logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 22 Desember 2007 NASIONAL
Line

Penegakan HAM Baru Sebatas Norma

JAKARTA- Penegakan hak asasi manusia (HAM) di Indonesia dinilai baru sebatas norma dan belum sebagai bagian dari instrumen politik. Hal itu terlihat dari berbagai kebijakan politik dan undang-undang yang dilahirkan.

"UU Perkebunan, UU Penanaman Modal dan sebagainya justru menimbulkan masalah besar atas penegakan HAM bagi rakyat," kata Direktur Eksekutif Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM), Agung Putri, dalam diskusi bertajuk 'Kepemimpinan Tanpa Visi' di Gedung YTKI Jakarta, Jumat (21/12).

Menurutnya, belum ada standar tentang hak hidup bagi rakyat secara jelas. Hal ini terlihat dari jelasnya soal hak kebebasan berkumpul, pencemaran nama baik dan sebagainya. Saat ini juga terjadi sentralisasi baru di tingkat lokal dan terjadi fragmentasi habis-habisan dalam politik rakyat akibat globalisasi.

Gerakan Moral

"Perkembangan HAM Indonesia jauh tertinggal dibanding dengan penegakan HAM ditingkat internasional. Negara kita tidak bisa lagi meninggalkan HAM dalam berbagai kebijakan dan langkah yang dibuat," ujarnya.

Dia menambahkan, meski gerakan sosial di masyarakat -mulai dari kaum buruh, kaum adat, kaum miskin dan sebagainya- menguat, tetapi gerakannya terfragmentasi.

"Gerakan yang ada sekarang menjadi stagnan atau kehilangan kemampuan untuk membentuk artikulasi politik. Dalam banyak hal, gerakan sosial masyarakat tidak pernah berbuah menjadi tuntutan politik dan sekadar menjadi gerakan moral," paparnya.

Sementara Direktur Litbang Universitas Paramadina, Bima Arya, menjelaskan, khasanah politik ditentukan oleh aktor-aktor politik. Akibatnya, kepemimpinan nasional menjadi lemah.

"Misalnya, ketua umum sebuah parpol yang rajin mendanai alias saudagar, justru membuat kepercayaan rakyat menurun. Liberalisasi hanya memunculkan kultur pemimpin transaksional, bukan pemimpin yang transformatik," tegasnya.

Dikatakan, masyarakat Indonesia masih ingin adanya figur yang kharismatik.

"Untuk itu, kita harus melangkah kepada pemimpin kharismatik yang bisa melahirkan pemikiran-pemikiran baru atau transformatik," tukasnya. (H28-48)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA