| Senin, 24 Desember 2007 | NASIONAL |
Keluarga, Fokus Natal Tahun Ini
SEMARANG- Maraknya kasus perceraian dan kekerasan dalam sebuah keluarga menjadi keprihatinan tersendiri bagi Uskup Agung Semarang Mgr Ignatius Suharyo. Fokus terhadap tahun keluarga pada Natal kali ini mendorong gereja memberi prioritas pelayanan bagi keluarga yang menghadapi tantangan ke depan semakin berat. Dibanding 20 tahun lalu menurut Uskup, tantangan keluarga muda masa kini jauh lebih berat dan kompleks. ''Bagi saya yang orang desa, dulu begitu sederhana tak banyak pilihan mulai dari soal makanan atau minuman. Tapi sekarang makin susah saja karena tawaran makin banyak, apalagi kalau masalahnya memilih nilai-nilai,'' jelas Uskup kepada Suara Merdeka, semalam. Dia mencontohkan, kira-kira mana yang akan dipilih antara kesetiaan dan kesenangan, atau kejujuran dan hidup mewah. Semuanya itu menurutnya bisa diselesaikan dengan prinsip kedewasaan kasih keluarga muda ketika mereka memutuskan masuk ke jenjang pernikahan. Jika setiap pasangan mencari kebahagiaan sendiri, maka ia akan kecewa dan itu juga sebagai lampu kuning penanda dasar keluarga yang rapuh. Namun jika yang dicari kebahagiaan bersama, pada waktu tertentu hal itu belumlah cukup berarti. ''Akan jauh lebih berarti jika yang dilakukan membahagiakan pasangannya apapun bayarannya. Kalau sudah seperti itu pengorbanan apapun akan dilakukan,'' papar Uskup. Saat Tepat Natal, lanjutnya, merupakan saat yang tepat untuk mengembangkan kesetiakawanan sosial bagi setiap warga negara. Selain itu, Natal juga menjadi sebuah kelahiran harapan di tengah disharmoni alam, konflik antarmasyarakat, juga hidup yang berkeadilan meski tidak jelas kapan datangnya. Ya, meski tantangan ke depan jauh lebih berat, sebuah harapan yang berlandaskan iman akan masa depan yang lebih baik harus tetap terpatri. ''Dia yang merencanakan, Ia pula yang menyelesaikan. Jadi kalau seseorang gagal, Allah tidak gagal. Dengan harapan seperti itu tidak akan membuat orang putus asa karena dengan cara-Nya sendiri Tuhan akan menyelesaikannya,'' imbuhnya. Sementara itu Majelis Pekerja Harian Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (MPH-PGI) dan Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI)menyampaikan ajakan untuk berupaya memajukan kesehjateraan masyarakat, pendidikan, juga kerukunan serta berlaku adil tanpa memandang suku, agama, ataupun golongan. Dengan tema nasional ''Hiduplah dengan Bijaksana, Adil dan Beribadah'' berharap seluruh umat untuk membina hubungan pribadi dengan Allah sehingga benar-benar menghasilkan buah yang nyata dalam tindakan. Selain itu MPH-PGI dan KWI mengimbau umat untuk menjauhkan diri dari segala tindakan yang bertentangan dengan kehendak Allah, mulai dari korupsi, penyalahgunaan narkoba, hingga tindak kekerasan.(J14,H40-77) | ||||