| Kamis, 27 Desember 2007 | NASIONAL |
Hujan Diperkirakan hingga SeninBencana akibat Alih Fungsi LahanSEMARANG - Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Jateng Ir Sujarwanto menyatakan kasus longsor yang terjadi di delapan kecamatan di Kabupaten Karanganyar lebih karena faktor manusia. Tata guna lahan di sekitar lereng Gunung Lawu telah beralih fungsi sebagai perkebunan dan permukiman. "Meski ada faktor alam, karena kami lihat kerentanan gerakan tanah di sana juga cukup tinggi, tetapi adanya longsor itu dominan karena ulah manusia. Karena lereng itu banyak dijadikan wilayah perkebunan dan pemukiman," tandasnya, Rabu (26/12). Secara umum banyak permukiman dan perkebunan yang muncul di lereng-lereng sekitar gunung. Akibatnya air tidak lagi tersimpan di dalam tanah, namun justru keluar menggerus lereng-lereng yang tanahnya dari jenis liat. Sebenarnya bila penduduk di sana dalam mengelola air cukup benar, kejadian longsor bisa diminimalisir. "Kalau di buat saluran, saya yakin tidak akan terjadi hal itu" ujar Sujarwanto. Dalam setahun ini, ujarnya, pengalihan fungsi lahan di Gunung Lawu cukup tinggi. Meski dia tidak menyebutkan persentase pengalihan fungsi itu, tetapi setidaknya gambarannya seperti yang terjadi di lereng Gunung Sindoro dan Sumbing. Menyinggung soal banyaknya villa dan hotel-hotel yang bermunculan, Sujarwanto menjelaskan izin prinsip pembangunan itu sudah sesuai dengan ketentuan Pemkab Karanganyar. "Kalau pembangunan itu (villa dan hotel) saya yakin pemkab setempat sudah melakukan pembatasan. Tetapi munculnya lahan-lahan terbuka untuk perkebunan dan pemukiman itu yang tidak bisa terkontrol," tandasnya. Rawan Longsor Secara keseluruhan Karanganyar masuk satu dari 27 daerah yang rawan longsor. Daerah rawan longsor yang dipetakan Distamben seperti Kabupaten Banjarnegara, Kebumen, Purworejo, Banyumas, Cilacap, Purbalingga, Pemalang, Tegal, Brebes, Batang, Kabupaten Pekalongan, Wonosobo, Temanggung, Magelang, Kabupaten Semarang, Kota Semarang, Grobogan, Kendal, Jepara, Kudus, Pati, Rembang, Blora, Boyolali, Wonogiri, Karanganyar dan Sragen. Distamben Jateng sendiri telah mengundang 97 camat untuk menginformasikan bahwa sebanyak 460 desa rawan longsor. "Jauh-jauh sudah kami minta daerah berhati-hati dengan kejadian longsor, karena secara keseluruhan Jateng rawan akan bencana," kata dia. Sementara itu, pascatanah longsor di Tawangmangu, warga Jawa Tengah harus tetap waspada. Pasalnya, hingga Senin depan, diperkirakan hujan dengan intensitas sedang hingga deras akan mengguyur Karangayar dan kawasan di Jawa tengah lainnya. "Kondisi hingga Senin depan hujan masih lebat. Kami memperkirakan per minggunya, setelah itu hujan deras masih mungkin terjadi. Ini perlu diwaspadai," kata Kepala Sub Bidang Informasi Meteorologi Publik Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Pusat Kukuh Ribudiyanto, Rabu kemarin. Menurutnya, curah hujan akhir-akhir ini di khususnya di Jawa Tengah dan Indonesia pada umumnya, masih terhitung normal. (H37,H7,J21-49,77) |