| Sabtu, 22 Desember 2007 | NASIONAL |
Sunan Kalijaga dalam Sendratari (2-Habis)Kembali Mendekatkan Jarak Agama dan Senisakwijine wali ing tanah Jawa asale brandal ing Lokajaya nduwe klambi kotang antakusuma gawe miris musuh lan kanca ,DI jajaran Wali Sanga, Sunan Kalijaga dikenal sebagai yang relatif paling akomodatif terhadap budaya lokal. Dengan cerdas, wali yang semasa muda dikenal sebagai Brandal Lokajaya itu, memanfaatkan medium seni dan budaya untuk melakukan syiar agama. Sunan Kalijaga mengawin-mawinkan Islam dengan anasir budaya Jawa, seperti memasukkannya ke dalam syair-syair macapat, mereka kidung, hingga memodifikasi wayang kulit. Maka, menyebarlah Islam yang akomodatif, tak menumpas mati budaya Jawa. Tautan mesra antara agama dan seni budaya itulah yang menginspirasi Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) mementaskan sendratari "Lelaku Guru Sejati Sunan Kalijaga", di makamnya yang terletak di Kadilangu, Demak, Selasa (18/12) malam. Sendratari itu diharapkan bisa menjadi titik balik untuk kembali menautkan jarak agama dan seni budaya. Dalam perbincangan sebelum pertunjukan, Ketua Lesbumi Al Zastrouw Ng yang menjadi konseptor pementasan itu memaparkan, kisah Sunan Kalijaga kontekstual untuk kembali didedahkan di era kekinian. Sebab, kata dia, sekarang ini pemahaman keberagamaan yang didominasi formalisme, membuat agama seperti berjarak dengan seni budaya. "Keberhasilan dakwah Sunan Kalijaga dalam mengislamkan Jawa tanpa kekerasan, kini layak untuk direvitalisasi di tengah-tengah kekalutan pada kekerasan atas nama agama," katanya. Lesbumi, kata Zastrouw, berencana untuk mengelilingkan sendratari semacam "Lelaku Guru Sejati Sunan Kalijaga" di sejumlah makam penyebar Islam di Tanah Jawa. Hal itu, sebagai bagian dari "kampanye" menyebarkan wajah Islam yang rahmatan lil alamin. Sebelumnya, Lesbumi pernah mementaskan sendratari semacam ini di makam Sunan Drajat. "Kami ingin menghidupkan kembali spirit Sunan Kalijaga dalam berdakwah melalui pendekatan tradisi dan budaya," kata Zastrouw. Senada, R Budirun dari Paguyuban Ahli Waris Sunan Kalijaga mengatakan, Sunan Kalijaga memberikan teladan dengan berdakwah tanpa mematikan. Kosa budaya Jawa yang telah ada sebelum Islam masuk, tetap diberikan kesempatan untuk menghirup udara kehidupan. "Bahkan, tetap diuri-uri dengan diberi tambahan muatan nilai-nilai keislaman," imbuh priayi dari Yogya itu. Menemu Wujud Di panggung, pernyataan Zastrouw dan Budirun menemukan wujudnya. Pada sendratari "Lelaku Guru Sejati Sunan Kalijaga", koreografer Wahyudianto dari ISI Surakarta mengeksplorasi berbagai gerak untuk menghidupkan kisah Sunan Kalijaga. "Kami mengeksplorasi berbagai gerak, yang memang sudah menjadi aktivitas sehari-hari kami, untuk menghidupkan kisah Sunan Kalijaga. Termasuk di antaranya, mengembangkan gerakan-gerakan shalat menjadi gerak tari," terang Wahyu. Sebelumnya, Sanggar Ki Ageng Ganjur Yogyakarta menghadirkan kidung-kidung karya Sunan Kalijaga dihadirkan dengan sentuhan modern, mulai pop, rock, hingga jazz, sesuai tuntutan zamannya. Juga salawatan dan puji-pujian yang acap diperdengarkan di langgar, musala, atau masjid sebelum shalat. Sanggar Ki Ageng Ganjur Yogyakarta mengolaborasikan peranti musik diatonis dan pentatonis sehingga hadir kidungan yang fresh, dan tentu saja, tetap merak ati. Salah satu di antaranya, tembang Dandanggula "Kidung Rumeksa ing Wengi", yang dikenal dengan nama Kidung Purwajati. Kidung yang acap digunakan sebagai tolak bala itu mengalun lembut, menyentuh hati siapa saja yang mendengarnya. "Ana kidung rumeksa ing wengi/ teguh hayu luputa ing lara/ luputa bilahine kabeh/ jim setan datan purun/ paneluhan tan ana wani/ miwah panggawe ala/ gunaning wong luput/ geni atemahan tirta/ maling adoh tan ana ngarah ing mami/ guna duduk pan sirna//." (Achiar M Permana-60) |