| Senin, 24 Desember 2007 | NASIONAL |
Sekularisasi Makna Natal
SETELAH melalui masa Adven umat Katolik merayakan Natal tanggal 25 Desember. Apa sebetulnya arti atau makna kelahiran Yesus (Natal)? Secara vertikal Natal berarti keselamatan Tuhan yang tidak terbatas pada umat manusia. Secara horizontal berarti solidaritas Tuhan kepada mereka kaum lemah, miskin dan tersingkir. Kalimat ini menjadi kredo yang selalu diucapkan dalam berbagai kesempatan baik di gereja maupun pertemuan-pertemuan umat. Lebih-lebih selama masa Adven. Gambaran biblis tentang kelahiran Yesus dapat direnungkan dalam Lukas (2:1-7) amat mengedepankan keadaan serbadarurat, melarat dan kesrakat. Bagaimana kenyataan umat merayakan Natal saat ini? Sudahkah kita selama masa Adven ini merenung bagi kaum lemah, miskin, dan tersingkir yang setiap tahun jumlahnya bertambah? Apakah sudah cukup dengan memberi bingkisan Natal (hubungan atas bawah)? Atau ada kehendak mendampingi untuk mencarikan solusi (hubungan horizontal), tetapi terlalu sibuk untuk urusan-urusan gereja (institusi) atau urusan-urusan lain? Tanpa masa Adven, Natal hanya menjadi ''budaya konsumerisme'', ajang belanja yang menghambur-hamburkan uang. Ini berarti anggaran untuk orang miskin kurang diperhatikan. Masa Adven juga untuk merenungkan apa yang dipesankan Tuhan pada umat yaitu bayi dalam palungan yang menggambarkan sosok yang lemah, sangat miskin (palungan adalah tempat makan kerbau atau domba) dan sangat tergantung pada bapak ibunya. Yesus lahir dan mempercayakan diri pada manusia Yusuf dan Maria. Apakah kita tidak dapat meneladani Yesus untuk saling percaya pada sesama umat manusia sungguh pun mereka berbeda ras, suku, agama, siapa pun mereka? Tidakkah kita mendengar nyanyian bala tentara surga ''Kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya'' (Lukas2:14). Sekularisasi Makna Natal telah bergeser jauh dari arti yang sesungguhnya. Bukan lagi kesederhanaan, peduli pada yang kurang beruntung dan saling percaya, melainkan mengumbar nafsu untuk menguasai keinginan badaniah seperti pesta pora, dan baju gemerlap, hiasan-hiasan yang menggambarkan kemewahan. Tidak ada lagi nilai-nilai kesederhanaan dan kemiskinan. Sungguh pun Natal juga berarti masa kegembiraan umat karena telah lahir penebus manusia, sehingga manusia dapat mengharapkan keselamatan di akhir hidupnya. Tetapi kegembiraan harus tetap dihayati dengan semangat cinta kasih bagi kaum miskin, lemah, dan tersingkir. Semua kesempatan untuk berpesta tidak peduli pesta yang berkaitan dengan agama atau bukan agama, menjadi peluang bagi para kapitalis menciptakan momen atau produk yang dibutuhkan dalam pesta tersebut. Seperti sosok ''Sinterklas'' yang sebetulnya tidak berkonotasi religius. Itu sekular total, kata Magnis Suseno. Sinterklas dikomersialisasikan menjadi tokoh yang suka memberi hadiah pada anak-anak pada Natal. Maka bertemulah pasangan komersialis (para produsen) dan konsumeris (orang tua yang mencari hadiah untuk anak-anaknya kemudian dititipkan Sinterklas) sehingga Sinterklas lebih dikenal anak-anak. Sinterklas identik dengan hiruk-pikuk pesta di mal-mal, sedang kelahiran Yesus yang Anak Allah identik dengan kepapaan, ketenangan, dan kedamaian yang tersingkir dari hiruk-pikuk pesta Natal. Pohon Natal yang juga gemerlap itu pun sekular. Tetapi alangkah naifnya kalau pusat perayaan Natal justru pada pohon Natal yang merupakan simbol kemegahan dan kemewahan. Pada awalnya pohon cemara (yang dipergunakan untuk pohon Natal) adalah pohon yang tidak pernah gugur daunnya pada musim dingin di Eropa, sehingga dijadikan hiasan Natal dengan harapan diberi kekuatan dan ketahanan hidup seperti pohon cemara. Jadi harapannya sudah berbeda dengan pesan Natal yang lebih mengedepankan kesalehan sosial. Metafora Kesalehan Dalam cerpen AA Navis ''Robohnya Surau Kami'' (1955), surau sebagai metafora kesalehan. Yang diratapi bukan surau sebagai bangunan fisik tetapi surau sebagai bangunan kesucian yang bakal roboh kalau hidup keagamaan dihayati terpisah dari kegiatan konkret hidup sehari-hari. Seperti orang Farisi semasa kehidupan Yesus. Yesus telah memperingatkan dengan tandas ''Yang Kukehendaki adalah belas kasih, bukan persembahan'' (Mat 9: 13). Ini berarti, Yesus mengkritik orang-orang yang sangat mengutamakan hidup liturgis dan tidak peduli atau mengabaikan kehidupan sosial ekonomi masyarakat yang tertindas atau para koruptor yang menindas. Hidup penuh peribadatan memang menenangkan batin, tetapi jangan sampai ketenangan batin itu mematikan kepekaan terhadap roh Kristus yang tinggal hadir dilatarbelakangi orang-orang yang menderita (Mat 25:31-46). Selamat Meryakan Natal dengan Benar sesuai dengan Napas Natal.(77) - Prof Dr Agnes Widanti, pengurus Forum Komunikasi Umat Beragama Jateng. |