logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 24 Desember 2007 NASIONAL
Line

Minyak Tanker Karisma Cemari Pelabuhan

SURABAYA- Meski oil boom telah dipasang di sekeliling kapal tanker Karisma Selatan yang terbalik di Dermaga Mirah Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, ceceran minyak tetap keluar dari alat pengaman tersebut.

Minggu (23/12) atau hari keenam kapal itu terbalik, air di dalam oil boom telah berwarna hitam oleh pekatnya minyak.

Sirip kapal yang semula berwarna merah muda berubah menjadi hitam karena sering dilintasi para anggota penyelam yang tubuhnya terlapisi hitam pekatnya minyak.

Minyak berwujud film itu telah menyebar hingga ke ujung dermaga. Untuk memecah minyak agar tidak menyebar, petugas menyemprot dengan cairan penetral Oil Spill Dispersant (OSD).

Terlihat petugas di tiga kapal berbeda mondar-mandir menyemprotkan OSD di setiap bagian dermaga yang telah terkontaminasi.

"Kami masih menduga, minyak ini datang dari mesin kapal, bukan dari muatan kapal," ujar Direktur Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai, Djoni Al Gamar kepada wartawan.

Seperti diketahui, kapal tanker itu terbalik di Pelabuhan Tanjung Perak pada Selasa (18/12) dini hari.

Kapal yang mengangkut sekitar 500 ton marine fuel oil (MFO) terbalik dan BBM diangkutnya tumpah ke laut. Kapal ini terbalik sekitar pukul 01.30 setelah mengisi MFO di

Dermaga Mirah, Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.

Rencananya, MFO sebanyak itu akan dibawa ke Teluk Kumai, Kalimantan Barat. MFO adalah sejenis solar berjenis ringan yang biasa dimanfaatkan untuk bahan bakar kapal dan mesin industri.

Hasil investigasi awal petugas PT Pelindo Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya menyebutkan, diindikasikan kapal bermuatan 500 ribu liter MFO terbalik akibat human error dan tak berfungsinya alat penyeimbang kapal.

Disedot

Djoni menambahkan, OSD hanya bisa digunakan pada tumpahan minyak yang berada di luar oil boom. Tetapi untuk minyak pekat yang berada di dalam oil boom, petugas akan menyedotnya dengan oil skimmer.

Saat ini oil boom mampu menyedot 200 hingga 250 liter per jam. Bila jumlah minyak yang tertumpah semakin banyak, kata Djoni, bukan tidak mungkin akan digunakan oil skimmer yang berkapasitas jauh lebih besar.

Untuk mengangkat kapal terbalik itu, dua kapal crane yakni KM Balikpapan Raya dan Nabire Raya dikerahkan. Hasilnya, hanya sedikit bagian kapal yang terangkat.

Jika sebelumnya hanya sirip kapal yang terlihat, maka setelah dicoba diangkat, dek kapal yang berwarna hijau sedikit kelihatan.

"Kalau pakai dua crane tak kuat, kami akan tambah lagi," tukas Direktur Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai, Djoni Al Gamar.

Menurut Djoni, tak ada tenggat waktu untuk mengangkat kapal berumur 19 tahun itu.

Yang pasti evakuasi akan dilakukan secepatnya karena bangkai kapal bisa mengganggu arus lalu lintas keluar masuk kapal ke dermaga. Tumpahan minyak secara otomatis akan mengotori biota laut.(G14,dtc-60)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA