| Rabu, 26 Desember 2007 | NASIONAL |
2.801 Warga Jateng Kena ChikungunyaSEMARANG - Penyakit yang disebarkan oleh nyamuk Aedes aegypti dengan virus chikungunya dalam setahun mampu menjangkiti 2.801 warga Jateng. Beberapa daerah yang sudah terjangkiti di antaranya Kabupaten Karanganyar, Pekalongan, Klaten, Wonogiri, Boyolali, Kabupaten Semarang, Sukoharjo, Kabupaten Tegal, Pati, Jepara, dan Cilacap. Menurut Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jateng dokter Hartanto, jumlah penderita yang terjangkiti virus chikungunya itu mengalami kenaikan drastis dari sebelumnya. Tahun 2006 hanya 86 penderita, naik dari 2005 dengan jumlah penderita 49 orang. ''Meski kenaikannya sangat drastis, tapi laporan dari daerah-daerah belum bisa dikategorikan sebagai kejadian luar biasa (KLB),'' tandasnya kepada wartawan, baru-baru ini. Meski sama ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti, chikungunya beda dengan demam berdarah. Dilihat dari penderitanya, tidak membahayakan dan tidak menyebabkan kematian. Pada penderita chikungunya, gejala awalnya akan merasakan demam disertai flu. Lebih spesifik lagi akan mengalami linu pada tiap persendian. Setelah itu penderita kesulitan dalam menggerakkan anggota badan dan cenderung lumpuh sesaat. Penanganan pada penyakit itu sama dengan demam berdarah yakni memutus mata rantai perkembangbiakan nyamuk dengan pemberantasan saran nyamuk (PSN). Penyakit Tikus Dinkes juga mendapati penyakit leptospirosis yang dominan dibawa oleh tikus dengan kuman leptospira. Selama setahun, tercatat 66 orang meninggal terkena virus tersebut. Di Kota Semarang muncul 14 kasus, Demak (29 kasus dengan enam meninggal), Klaten (21 kasus), Purworejo dan Kabupaten Semarang masing-masing satu kasus. ''Memang Demak daerah yang rawan terjadi penyebaran leptospirosis. Dilihat jumlah kasus yang meninggal dunia cukup tinggi,'' tandasnya. Manusia dapat terinfeksi kuman leptospira karena kontak langsung dengan air atau pun lumpur yang tercemar urine tikus yang terinfeksi kuman. Gejala penderita berupa demam, sakit kepala, nyeri otot, konjungtivitis, dan icterus. Bahkan bisa menyebabkan gagal ginjal yang berujung pada kematian. (H37,H7-62) |