logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 23 Desember 2007 NASIONAL
Line

Cermin Dibelah


MAS Celathu sedang tersengat bunyi pepatah lama, ''buruk muka cermin dibelah''. Rupanya dia belum bisa membedakan antara yang tersurat dan tersirat. Apalagi makna tersirat dari sebuah pepatah. Disangkanya pepatah itu kalimat perintah. Karena itulah, begitu melihat (citra) dirinya remuk, makanya dia jadi benci pada cermin. Berjalan ke mana-mana, Mas Celathu menenteng kapak. Ingin membelah cermin. Sudah dua cermin yang ambyar dikapaknya. Pyaaarr!!! Satu cermin di kamar mandi. Satunya lagi di kamar tidur. Dua-duanya kini bukan hanya terbelah, tapi hancur berkeping-keping.

Semua orang di rumah keluarga Celathu heran. Entah setan mana yang sedang ngangslupi-nya. Ini bukan adat sabannya. Bukan murni tabiatnya. Bukankah selama ini Mas Celathu dikenal sebagai orang yang dawa ususe alias penyabar yang cerdik mengelola emosinya? Atau jangan-jangan dia sedang kangslupan kepala polisi dari wilayah timur, yang pekan lalu ''ngamuk'' dan bahkan mau ''mencekal'' tukang main sandiwara karena Pak Polisi itu melihat pantulan ''buruk muka'' dari ''cermin'' yang dimainkan tukang sandiwara itu?

Mas Celathu memang mendengar kisah itu. Dari koran. Konon, lakon monolog Sarimin yang dimainkan tukang sandiwara itu, memotret carut-marut hukum negeri ini. Dengan telanjang, lakon jenaka yang bikin penonton cekakakan itu, memperlihatkan bagaimana moralitas aparat hukum yang amburadul. Polisi dan pengacara digambarkan gemar ngerjain wong cilik yang lugu dan jujur. Dalam kisah itu diceritakan, bukan hanya kejahatan yang bisa menyebabkan seseorang nyemplung penjara. Tetapi sebuah kejujuran pun, bisa membikin orang macam Sarimin terpeleset masuk bui. Agaknya, sebagai pejabat publik Pak Polisi belum siap dikontrol publik. Tidak siap melihat ''buruk muka'' yang terpantul tanpa basa-basi. Dan karena itulah, Pak Polisi jadi ingin ''membelah'' cermin yang telah mempermalukan diri dan korpsnya itu.

''Tolong, jauhkan cermin dari rumah ini. Jangan sampai aku melihat wajahku lagi,'' pinta Mas Celathu dalam nada tinggi, masih sambil memegang kapak. Ketiga anak Mas Celathu buru-buru menyingkir. Takut jadi korban salah sasaran. Hanya Mbakyu Celathu yang dengan cool dan penuh kelembutan, mengingatkannya. ''Sampean itu ya aneh. Cermin kok disalahkan. Kalau memang tidak suka melihat kejelekan penampilan diri sendiri, ya Sampean itu harus mawas diri. Makanya harus banyak olah raga dan kalau makan jangan sembarangan.''

''Tapi cermin itu seperti mengejek diriku. Aslinya aku ini kan nggantheng. Dan karena itulah kamu mau jadi istriku. Masa sekarang setiap aku bercermin, yang terlihat sosok monster. Ini kan pelecehan. Berarti cermin-cermin itu telah menghinaku,'' sergah Mas Celathu.

Tak Masuk Akal

Demi mendengar alasan suaminya yang cukup ngawur, Mbakyu Celathu tak kuasa menahan geli. Dua alasan yang dilontarkan belahan jiwanya itu, tidak mencerminkan kualitas kearifan yang selama ini dikenali. Sama sekali tak masuk akal. Pertama, dirinya mau dikawini Mas Celathu dua puluh tujuh tahun lalu, bukan lantaran nggantheng tidaknya lelaki itu. Melainkan ya karena ada komitmen sehidup semati dalam kepahitan maupun kebahagiaan. Yang kedua, bahwa sekarang suaminya seperti monster, wajahnya bengkak mlethat-mlethot dengan perut buncit pating plenthung dan rambutnya pada rontok, itu ya lantaran gaya hidupnya yang cuek pada kesehatan.

''Saya kan sudah ingatkan berulang-ulang, eling diabetes dan kolesterol Mas. Kalau makan seafood jangan sembarangan. Diperingatkan bola-bali tetep ngeyel. Sokuuur... kalau sekarang kena alergi. Masa apa pun yang dihidangkan, kok dimakan tanpa kendali. Itulah akibatnya kalau bandel,'' jawab Mbakyu Celathu sambil ngedumel, ''Lha wong yang salah dirinya, kok cermin yang disalahkan.''

Sekarang Mas Celathu meletakkan kapak. Tapi, dia tetap belum ingin dipersalahkan. Kerakusan dalam urusan memanjakan lidah dan ketidakpeduliannya menjaga kesehatan tubuh, baginya tetap bukanlah penyebab utama terjadi ''buruk muka'' itu. Karena itulah sebagai kepala keluarga yang memiliki kuasa full power, sekarang Mas Celathu memerintahkan, ''Karena saya pemimpin keluarga, maka seluruh interior di dalam rumah ini akan saya evaluasi keberadaannya. Untuk sementara, semua cermin di rumah ini dan apa pun yang diperkirakan bisa memantulkan diriku, harus ditutup kain. Ini perintah dan harus dilaksanakan!''

Bukannya melaksanakan perintah, Mbakyu Celathu justru melengos balik kanan. Menghadapi kebijakan yang ngawur macam itu, sebenarnya Mbakyu Celathu pengin mengingatkan suaminya. Dalam istilah demonstran, ''Lawan!'' Tapi berhubung naluri keibuannya masih menyertai, ia lebih baik pergi menghindar. Dia tak ingin terlibat terjadinya ''peperangan'' hanya karena masalah remeh-temeh. Bagaimana pun, Mbakyu Celathu tetap menduga, apa yang sedang terjadi bukan maunya sang suami. Mungkin ia sedang kerasukan, sedang teler, atau sedang latihan sandiwara menirukan karakter-karakter manusia yang bertebaran di sekeliling.

''Lho, lho, lho...diajak omong kok malah kabur,'' cegah Mas Celathu ketika menyadari istrinya ngeloyor hendak meninggalkan dirinya.

''Sampean itu tidak sedang ngomong. Tapi ngelindur. Dibiarkan ngoceh, malah ngelantur. Mending kalau ngelanturnya bermutu...''

Yah, itulah sepotong drama absurd yang suatu hari terjadi di rumah keluarga Celathu. Kita belum tahu akhir kisahnya. Apakah Mas Celathu akan menuruti nasehat isterinya, menghalau kebiasaan buruknya secara drastis, sehingga dirinya tidak ''buruk muka'' lagi. Atau justru tetap ngotot memaksakan kehendak mencekal cermin-cermin dengan membungkusnya pakai kain, supaya sang cermin tidak bisa lagi memantulkan kenyataan kehidupan.

Kita sama-sama belum tahu lanjutannya. Yang terdengar cuma suara Mbakyu Celathu yang lagi-lagi ngedumel, ''Kalau memang buruk muka, cermin janganlah dibelah. Eman-eman. Dijual aja. Bisa nambah penghasilan.'' (35)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA