logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 21 Desember 2007 NASIONAL
Line

Truly Indonesia, Terima Kasih Malaysia

PADA mulanya adalah kemarahan. Setelah itu terbitlah iklan. Rabu (19/12), Sido Muncul memang meluncurkan iklan Tolak Angin ''Truly Indonesia'' yang dibintangi oleh Butet Kartaredjasa dan Agnes Monica di Anjungan Bali, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta. Dalam iklan berdurasi 1 menit dan berilustrasi lagu ''Rasa Sayange'' itu, Butet menyatakan betapa Indonesia memiliki kekayaan budaya semacam angklung, reog Ponorogo, batik, Tari Pendet, Hombo Batu, dan Tari Folaya. Diselingi visualisasi indah kesenian yang diduga diklaim oleh Malaysia itu, Butet bilang, semua itu merupakan kesenian asli Indonesia. Karena itu sambil melempar kerling menggoda, Agnes menyebut segala hal yang terpajang dilayar sebagai truly Indonesia.

Kok mirip tagline turisme Malaysia, ''Malaysia Truly Asia''? ''Ya ini memang merupakan sindiran terhadap Malaysia. Ini upaya kami menjaga kesadaran budaya. Lewat iklan ini saya mengajak bangsa kita berbalik arah dari abai ke kepedulian yang tinggi terhadap budaya,'' kata Direktur Perusahaan Jamu Sido Muncul, Irwan Hidayat.

Tak hanya ''melawan'' dengan iklan, melibatkan moderator Efendi Ghazali dari Republik Mimpi, Hidayat juga mengajak budayawan Mohamad Sobary, rohaniwan Romo Muji Sutrisno, praktisi media Arswendo Atmowiloto, teaterawan Putu Wijaya, dan anggota DPR Alvin Lie menggagas persoalan itu dalam Sarasehan Cinta Budaya Indonesia bertema ''Indonesia is Truly Indonesia''.

Hasilnya sungguh tak terduga. Sobary setelah panjang lebar menyatakan berbagai teks sastra Indonesia juga sudah dicuri Malaysia, ia menutup opini dengan mengatakan, ''Kita ini memang sedang tertatih-tatih menuju manusia Indonesia. Tidak mudah. Sudah begitu kok ada yang mencuri budaya Indonesia. Jadi, bangsatlah pencurinya.'' Adapun Romo Muji justru melihat fenomena ini sebagai kesempatan untuk meraba keindonesian kita kembali. Keindonesiaan yang terlihat maupun yang tak terlihat.

Provinsi Ke-34

Meskipun demikian, Arswendo malah berharap semua budaya Indonesia diklaim oleh Malaysia. ''Biarkan batik diambil. Biarkan angklung diambil. Biarkan reog diambil. Biarkan pulau kita diambil. Biarkan semuanya diambil, asal Malaysia menjadi provinsi ke-34 Indonesia,'' ujar pria kocak ini dalam mimik serius.

Butet yang tampil membacakan monolog ''Orang Pinter Menjaga Tradisi'' juga membiarkan Malaysia mengklaim apa pun yang dimiliki Indonesia. ''Asal ia juga mengambil ranking nomor satu kita sebagai negara terkorup,'' kata pria yang monolog Sarimin-nya hampir dicekal di Surabaya itu.

Yang menarik, Putu Wijaya malah mengucapkan terima kasih kepada Malaysia. ''Jika Malaysia tidak mengambil segala budaya kita, kapan kita berteriak-teriak mengenai kebudayaan kita? Hanya saya ingatkan, kita tak perlu marah-marah kepada Malaysia. Kita harus berani marah kepada diri sendiri mengapa sampai budaya-budaya kita diambil orang. Kita harus marah pada diri sendiri karena kenyataannya kita tidak menjaga kebudayaan.''

Apa pendapat politikus? Alvin Lie bersyukur karena ada iklan dan sarasehan yang menggugah kebersamaan kita sebagai bangsa. ''Kebersamaan kita sedang berada dalam krisis. Diperlukan apa pun yang memungkinkan orang menghargai kebersamaan. Tapi, apakah cukup berkualitas kebersamaan yang timbul akibat kemarahan kepada Malaysia? Dalam situasi yang semacam ini, saya kira kita harus menjaga martabat. Jika Pak Irwan bergerak di jalur bisnis, saya akan bergerak di jalur politik.''

Selesai? Belum. Penyanyi jazz Iga Mawarni justru membocorkan beberapa hal yang membuat forum bimbang menentukan sikap. ''Hati-hati bertindak. Setelah melakukan berbagai pengamatan, saya menangkap kesan Malaysia tak pernah mengklaim apa pun yang dimiliki oleh Indonesia. Bahkan muncul informasi yang membuat iklan promosi berlagu 'Rasa Sayange' itu ternyata orang Indonesia. Jadi, sebaiknya kita rasional dalam memandang segala hal. Jangan reaktif.''

Pernyataan Iga diamini oleh Putu. ''Ya, setelah hiruk-pikuk ini selesai, kita sebaiknya segera menyadari keabaian kita pada budaya.''

Lalu, apakah Hidayat salah melakukan reaksi lewat iklan itu? Tak ada jawaban. Yang jelas iklan Sido Muncul dan iklan layanan yang dipersembahkan perusahaan jamu itu kepada pemerintah secara simbolis diberikan kepada anggota DPR Bambang Sadono.

''Saya hanya ingin menggugah kesadaran rakyat lewat iklan ini paling tidak selama dua bulan. Setelah itu, saya berharap siapa pun bisa terlibat menjaga kesadaran untuk mencintai produk budaya yang selama ini diabaikan,'' kata Irwan menandaskan.

Jadi, silakan ikut ''marah'' setelah menyaksikan Butet dan Agnes menggedor kesadaran Anda. (Triyanto Triwikromo-46)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA