," ujarnya.(Joko Dwi Hastanto, Budi Santoso, Wisnu Kisawa, Heri SW-77)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA