logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 26 Desember 2007 NASIONAL
Line

Dari Tur Java Promo 14 Daerah (1)

Menjemput Bola, Mengumpan Wisatawan


SM/Wisnu Kisawa PERTUNJUKAN TARI: Salah satu daya tarik promosi wisata yang dilakukan Java Promo dengan menggelar pertunjukan tari.(57)

Hampir sepekan pada minggu kemarin, 14 daerah kabupaten/kota di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang tergabung dalam Java Promo melakukan tur promosi wisata ke Jawa Barat dan DKI Jakarta. Kegiatan tersebut menjadi menarik ketika di dalamnya mengemuka sejumlah persoalan seputar dunia pariwisata. Berikut laporannya.

BAGAIMANA mungkin akan tumbuh cinta jika sebelumnya tak kenal. Tapi juga bagaimana bisa kenal jika sebelumnya sama sekali tak pernah tahu. Berkaca dari cermin kata tersebut, rasanya menjadi tidak salah jika Java Promo kemudian merasa harus melakukan kegiatan tur untuk keperluan promosi wisata.

Benar memang, salah satunya seperti yang dilakukan sejak 14 hingga 20 Desember lalu, ketika dua wilayah provinsi yakni Jawa Barat dan DKI Jakarta dijadikan sebagai target marketnya. Nyaris satu pekan lamanya, dengan begitu banyak ''dagangan'' yang cukup waktu atau tidak memang harus dicoba ditawarkan ke pasar.

Namun sebelum lebih jauh, sangat mungkin akan muncul pertanyaan: ''apa itu Java Promo?''. Itu brand name dari sebuah badan promosi kerja sama 14 daerah kabupaten dan kota di wilayah Provinsi Jateng dan DIY. Daerah-daerah tersebut adalah Kabupaten Boyolali, Kebumen, Karanganyar, Klaten, Purworejo, Temanggung, Wonosobo, Magelang dan Kota Magelang (dari wilayah Jateng). Sementara dari DIY seluruh daerah turut bergabung, mulai Kabupaten Bantul, Gunungkidul, Kulon Progo, Sleman hingga Kota Yogyakarta.

Lalu mengapa daerah-daerah itu bisa bergabung? Bukankah ada dua wilayah provinsi yang secara administrasi telah memisahkan? Inilah yang menarik. Sebab ada sebuah ikon yang kemudian menjadi pemersatu sekaligus mampu menembus batas wilayah tersebut. Ikon yang dimaksud tak lain adalah Candi Borobudur.

''Dari letak geografis, daerah-daerah yang tergabung dalam Java Promo ini berada di sekitar atau mengelilingi candi Borobudur. Itulah ikatan kami untuk kemudian membuat sebuah badan guna menyatukan semangat dalam memaksimalkan potensi wisata di seluruh daerah yang tergabung di dalamnya,'' ujar Sutrisna, ketua Java Promo yang juga Sekda Kabupaten Sleman.

Kebersamaan

Di luar ikon, munculnya badan kerja sama itu juga dilatarbelakangi kesepahaman masing-masing daerah bahwa kehidupan pariwisata memang tak mengenal batas wilayah administrasi. Apalagi di Jawa yang antara daerah satu dengan lainnya memang kait mengkait. Khususnya dengan peninggalan budaya dari Dinasti Mataram.

''Itulah mengapa harus ada kebersamaan semacam ini. Diharapkan akan terjalin kerja sama sesama pemerintah daerah dalam pengembangan pariwisata. Sekaligus mendorong terciptanya kesepakatan kerja sama bidang pariwisata antar-daerah dalam satu wilayah destinasi wisata Jawa,'' kata Dwi Supriyatno, koordinator Pokja I Java Promo yang juga Kabid Pariwisata Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Sleman.

Lantas bagaimana promo yang dilakukan di Jawa Barat dan DKI Jakarta? Tentu saja kekuatannya menjadi berlipat. Meski bersamaan dengan itu, beban yang ditanggung juga begitu banyak. Sebanyak dari daerah yang tergabung di dalamnya. Namun terlepas dari itu, promo tersebut adalah salah satu upaya nyata yang telah dilakukan. Bahkan tak sekadar dengan menunggu namun justru menjemput bola. Ya, menjemput bola untuk kemudian memberikan umpan kepada wisatawan

Di Bandung misalnya, target pasar yang dibidik adalah para kepala dan wakil sekolah yang sengaja diundang untuk berkumpul di SMP Negeri 7 Bandung.

Sementara di Jakarta, pasar yang hampir sama dicoba digapai. Meski di luar perwakilan sekolah, juga melibatkan pula pelaku pariwisata seperti agen perjalanan dan perwakilan sejumlah hotel. (Wisnu Kisawa-62)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA