| Rabu, 26 Desember 2007 | NASIONAL |
Pesan Natal untuk Alam Merapi
MAGELANG- Banyak cara dilakukan umat nasrani untuk merayakan natal tahun ini. Di Lereng Merapi, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, ratusan petani merayakan natal dengan mengenakan caping dan pakaian jawa. Nuansa pedesaan cukup kental, karena sebagian umat katolik juga membawa cangkul, sabit, dan berbagai peralatan pertanian lainnya. Sebelum misa, didahului dengan prosesi ritual pengambilan air di ''Tuk Ngandong'' di pinggiran Kali Lamat, Dusun Ngandong, Desa Ngargomulyo, Kecamatan Dukun. Pengambilan air suci itu dipimpin Kepala Gereja Paroki Santa Maria Lourdes, Sumber, Romo Vincensius Kirjito Pr. Setelah air diberkati, pemimpin doa mengambil air dan diletakan di tempayan, selanjutnya ditandu ke tempat pemberkatan oleh sejumlah orang berpakaian petani Jawa mirip kostum prajurit keraton. Sebagian jemaat juga membasuh muka dengan air yang menyemburat dari tuk tersebut. Rombongan pengusung air itu diiringi tembang-tembang rohani natal berbahasa jawa yang dilantunkan dengan indah. Suasana njawani makin terasa karena alat musik tradisional seperti kendang, jedhor, dan terbang juga ikut menimpali. Setelah sampai di tempat acara di Dusun Tangkil, desa setempat, Romo Kirjito memberkati berbagai peralatan pertanian seperti bajak, pacul, arit, tenggok, bibit tanaman, garu, gerobak, beberapa ekor sapi dan kambing. Misa tak dilansungkan di gereja, tapi di halaman rumah penduduk yang sudah diseting penuh dengan rumba-rumba dari berbagai tanaman. Altar berhias dedaunan itu memberikan unsur religius tersendiri bagi umat katolik di Lereng Merapi. Dialog Alam Caping yang dikenakan anak-anak dan orang tua di sana agak berbeda, karena diberi lukisan, sapi, kambing, ular, kelelawar, tikus, kecoa, cicak, belalang, ayam, dan burung. Menurut, Romo Kirjito, natal kali ini secara khusus meningkatkan kesadaran untuk menghargai segala macam binatang, sehingga salah satunya disosialisasikan melalui caping. Seusai misa dia juga memberikan pendidikan kepada anak-anak, betapa pentingnya menghargai binatang yang hidup secara liar di alam. Karena berbagai binatang itu diaggap sebagai petanda alam sehingga tak boleh dibunuh, sekalipun itu ular berbisa. ''Kita jaga bersama alam disekitar Merapi agar mendatang bisa diwariskan kepada anak cucu. Kesadaran mencintai alam dan binatang untuk kelangsungan hidup yang lebih baik harus ditanamkan sejak kecil,'' katanya. Disela-sela perayaan natal tersebut, juga digelar dialog untuk kelestarian alam di Lereng Merapi. Hadir dalam acara itu perwakilan dari Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), aktivis lingkungan, IPPNU-IPNU setempat. Dalam dialog tersebut, Kepala Desa Ngargomulyo, Yatin mengatakan, perlu dibuat peraturan desa (Perdes) soal kelestarian alam, yakni mulai dari penggunaan pupuk, penambangan, perburuan sampai dengan mencari ikan di kali. ''Untuk mengembalikan kelestarian di Lereng Merapi memang sulit. Tapi setidaknya dengan upaya tersebut bisa melindungi kelansungan berbagai ekosistem,'' katanya. Di Bandung Di Bandung, semangat kebersamaan dalam kerukunan antarumat beragama disuarakan oleh sejumlah tokoh lintas agama bersama umat Kristiani di sela-sela perayaan natal di Gereja Katedral Santo Petrus Bandung. Di gereja tersebut, aksi tebar kuntum bunga sebagai simbol kebersamaan diberikan kepada jemaat yang merayakan natal. Semangat persatuan juga diwujudkan dalam lagu "Satu Nusa Satu Bangsa" yang dinyanyikan bersama. Sebagai penutup, para tokoh lintas agama membentangkan spanduk bertajuk "Bersatu dalam Damai". Mereka pun saling bergandeng tangan. Di kedua sisi pintu masuk gereja, terpasang dua baliho dari komunitas kaum muda lintas agama. Isinya ucapan kepada umat katolik dan kristen, "Semoga Perayaan Natal Saudaraku Berjalan Khidmat dan Damai." "Tidak ada masyarakat yang menginginkan konflik, siapapun umatnya. Semua ingin hidup rukun dan damai. Sandang pangan terpenuhi tanpa konflik," kata Ketua PC NU Kota Bandung, KH Maftuh Kholil usai kegiatan. Romo Leo van Beurden dari Gereja Katedral berharap, semangat itu menular kepada semua orang agar bisa menjadi kenyataan dalam kehidupan sehari-hari. Kesejahteraan Di Jakarta, Uskup Agung Kardinal Julius Darmaatmadja mengingatkan agar aktivitas politik umat Katholik khususnya digunakan menjadi sarana peningkatan kesejahteraan rakyat miskin, bukan untuk kepentingan pribadi maupun golongan. ''Meski situasi politik memanas, kami berharap segala tindakan dan aktivitas umat di bidang politik harus sungguh-sungguh menjadi sarana peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat miskin,'' kata dia dalam konferensi persnya setelah misa di Gereja Katedral Jakarta Pusat. Menurut dia, rakyat miskin harus menjadi bagian terpenting dalam pelaksanaan pembangunan di tanah air agar demokrasi berjalan dengan baik dan dikendalikan oleh rakyat. Dia mengatakan, hingga 2007 keadilan sosial yang telah disampaikan belum juga tampak merata di tanah air. ''Keadilan sosial ini tampaknya masih menjadi wacana di negara kita karena kesenjangan antarmasyarakat yang kaya dan yang miskin masih amat kentara.'' Karena itu, Kardinal Julius mengimbau secara moral dan berharap pihak yang berwenang dalam mengatur negara dapat segera mewujudkan keadilan sosial di Indonesia sehingga tidak sebatas menjadi wacana belaka. Dia meminta kepada semua umat Katholik yang terlibat dalam aktivitas politik untuk berbuat bijaksana dan adil serta tidak mencari keuntungan untuk diri sendiri. Di Malang, misa natal di Gereja Katolik Katedral Malang dilaksanakan tiga kali, mulai sore hingga tengah malam. Menurut koordinator perayaan natal Gereja Katolik Katedral Malang FX Eddy Iswanto pembagian ini dimaksudkan agar tidak terjadi penumpukan umat dalam jumlah besar. Juga untuk memudahkan pengawasan dan pengamanan mengingat jumlah umat yang mengikuti misa mencapai ribuan. (H33,di.dwi,jo-64,46) | ||||