| Rabu, 26 Desember 2007 | NASIONAL |
PERJALANANJembatan Budaya KBRI di Phnom Penh (1)Gairah dari Tepi Sungai Mekong
Pada 18 Desember lalu, KBRI di Phnom Penh meresmikan Pusat Budaya Indonesia Nusantara di Gedung Teater Chakdomouk. Wartawan Suara Merdeka Amir Machmud NS yang menghadiri acara tersebut menuliskan laporannya dalam dua bagian berikut ini. GEMULAI Irawati Kusumoasri dan lenggak-lenggok sepasang penari "Rara Ngigel" - Ningnong dan Antis, membahanakan panggung Chakdomouk Theatre, Gedung Kesenian Kamboja pada kehangatan Malam Budaya, 18 Desember lalu. Desau arus anak Sungai Mekong di belakang gedung seolah-olah mempersaksi sejarah pertautan kebudayaan Nusantara di hadapan wajah-wajah sumringah dengan senyumnya yang khas. Senyum Khmer. Selalu, gemuruh tepuk tangan menuntaskan keanggunan sajian demi sajian. Malam itu, aroma pesona Nusantara hadir di bumi Kamboja. Sungai Mekong boleh mengalirkan air keruh kekuningan penuh lumpur pekat, namun itulah atmosfer legendaris yang utuh. Sungai raksasa yang menghubungkan Negeri Angkor dengan negara-negara tetangganya itu seperti menyatukan pula rasa Indonesia dalam balutan persaudaraan budaya dengan bumi Khmer. Kelihatannya sederhana dan seremonik. Malam Budaya dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Phnom Penh meresmkian Pusat Budaya Indonesia (Pusbudi) Nusantara bersama-sama masyarakat kita yang tinggal di sana. Tetapi setiap peristiwa budaya tidaklah dapat diremehkan dengan penyederhanaan persepsi, apalagi ketika momen itu didasari iktikad membangun "jembatan", yang ujung akhirnya adalah mempertautkan kebutuhan kemaslahatan: ya budayanya, ya target kerja sama-kerja sama ekonominya. "Memelihara kepercayaan dan memberikan kesan kesungguhan itu kan investasi besar juga," tutur Duta Besar Nurrochman Oerip, yang pada 30 Desember nanti akan purnatugas. Dan, Pak Dubes yang sangat bersemangat dengan aksi-aksi kebudayaan dalam membangun persaudaraan kedua negara itu yakin, pilihannya justru untuk menunjukkan jalan sebagai tekad menjadi "bangsa yang waras". Haris Nathanael, dosen ISI Yogyakarta yang malam itu menjadi konduktor dalam komposisi musik bertema "Rumaket", dengan bergairah merespons ajakan kedutaan. Baginya, Pusbudi merupakan kampanye kebudayaan yang menyentuhkan makna. Dengan komposisi "Rumaket"-nya, Haris memproduk etnika suara bercita rasa Jawa, Bali, sekaligus Khmer, mengombinasikan gamelan, angklung, instrumen musik Kamboja, beduk, drum, dan kolintang. Nuansa Khmer musik menyeruak dengan rasa Indochinanya di balik harmoni Nusantara yang mendekatkan "bunyi" Jawa dan Bali. "Sayang, saya hanya punya waktu dua minggu untuk menyiapkan semua ini. Sebelumnya saya ngebut selama satu minggu untuk mendatangi sanggar-sanggar musik dan tari di Kamboja, lalu mencoba untuk merekatkan potensi etnika, budaya, manusia, dan falsafahnya," tutur alumnus ISI Solo yang menekuni musik Barat itu. Sebagai konduktor Malam Budaya itu, dia dibantu maestro tari dari Solo, Ludiro. Juga Irawati Kusumoasri, koreografer dan pimpinan Pusat Olah Seni Semarak Candra Kirana Solo. Dimulai dari komposisi gamelan "Ojo Dumeh"-nya Ludiro, tari Jawa "Kebyar", tarian klasik Khmer "Mani Mekhala", show kolintang staf KBRI, tari Jawa "Bondan Sayuk", tarian Sumatera "Piring", tari Sunda "Rara Ngigel", serta lagu-lagu pop "Kemesraan", "Edelweis", juga