| Sabtu, 22 Desember 2007 | NASIONAL |
Akbar: Presiden dari Parpol PemenangSEMARANG - Mantan Ketua DPR Dr Ir Akbar Tandjung menyatakan, presiden terpilih 2009 hendaknya berasal dari parpol terkuat (pemenang). Hal itu untuk menghindari tawaran politik antara presiden dengan parpol yang duduk di parlemen (DPR). "Saya melihat pemerintahan sekarang seperti itu (ada tawaran-Red). Pasalnya presiden sekarang berasal dari parpol yang tidak kuat di parlemen sehingga ada semacam kekhawatiran akan ada 'serangan' dari parlemen. Oleh karena itu tercipta koalisi parpol untuk mengamankan pemerintahan agar kuat," kata dia saat menjadi pembicara dalam Refleksi Akhir Tahun 2007 Bidang Politik dan Pendidikan yang digelar oleh Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang, Jumat (21/12) malam. Bagi Akbar lebih idealnya lagi jika presiden terpilih nantinya memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi. Dengan begitu setiap ada kebijakan, termasuk menyusun kabinet tidak akan ragu. Hal itu didasari karena telah mendapatkan dukungan dari rakyat secara penuh melalui pemilihan langsung. "Kalau seperti ini memang dibutuhkan seorang figur yang kuat. Sikap dari parlemen tidak akan menggoyahkannya sampai harus beberapa kali merombak susunan kabinetnya," ujar Akbar yang sekarang menjabat sebagai Direktur The Akbar Tandjung Institute. Dengan munculnya banyak partai, menyebabkan presiden terpilih akan mengalami kebimbangan dalam menyusun kerangka bernegara. Komunikasi politik pun kerap bersinggungan dengan kepentingan sesaat. Karena itulah setidaknya pada 2008 nanti perlu dibangun sistem politik yang kuat. Mantan Ketua Umum Partai Golkar itu melihat sistem ketatanegaraan sekarang ini cukup membingungkan antara presiden dan DPR. Terkadang presiden bisa menentukan sendiri, namun dari parlemen menolaknya. Sebaliknya dari parlemen kadang kewenangannya melebihi presiden. Masing-masing memiliki jalur yang berbeda. (H37,H7-62) |