| Rabu, 26 Desember 2007 | NASIONAL |
Ba'asyir Ogah Ikut ParpolMinta Solidaritas Tokoh-tokoh MuslimSEMARANG- Pimpinan Pondok Pesantren Al-Mukmin, Ngruki, Solo, Abu Bakar Ba'asyir, mengaku ogah ikut parpol. Menurutnya, parpol yang mengusung bendera Islam saat ini tidak patut didukung. "Yang benar itu, kalau mengusung Islam ya hakekatnya Islam. Cuma kalau dilihat, parpol-parpol yang mengusung Islam di Indonesia saat ini, nama dan simbol benderanya saja yang ndakik-ndakik, namun hakekatnya bukan Islam," ujar Ba'asyir, saat berada di Semarang, Senin (24/12). Mantan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Solo itu menjadi pembicara dalam acara latihan Kader HMI se-Jateng-DIY, di Gedung Balai Latihan Koperasi dan UKM, Banyumanik, Semarang. "Lebih baik sedikit keliru, nama partainya bukan Islam, misalnya Partai Lombok, tapi hakekat partainya Islam," ucapnya. Mantan siswa Pondok Pesantren Gontor, Jombang, Jawa Timur (1959) itu menyatakan dirinya tidak ikut perjuangan melalui partai, sebab memakai sistem demokrasi. Secara prinsip, kata dia, demokrasi itu bertentangan dengan Islam. Dalam Islam, kedaulatan ada di tangan Allah. Sedang demokrasi, kedaulatan ada di tangan rakyat. Islam punya sistem sendiri, yakni dakwah. Saat ini, alumni Fakultas Dakwah Universitas Al-Irsyad, Solo, Jawa Tengah (1963) tersebut memilih perjuangan politik melalui dakwah, untuk menerangkan Islam secara benar. "Saya tidak ikut partai karena tak ada parpol yang hakekatnya bener." Dakwah Untuk konteks Indonesia, kata dia, masih diperlukan perjuangan melalui dakwah terlebih dahulu. Dakwah dimaksud adalah guna menerangkan apa itu Islam, apa adanya. Perjuangan politik lewat dakwah sangat penting. Pada saatnya nanti dakwah akan berubah menjadi jihad, dan dimungkinkan akan mendapat perlawanan. "Kalau dapat perlawanan mulut ya dilawan dengan mulut, kalau perlawanannya pakai tangan ya diladeni dengan tangan. Masak kalau musuh pakai F16 mau dilawan pakai tongkat," kata Ba'asyir. "Saya belum lama ini kedatangan tamu mengaku pengurus zikirnya (Presiden) SBY serta tokoh-tokoh Katolik, Kristen, Hindu dan Budha di Ngruki. Mereka ingin tahu, Ba'asyir yang katanya teroris itu kayak apa," cerita pimpinan Majelis Mujahidin Indonesia yang divonis bebas Mahkamah Agung atas dakwaan kasus terorisme dan peledakan bom Bali itu. "Ya biasa saja, di tempat saya itu. Ada foto Presiden dan Wapres SBY-JK juga. Saya terangkan juga sama mereka Islam itu apa adanya. Eh malah tokoh-tokoh agama itu minta saya berdakwah soal Islam di hadapan umat Kristen, Katolik, Budha, Hindu, dll. Katanya mereka mau kumpulkan umat-umat itu," kata Ustad Abu ini. Solidaritas Menyinggung masalah penolakan PK oleh MA terhadap tiga terpidana mati kasus peledakan Bom Bali I, Amrozi, Muklas, dan Imam Samudra, Ba'asyir menyatakan putusan PK tersebut tidak normal, sebab tidak menghadirkan Tim Pembela Muslim (TPM) sebagai pemohon. Dia mendukung agar TPM mendesak upaya sidang PK digelar secara normal, sebagaimana sidang PK yang pernah dilakukan MA dalam perkara yang didakwakan terhadapnya. Ustad Abu mengimbau terkait dengan Amrozi dkk agar tokoh-tokoh Islam sebaiknya menunjukkan solidaritas sebagai sesama mukmin. "Mestinya tokoh-tokoh Islam di NU, Muhammadiyah, Golkar, PDI-P itu ya menunjukkan solidaritaslah, karena mereka (Amrozi cs) sedang menghadapi kesempitan. Masalah tidak setuju dengan cara perjuangan politik mereka (Amrozi cs), itu urusan lain," kata Ba'asyir. Ustad Ba'asyir menambahkan, TPM sudah berusaha mendatangkan tokoh-tokoh Islam dari berbagai organisasi, namun sepertinya kurang lancar. "Harusnya bukan TPM yang berinisiatif. Tokoh-tokoh Islam itulah yang harusnya punya inisiatif."(H30-77) |