| Minggu, 23 Desember 2007 | NASIONAL |
ASAL-USULDesa di Jateng dengan Julukan Unik (2)Pengkol dan Gupit "Pemasok" Kru Kapal Amerika
DESA Pengkol dan Gupit bagi masyarakat sekitar tentulah tidak istimewa. Desa kecil di Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo itu berdekatan dengan batas wilayah Sukoharjo-Wonogiri. Namun bagi masyarakat luar, kedua desa itu mempunyai keistimewaan dan menyebut sebagai Desa ''Amerika''. Istilah ini muncul karena banyak penduduk pria di dua desa itu yang menjadi kru kapal pesiar mewah milik perusahaan Holland America Line (HAL) dan Carnival. Dua perusahaan penyedia layanan jasa pelesir dengan kapal pesiar itu berbasis di Amerika Serikat. "Saya nggak tahu, siapa yang memberi istilah itu. Sebetulnya tidak pas," kata Kepala Desa Gupit Suyadi. Di Pengkol, tak kurang dari 40 orang, dan Gupit sekitar 20-an orang bekerja di kapal pesiar yang sering berlayar antarbenua. Mereka bekerja sebagai cabine steward, tenaga housekeeping, officer steward, atau memegang jabatan sebagai supervisor. Suasana dua desa itu terlihat berbeda dengan desa-desa lainnya. Sebagian besar rumah secara fisik terlihat mewah dan mentereng. Bangunan bertingkat, lantai keramik dan perabotan berkualitas menjadi ciri rumah-rumah tersebut. Bahkan ada sejumlah rumah bangunannya mirip dengan rumah di kawasan perumahan elite di kota-kota besar. Hampir semua rumah itu dilengkapi dengan garasi. "Itu rumah-rumah milik penduduk yang bekerja sebagai kru kapal pesiar," kata Kepala Desa Pengkol Sugiyo. Dari segi ekonomi, kehidupan keluarga para pelayar itu memang lebih bagus dibandingkan rata-rata penduduk lain. Maklum saja, karena penghasilan mereka cukup tinggi. Gaji pokok kru kapal pesiar berkisar antara 200-350 dolar AS per bulan. Namun, pendapatan tip-tip dari para tamu bisa mencapai 1.500-2.000 dolar AS per bulan, sehingga rata-rata mereka memiliki penghasilan sekitar 2.000 dolar AS atau sekitar Rp 18,5 juta per bulan Modal Nekat Bagaimana awalnya penduduk kedua desa itu bisa bekerja sebagai kru kapal pesiar mewah? Adalah Suyadi (56), sebelum jadi Kades Gupit itu semula berkeliling dunia selama 16 tahun, menjadi kru kapal pesiar. "Hanya Australia yang belum pernah saya singgahi," kata Suyadi. Tahun 1977, bermodalkan nekat, Suyadi melamar sebagai kru kapal pesiar di perusahaan HAL di Jakarta. "Padahal, bahasa Inggris saya cuma yes or no saja. Sampai sekarang, Bahasa Inggris saya itu bahasa pasaran," ujarnya sembari tersenyum. Singkat cerita, dia diterima sebagai tenaga di bagian laundry. Lalu berpindah-pindah bagian hingga terakhir memegang jabatan sebagai supervisor housekeeping. "Tahun 1998, saya nyalon kepala desa dan terpilih sampai dua periode ini. Jadi nggak berlayar lagi. Malah dua bulan setelah dilantik sebagai kades, saya sempat ditawari untuk layar lagi," tuturnya. Kesuksesan secara ekonomi Suyadi, ternyata memotivasi sejumlah penduduk pria di Gupit untuk mengikuti jejaknya. Hingga kini, minimal setahun satu orang, ada penduduk Gupit berangkat ke AS untuk bekerja sebagai kru kapal pesiar. Sementara di Desa Pengkol, banyaknya penduduk yang kini bekerja sebagai kru kapal pesiar diawali oleh Bejo Prabowo. Sekitar tahun 1987-an, lelaki yang tinggal di Pengkol itu ditawari oleh kakaknya, Haji Sugiyono, penduduk Gupit, untuk sekolah perhotelan, agar bisa menjadi kru kapal pesiar. "Pak Bejo juga diwanti-wanti kakaknya untuk belajar bahasa Inggris yang baik, agar bisa kerja sebagai kru kapal," tutur Kades Sugiyo. Lulus kuliah, Bejo diterima sebagai kru kapal pesiar di perusahaan HAL. Kesuksesan yang diraih, terutama dari segi ekonomi, memberi motivasi pada sejumlah penduduk Gupit untuk mengikuti jejaknya. Jadilah, banyak penduduk desa itu yang kini bekerja sebagai kru kapal milik HAL atau Carnival. "Di sini, anak laki-laki digadang-gadang sama orang tuanya agar bisa kerja sebagai kru kapal pesiar. Mereka bangga kalau anak lelakinya kerja sebagai di kapal pesiar," ujarnya. Pembangunan Desa Kedua kades itu menuturkan, banyaknya penduduk yang melanglang buana ke AS dan mendapatkan gaji dalam bentuk dolar, juga berimbas pada pembangunan di desa. Sejumlah infrastruktur desa pembangunannya dibiayai oleh mereka yang merantau ke negeri Paman Sam. Jika desa menggelar kegiatan, mereka nyah-nyoh mengeluarkan sumbangan. Atau jika ada penduduk yang membutuhkan bantuan, dengan ringan tangan mereka membantu dari sisi finansial. "Mereka ngrumangsani, karena merantau jauh, pulangnya setahun sekali, sementara keluarga di kampung dipasrahkan sama tetangga-tetangga. Jadi kepedulian sosialnya tinggi," ujarnya. Rata-rata penduduk kampung yang bekerja di kapal pesiar mewah itu, menyelesaikan pendidikan pariwisata setara D1 atau D2 di akademi-akademi pariwisata, yang mendidik mahasiswanya untuk siap bekerja sebagai kru kapal pesiar. Dengan bekal ijazah plus kemampuan bahasa Inggris mereka melamar di perusahaan HAL atau Carnival. Jika lulus, mereka siap berlayar ke negara-negara di berbagai benua, mengikuti rute kapal, melayani tamu-tamu mancanegara. Meski secara kasat mata, dengan imbalan dolar yang diperoleh, kehidupan mereka bisa dibilang sangat mapan, namun bebannya berat. Maklum mereka harus meninggalkan kampung dalam waktu cukup lama. "Kalau sudah berkeluarga, rasane abot banget. Kalau masih bujang, bagus untuk cari modal," ungkap Mulyono Sumodiharjo, penduduk Pengkol. Godaan Berat Menurutnya, perusahaan memang mempunyai kebijakan bisa memberi cuti panjang pada karyawannya. Bahkan, kalaupun ada karyawan yang sudah turun darat lebih dari dua atau tiga tahun, masih bisa bekerja kembali di perusahaan kapal pesiar tersebut. "Asalkan tidak memiliki kesalahan selama bekerja, karyawan tetap bisa masuk lagi, meski sudah cuti lama," ujarnya. "Godaannya itu banyak. Kalau tidak kuat iman, bisa-bisa kerja tidak dapat apa-apa." Godaan paling berat adalah meninggalkan keluarga untuk jangka waktu lama. Biasanya, kru kapal merantau antara tujuh atau delapan bulan, hingga satu tahun, sebelum cuti reguler selama tiga sampai empat bulan. "Biaya untuk telepon keluarga itu, kalau dikumpulkan bisa banyak sekali. Tiap dua hari sekali telepon. Wawasannya memang luas, tapi di pikiran kadang rasanya bunek. Kadang mikir, opo arep melu kapal terus?" tuturnya. Perasaan berat jauh juga diakui Suyadi. Dia mengaku istrinya ditinggal berlayar selang dua hari setelah menikah. "Hamil ditinggal. Pulang, anak saya sudah lahir. Anak ketiga saya malah sempat tidak ngakoni saya sebagai bapak. Waktu itu, dia diajak menjemput saya di airport, saat saya dapat cuti. Sama istri saya dibilang, ini bapak. Anak saya njawab, bukan, ini bukan bapak. Ini om. Wah, saya keloro-loro," ujarnya. Ekawati, penduduk Pengkol, yang suaminya, Joko Warsito, bekerja sebagai kru kapal pesiar juga demikian. "Duitnya banyak, tapi apa-apa saya sendirian," ujar wanita yang menikah dengan Joko tahun 1996, empat tahun setelah lelaki itu bekerja sebagai kru kapal pesiar. Meski mengaku berat, ia sadar dengan risiko menjadi istri seorang pelayar. Apalagi di desanya, banyak tetangga senasib, ditinggal hingga berbulan-bulan.(Irfan Salafudin-77) | ||||