| Senin, 24 Desember 2007 | NASIONAL |
Kinerja Parpol MengecewakanJAKARTA- Keberadaan partai-partai politik di Indonesia belum mampu memberikan kontribusi yang bisa dirasakan rakyat. Ini mengingat, pengelolaan parpol masih didasarkan pada kepentingan elite politik dan masih berorientasi kekuasaan. Kenyataan ini diakui sejumlah parpol sebagai penyebab kinerja parpol rendah dan jauh dari harapan masyarakat. Masalah itu mengemuka dalam diskusi interaktif tentang partai politik di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (22/12). Tampil sebagai pembicara anggota DPR dari Fraksi PKB Ali Masykur Musa, anggota Fraksi Partai Golkar Ferry Mursyidan Baldan, Ketua Umum Partai Bintang Bulan, Hamdan Zoelva, dan Direktur Eksekutif Indo Barometer, Muhammad Qodari. Qodari mengungkapkan hasil survei yang dikeluarkan Indo Barometer menunjukkan, kinerja partai politik (parpol) di Indonesia masih mengecewakan. ''Sebanyak 54,6% dari 1.200 responden di 33 provinsi menyatakan tidak puas. Parpol belum memperjuangan kepentingan masyarakat dan hanya mengutamakan kepentingan kelompoknya,'' katanya. Ferry menyebut tingginya angka ketidakpuasan publik tersebut tidak lepas dari kultur politik parpol yang belum dibangun dengan sifat-sifat rasionalitas. ''Masih banyak cara-cara pengelolaan parpol yang didasarkan pada kedekatan dan juga kepentingan elite semata,'' kata fungsionaris Golkar ini. Hubungan Emosional Menurutnya salah satu kekurangan partai selama ini karena parpol-parpol masih dibangun berdasarkan hubungan emosional. Mereka tidak membuka akses, sehingga masyarakat tidak dapat memahami kinerja partai. Mantan Ketua Umum HMI ini mengingatkan, sekarang ini parpol tidak bisa hanya menjual program-program muluk kepada masyarakat. Program partai harus lebih nyata dalam bentuk implementasi di lapangan. ''Masyarakat sekarang ini sudah sangat kritis. Karena itu keberadaan parpol jangan sampai hanya dirasakan masyarakat satu tahun menjelang pemilu. Setelah pemilu, jangan kan kontribusi ke masyarakat. Kerjaan di lapangan saja tidak ada. Ini parpol yang tidak benar.'' Oleh karena itu Ferry sependapat, jika masyarakat sangat kecewa dengan keberadaan parpol, termasuk Partai Golkar. Mereka dipersilahkan menghakimi partai-partai tersebut lewat Pemilu 2009. ''Kalau masyarakat kecewa, jangan lagi dipilih,'' tegasnya. Senada dengan Ferry, Ali Masykur mengatakan, semakin banyak parpol, cenderung tidak memikirkan rakyat serta hanya memikirkan diri sendiri. Mantan Ketua FKB ini mengecam parpol selama ini hanya menjadikan penderitaan rakyat sebagai kamuflase. Namun ia tidak setuju jika parpol dibubarkan karena parpol merupakan instrumen demokrasi. (A20,J13-48 |