logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 27 Desember 2007 NASIONAL
Line

46 Orang Masih Tertimbun

  • Longsor di Karanganyar dan Wonogiri
  • Jumlah Korban Keseluruhan 82

LOKASI LONGSOR: Warga dibantu tim SAR, TNI dan polisi mencari korban tanah longsor di Desa Mogol, Tawangmangu, Karanganyar, Rabu (26/12). (57)

KARANGANYAR- Bencana tanah longsor di Karanganyar dan Wonogiri menelan 82 korban jiwa. Masing-masing di Karanganyar 66 orang dan Wonogiri 16 orang. Hingga pukul 23.00 semalam, 46 korban belum ditemukan.

Longsor terparah terjadi di Karanganyar. Hujan merata hampir sehari semalam di wilayah Karanganyar mengakibatkan tanah longsor di tujuh kecamatan dan banjir di dua kecamatan di wilayah Lereng Lawu itu.

Menurut Kasi Penanggulangan Bencana Kantor Kesbanglinmas setempat Aji Pratama Heru korban tewas mencapai 66 jiwa, dan kerugian material miliaran rupiah. Korban terbanyak berada di Dusun Ledoksari, Kelurahan dan Kecamatan Tawangmangu, mencapai 37 orang dari 12 kepala keluarga.

Semuanya tertimbun tanah longsor. Evakuasi hingga magrib baru menemukan enam korban. Satu selamat dan lima tewas. Untuk kelancaran evakuasi hari ini, Aji minta masyarakat tidak mendekati lokasi.

Selain itu, longsor juga menewaskan 8 warga Desa Jumantoro, Kecamatan Jumapolo, menelan 3 korban tewas di Gedongan, Kecamatan Kerjo, 3 korban di Sukuh, Kecamatan Ngargoyoso, 3 korban tewas di Kecamatan Jenawi, 5 korban di Dusun Beruk dan Wukirsawit, Kecamatan Jatiyoso. Di Dusun Srandon, Kecamatan Karangpandan, 3 tewas.

Semua korban, kecuali yang di Tawangmangu sudah berhasil dievakuasi.

16 Hilang

Sementara itu, bencana tanah longsor, Rabu (26/12), juga melanda 12 dari 25 wilayah kecamatan di Kabupaten Wonogiri. Ratusan rumah rusak, ribuan hektare tanaman pangan hanyut, 16 orang penduduk hilang, dan puluhan jembatan ambrol.

Tanah longsor terjadi di Kecamatan Tirtomoyo, Girimarto, Selogiri dan Manyaran. Camat Tirtomoyo, Drs Tarjo Harsono mengatakan lokasi longsor terjadi di tiga titik, yakni Desa Sendangmulya, Hargantoro dan Hargorejo. "Korban 16 orang, yang ditemukan baru dua orang," katanya. Upaya untuk mengevakuasi mengalami kesulitan, karena sepanjang hari turun hujan dan tebing yang longsor masih labil.

Tujuh korban berasal dari Dusun Pagah, Desa Hargantoro baru diketemukan 2 orang, Ernawati (11) dan Ny Kariyem (65). Dua korban dari Dusun Sanggrahan, Desa Hargorejo dan tujuh korban dari Dusun Semangin Desa Sendangmulya, belum ditemukan. Untuk sementara, pencarian korban warga Dusun Pagah Desa Hargantoro, Kecamatan Tirtomoyo. dilakukan secara tradisional, dan baru menemukan dua korban dalam keadaan tewas, yakni Ernawati (11) dan Ny Kariyem (15).

Di Dusun Semangin, Desa Sendangmulya, delapan KK hilang tertimpa longsoran bersama bangunan rumah tempat tinggalnya. Yakni milik Tarmin, Sutarmin, Saliyo, Wantino, Katino, Paimin, Sakiman dan Darmo.

Polres Wonogiri berusaha mengirimkan pasukan untuk membantu penanganan tanah longsor, namun mengalami kesulitan karena akses jalan menuju ke Kecamatan Tirtomoyo terhalang oleh banjir.

Longsor juga terjadi di Kecamatan Selogiri, melanda 27 rumah penduduk di Desa Pare, Keloran, Traman, Jendi dan Singodutan.

Hentikan Evakuasi

Sementara itu, evakuasi korban di Tawangmangu yang dilakukan seharian, akhirnya dihentikan menjelang magrib. Situasi lokasi sangat gelap, mendung tebal dan dikhawatirkan turun hujan, sehingga membahayakan masyarakat.

"Evakuasi kami hentikan karena cuaca mendung. Di samping itu penerangan tidak memungkinkan, karena di sekitar lokasi longsor belum disiapkan penerangan. Jadi kalau diteruskan sangat berbahaya, dan tidak efektif. Karena itu diputuskan besok (hari ini-red) baru diteruskan," kata Mayjen TNI Agus Suyitno.

Proses evakuasi melibatkan 300 personel Polri, 300 personel TNI, Satlak PBP Karanganyar, serta masyarakat. Pagi ini baru akan dilanjutkan upaya mencari 29 korban yang hilang. Rencananya akan dikerahkan lagi 3 SSK (satuan setingkat kompi) personel Polri, 3 SSK TNI, Satlak PBP Karanganyar, dan masyarakat.

Menurut Widodo, Kepala Lingkungan Dusun Ledoksari, longsor terjadi dua kali. Pertama terjadi sekitar pukul 00.30 tengah malam. Namun longsoran bukit di belakang dusun itu tidak sampai menimpa rumah. Hanya saja saluran irigasi di atas bukit menjadi rusak, sehingga air turun ke dusun.

Warga kemudian berinisiatif bekerja bakti, meski cuaca hujan dan angin kencang. Hampir 150 warga turun ke lokasi longsoran untuk memperbaiki saluran, agar tidak turun ke dusun, karena membuat kotor. "Malam itu, kami sebenarnya ingin menyelesaikan saluran itu bersama-sama," kata dia.

Namun menjelang pukul 03.00, lampu listrik mati. Karena gelap gulita, warga batal meneruskan kerja bakti. Sebagian warga pulang ke rumah masing-masing, sebagian lagi berkumpul di rumah Atmopaidi, salah seorang warga dusun.

"Namun saat subuh, tiba-tiba terdengar suara gemuruh dan berdebum seperti pesawat jatuh. Suaranya memang sangat keras, namun karena hujan masih sangat deras, tidak banyak warga yang keluar. Baru ketika ada yang teriak-teriak longsor, seluruh warga keluar rumah," kata dia.

Meski demikian, karena tanah terus bergerak turun, tidak ada warga yang berani mendekati lokasi longsor yang hanya beberapa meter saja dari rumah mereka. Baru ketika dipastikan tanah berhenti bergerak, dan hujan sedikit reda, sekitar sejam kemudian warga mulai mendata rumah dan warganya.

"Kami baru mulai melakukan evakuasi dan menyisir lokasi longsoran tersebut. Dan kami menemukan satu warga yang masih selamat, yaitu Parmi. Dia terjepit beton rumahnya yang roboh. Saat kami tolong, dia pingsan. begitu bisa diangkat keluar, kami membawanya ke Puskesmas Tawangmangu untuk memperoleh pengobatan," kata dia.

Sekitar pukul 07.00, personel TNI, Polri dan Satlak PBP mulai datang dan membantu proses evakuasi. Karena sulitnya lokasi yang berada di lembah yang curam, maka evakuasi dilakukan secara manual, mengandalkan linggis, sekop, cangkul, dan peralatan lainnya.

Pangdam mengatakan, pihaknya sudah memerintahkan agar seluruh peralatan TMMD (TNI Manunggal Masuk Desa) dikirim ke lokasi bencana. Ada ribuan cangkul linggis, sekop dan sebagainya, sehingga bisa digunakan untuk bekerja bakti.

"Lokasinya tidak memungkinkan menurunkan beghu atau alat berat lainnya. Karena itu mau tidak mau harus manual. Tapi dengan kerja bersama, kami kira hanya butuh waktu 5-7 hari saja, semuanya sudah selesai. Yang penting, kita tetap semangat dalam kerja sosial ini," tandas dia.

Jembatan Ambrol

Selain longsor, di Karanganyar hujan juga mengakibatkan banjir dan menewaskan 4 orang di Matesih saat truk melintas di jembatan Plosorejo, jembatan itu ambrol dan truk hanyut terbawa arus. Banjir juga menelan korban 2 tewas di Kebakkramat dan satu orang di Brujul, Kecamatan Jaten.

Selain jembatan Plosorejo, jembatan Ngrandu yang menghubungkan Jumapolo-Jatipuro hingga Wonogiri terputus total. Jalan utama menuju Tawangmangu juga terputus karena tanah longsor memenuhi jalan di Dusun Karang, Karangpandan. Longsoran di tempat itu mencapai ketinggian 15 meter, sepanjang 150 meter.

Tanah longsor juga memutuskan jalur alternatif menuju Tawangmangu melalui Matesih, karena longsoranya bukit di Dusun Ganongan, Desa Koripan. Namun sore harinya, tanah bisa dipinggirkan, sehingga lalu lintas bisa lancar kembali. "Ini bencana terparah yang pernah terjadi di Karanganyar. Namun semuanya sudah bisa diatasi dengan koordinasi dengan baik, berkat kerja sama seluruh masyarakat, TNI, Polri, dan seluruh aparat Pemkab Karanganyar," kata Bupati Karanganyar Rina Iriani yang langsung ke lokasi longsoran di Ledoksari, bersama Mendagri Mardiyanto.

Mendagri menolak bencana dikategorikan bencana nasional. "Kesannya kok terlalu melebih-lebihkan dan terlalu serem. Jadi tidak usah kita besar-besarkan, yang penting semuanya kita tangani bersama dengan baik," kata dia usai rapat koordinasi di lokasi kejadian bersama Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Agus Suyitno, Kapolwil Surakarta Kombes Pol Yotje Mende dan Bupati serta staf Pemkab lainnya.(an,P27,H7,H37, H11, san,H46,G19-77)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA