| Senin, 24 Desember 2007 | NASIONAL |
asal-usulDesa di Jateng dengan Julukan Unik (3-Habis)Ngawen, Seabad Jadi Perkampungan Penjahit
PAGI itu, Abdul Karim (25) bersama adiknya Muhammad Mukorobbin (18) mengangkat mesin jahit dari dalam rumah untuk diletakan di teras depan. Meletakan satu mesin jahit di teras depan rumah merupakan pertanda mereka siap memberikan jasa layanan menjahit. Bersamaan dengan mengeluarkan satu mesin jahit, tentu saja mesin jahit lainnya berada di dalam, aktivitas menjahit pun dimulai. Kedua warga RT 5 RW 2 Desa Ngawen itu memulai beraktivitas. ''Ini mesin warisan dari eyang kakung,'' kata Abdul Karim ketika mulai memasang benang pada mesin itu. Ya, hampir semua desa pastilah ada tangan-tangan terampil sebagai tukang jahit. Namun biasanya jumlahnya kecil. Tiap desa hanya ada satu atau dua penjahit saja. Namun berbeda dengan Desa Ngawen di Wedung Demak ini. Sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai tukang jahit. Konon, profesi yang digeluti secara turun-menurun itu sudah berlangsung satu abad lebih. Desa berpenduduk 1.650 keluarga itu terletak di sebelah utara kantor Kecamatan Wedung, sekitar 6 kilometer dari Demak Kota. Jalan menuju daerah itu relatif bagus, sebagian terbangun dengan konstruksi beton dan sebagain lainnya hotmix. Ketika memasuki perkampungan itu, pandangan kita akan dengan mudah mendapati mesin-mesin jahit tua yang berada di teras rumah warga. Mereka memilih menggunakan mesin manual, karena dipandang dapat membuahkan hasil yang lebih baik, lebih halus. Namun untuk mesin bordil menggunakan tenaga listrik yang lebih praktis. Keahlian Berbeda Hampir bersamaan, pagi itu, mereka mengeluarkan mesin jahit di teras. Dan tidak berapa lama suara khas mesin jahit pun terdengar di hampir semua rumah. Kebanyakan profesi itu mempekerjakan keluarga sendiri, tetapi ada juga yang dikelola dengan tenaga karyawan. Yang menarik, pekerjaan itu bukan didominasi kaum hawa, justru sebagian besar adalah kaum pria. Kendati jumlah warga yang menggeluti bidang itu relatif banyak, separo lebih, namun tidak menimbulkan persaingan kurang sehat. Mereka bekerja profesional dan mengutamakan kerja sama untuk tetap mempertahankan usaha di bidang jasa itu. Menurut Abdul Karim, mereka memiliki keahlian menjahit pada bidang yang berbeda. Ada yang khusus membuat setelan jas, baju, celana, kaos dan atau keahlian lainnya. Oleh karena itu ketika mendapat pemesanan dalam jumlah besar, mereka akan berbagai dengan penjahit lainnya. Pola kerja sama ini menjadikan mereka tidak saling bersaing. Apalagi mereka memiliki patokan biaya jasa relatif sama, namun untuk pesanan tertentu dikenakan tarif khusus. ''Hari ini saya mengerjakan jas yang dipesan di Pak Ula. Kebetulan dia menerima banyak pesanan sehingga ada yang dikerjakan penjahit lain,'' katanya. Para penjahit, lanjut dia, memiliki tanggung jawab moral untuk membuat karya yang paling baik. Semua pesanan pun dikerjakan secara maksimal. ''Inikan bidang jasa, jadi kami harus memberikan yang terbaik,'' katanya. Dengan komitmen kerja demikian, Karim mengaku belum pernah menerima komplain terkait kualitas dari pelanggan atau pengguna jasa lainnya. Dalam mengerjakan jahitan jas, dia menyelesaikan dalam waktu satu hari satu malam. Kurang dari itu pasti tidak akan disanggupi. Kemahiran warga dalam merajut benang dengan mesin jahit sudah cukup dikenal masyarakat luas. Pelanggan mereka bukan hanya warga sekitar melainkan dari luar kota. Banyak pula penjahit kenamaan di berbagai kota berasal dari daerah itu. Rata-rata mereka sudah memiliki pelanggan sendiri dan dengan ukuran biaya yang tidak seragam. Pelanggan memilih penjahit tertentu, yang dikenalinya pas dalam menjahit pakaiannya. Utamakan Kualitas Bagi penjahit di desa itu, pekerjaan itu menjadi andalan untuk menghidupi keluarganya. Untuk dapat bertahan mereka memiliki kiat yakni membuat hasil maksimal. ''Memang terkadang pengerjaanya terlambat. Tetapi kami tidak pernah bermain-main dngan kualitas. Makanya para pelanggan kami dapat merasa puas,íí ujar Insiyah (45) penjahit lainya. Dengan cara seperti itu, pelanggan pun berdatangan, sehingga tidak pernah sepi order. Bahkan keperyacaan itu terasa bertambah dengan datangnya pesanan dari daerah lain yang tergolong baru. Seperti dari Jakarta, Bandung, Tegal, Yogyakarta, Solo dan Surabaya. Padahal tahun 1990-an, pesanan hanya dari daerah sekitar, seperti Kudus, Jepara, Kendal, Salatiga dan Semarang. Ramainya pesanan, tidak lagi mengandalkan saat Lebaran tiba, musim siswa sekolah atau pelantikan anggota legislatif. Jauh-jauh hari sudah banyak pesanan dari berbagai daerah. Menurut Karim rata-rata penjahit menerima pendapatan Rp 1-1,5 juta per bulan. Namun, jika ada pesanan dalam jumlah besar rata-rata bisa mencapai Rp 3 juta per bulan. Ongkos jahit pun relatif murah. Untuk celana Rp 50-100 ribu dan setelan jas Rp 150-500 ribu. Kepala Desa Ngawen, Imron, mengatakan mulai ada kemajuan bisnis menjahit di desanya seiring dengan perkembangan model pakaian. Para penjahit selalu mengikuti model terbaru, sehingga pelanggan tertarik. ''Apalagi dilihat dari tarifnya tergolong murah. Kualitas tidak kalah dengan karya besar tetapi harga sangat terjangkau,'' tuturnya. Selain ini, belakangan sudah mulai muncul konveksi yang dikelola oleh penjahit yang dulunya hanya mengandalkan di rumah masing-masing. Tenaga konveksi juga masih mengandalkan warga sekitar, yang dipandang sudah mahir menjahit.(Hasan Hamid-77) | ||||