| Jumat, 21 Desember 2007 | NASIONAL |
Kecelakaan di KlatenAndai Sabar Menunggu OmprenganWAJAH wanita paruh baya itu tampak kuyu ketika duduk di lincak bambu dekat rel KA Desa Tangkisan Pos, Kecamatan Jogonalan, Klaten. Mukanya pucat dan kelopak matanya sembab usai menangis. Dua buah kartu tanda penduduk (KTP) dipegangnya erat bersama dua giwang dan satu cincin. KTP itu milik Widodo (41) dan istrinya Dwi Riyanti (35) yang tewas mengenaskan tersambar KA Prameks Kamis (20/12) siang. Sementara cincin itu sepasang adalah cincin perkawinan keduanya. "Andai saja sabar menunggu mobil omprengan mungkin tidak akan seperti ini," ujar Suminah, ibu kandung Dwi Riyanti. Dia tidak menyangka tiga orang dekatnya-seorang lagi Walini (52), warga Dusun Tegal Pasir, Desa Joton, Kecamatan Jogonalan-akan pergi selamanya dalam sehari. Sesaat sebelum kecelakaan itu, sebenarnya dia sudah meminta menantunya, Widodo, untuk bersabar menunggu mobil omprengan. Sebab selain cuaca mendung, rombongan keluarga yang akan melayat ke rumah saudara mereka yakni Ripin, warga Desa Ketitang, Kecamatan Jogonalan juga ada sembilan orang termasuk ketiga korban. Keluarga Harmonis Setelah berkumpul di rumah Walini, di Dusun Tegal Pasir, Desa Joton mereka berencana mencarter mobil karena jarak tempat takziah cukup jauh. Namun, Widodo tidak sabar menunggu salah seorang anggota keluarga yakni Slamet yang mencari mobil. Meski sudah diminta bersabar, Widodo nekat membawa istri dan bibinya berboncengan satu sepeda motor pergi lebih dulu sekitar pukul 13.15. Namun nasib nahas menimpa mereka di perjalanan. Suminah mengaku rumah tangga putrinya termasuk harmonis. Menantunya bekerja sebagai tukang batu. Kini, tiga cucunya yang semuanya bersekolah harus hidup tanpa orang tua. Haryono, adik korban mengatakan, sebelum berangkat dia juga sudah menasihati Widodo agar tidak memilih jalur di Dusun Tangkisan Pos yang tanpa palang pintu. "Saya anjurkan melewati Stasiun Srowot meski agak jauh tetapi aman," ujar dia. Namun rupanya nasihat itu tidak digubris. Dia sendiri berangkat melayat sejak pagi, sehingga tidak bersama rombongan. (Achmad Hussain-60) |