tembang karangan Pangeran Norodom Sihanouk yang menggambarkan kesan mendalamnya tentang Indonesia, "Goodbye Sumatera". Perhatian luas masyarakat Kamboja, dan audiens - termasuk para duta besar negara sahabat - yang tidak beranjak dari gedung hingga pertunjukan tuntas, menggambarkan sukses acara tersebut. "Pintu sudah kami buka," tutur Dubes Nurrochman seusai acara. Gengsi Malam Budaya itu antara lain tercermin dari kehadiran Veng Sereyvuth, Menteri Senior dan Menteri Kebudayaan & Seni Kerajaan Kamboja, serta mantan Menteri Kebudayaan Bopha Devy, anggota keluarga kerajaan yang dikenal sebagai pelaku seni. Putri Norodom Sihanouk itu merupakan salah satu simbol persahabatan kedua negara sejak zaman Soekarno, karena dikenal sebagai penari yang fasih tari klasik Indonesia. Seorang pimpinan sanggar tari dan musik di Kamboja, Soun Bun Rith mengaku kagum terhadap produk kolaborasi Malam Budaya itu. Dua pengamat seni, Norman Teece dari Inggris dan Carolina dari Brasil juga memuji komposisi Haris. "Ini penyejuk dari kemonotonan seni yang selama ini saya saksikan di sini," kata Teece. Menanam Pemahaman Meneruskan silaturahmi kebudayaan periode dubes-dubes sebelumnya, selama tiga tahun terakhir ini aksi-aksi menanam pemahaman dalam hubungan kedua negara digalakkan oleh Nurrochman Oerip. Dari pameran dagang, pertukaran duta kesenian, hingga yang dikemas dalam sebuah "silaturahmi akademik" berupa pertemuan para expert mengenai Bahasa Jawa, Bali, dan Khmer pada 2 Juli lalu di Phnom Penh. Kunjungan delegasi bisnis Kamboja ke Jawa Tengah juga dilakukan dalam rangkaian penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) Sister Temple Province antara Siem Reap dengan Jateng di Borobudur, bulan lalu. Semua itu, termasuk pembentukan Pusbudi, diakui hanya merupakan entry point. KBRI memfasiltiasi pembangunan sebuah "jembatan", selebihnya tergantung bagaimana semua sektor baik pemerintah maupun swasta yang terkait memasuki pintu yang telah diketuk dan dibukakan itu. Ingar bingar Malam Budaya itu "menawarkan" Indonesia secara terbuka kepada masyarakat Khmer lewat jembatan budaya. Sejauh ini, seperti yang disampaikan lead sector kegiatan tersebut, Rahendro Witomo, Pusbudi menyediakan kegiatan pengajaran Bahasa Indonesia, tari dan musik tradisional, perfilman, lokakarya desain grafis, lokakarya antarbudaya dan eksibisi, program pengembangan anak-anak berbakat, Eksibisi Seni Indonesia, dan Malam Budaya. Peminatnya? "Ada yang sudah secara reguler dilaksanakan dan diikuti banyak orang Kamboja. Juga ada agenda-agend yang kita rancang untuk tahun depan," kata Witomo. Di antara agenda itu adalah Festival Budaya Indonesia berupa wayang kulit, bulan bahasa, serta lokakarya tari dan musik. Kesenian adalah bahasa universal yang memudahkan mobilitas untuk memasuki semua relung kehidupan. "Saya percaya missi membangun kesalingpengertian, dan membuka peluang di bidang yang lain bisa dibangun melalui aksi kebudayaan," timpal Haris Nathanael. Maka inilah pesan Malam Budaya itu: gairah yang menyala dari Chakdomouk Theatre di tepian Sungai Mekong, tak sepatutnya dipadamkan, atau karena salah urus perlahan-lahan meredup dengan sendirinya. Semangat Haris, dan igel-an eksotik Irawati Kusumoasri tak boleh dibiarkan sirna percuma, lalu ditenggelamkan oleh desau riak Kali Mekong...(46) | ||||