logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 21 Desember 2007 NASIONAL
Line

Sunan Kalijaga dalam Sendratari (1)

Kisah tentang Islam yang Menyejukkan Hati

Tepat sehari sebelum pembukaan Garebeg Besar Demak, Selasa (18/12), Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) bekerja sama dengan Paguyuban Ahli Waris Sunan Kalijaga menggelar sendratari ''Lelaku Guru Sejati Sunan Kalijaga''. Achiar M Permana menuliskan tafsir estetik atas kisah hidup Sunan Kalijaga itu.

KEJAYAAN acapkali menjerembabkan seseorang, sesaleh apa pun, pada riya. Gejala semacam itu muncul di kalangan Wali Sanga, ketika Kasultanan Demak Bintoro mencapai puncak kejayaan, menyusul keberhasilan dakwah para penyebar Islam di Tanah Jawa tersebut. Para wali terjebak pada sikap simbolik, berlomba memamerkan kesalehan dan kehebatan melalui simbol pakaian.

Dihantui keresahan atas pengarusutamaan simbolisme itu, Sunan Kalijaga tergerak untuk melakukan pelurusan. Maka, waliyullah yang dikenal dengan pendekatan budayanya itu pun menyamar sebagai kakek pencari rumput bernama Kaki Waloko. Liding dongeng, lewat sosok Kaki Waloko, Kanjeng Sunan berhasil menyadarkan para Wali.

Kisah itu dipentaskan dengan sangat menarik, dalam wujud seni drama dan tari (sendratari) ''Lelaku Guru Sejati Sunan Kalijaga'', Selasa (18/12) malam. Pentas tersebut digelar Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) di kompleks makam Sunan Kalijaga di Kadilangu, Demak. Untuk mewujudkan kisah itu, Lesbumi bekerja sama dengan ISI Surakarta dan Sanggar Ki Ageng Ganjur, Yogyakarta.

Tak urung, pementasan berdurasi sekitar dua jam itu menarik perhatian ratusan penonton. Terlihat di antara mereka, Hj Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid (istri Gus Dur), Wakil Bupati Demak KH Muhammad Asyiq, serta sesepuh Paguyuban Ahli Waris Sunan Kalijaga, R Moh Soedioko. Sebelum sendratari, dilaksanakan istighotsah, tausiyah Ketua PBNU KH Said Agil Siradj, serta musik religi oleh Sanggar Ki Ageng Ganjur Yogyakarta.

Semula, para wali merasa terganggu dan terlecehkan, dengan masuknya Kaki Waloko yang seorang rakyat jelata ke lingkungan istana Demak. Mereka kemudian melakukan upaya untuk menyingkirkan kakek tua pencari rumput itu. Tapi, upaya itu gagal, yang terjadi justru pertikaian antara para wali sendiri.

Ketika para wali berupaya mengejar, Kaki Waloko tak juga berhasil diketemukan. Para wali hanya berputar-putar di sekeliling padepokan Ki Waloko, tanpa bisa menjumpai orang yang mereka cari. Akhirnya, para wali disadarkan oleh Kaki Waloko, yang telah badar menjadi Sunan Kalijaga.

Lewat tokoh Kaki Waloko, Sunan Kalijaga melakukan proses enlightning (pencerahan) terhadap para wali. Kepada mereka, Sunan Kalijaga menjelaskan, mereka tersesat karena hati dan pikiran yang tidak bersih sehingga menutup jalan yang lempang. Dikatakannya, agama bukan sekadar pakaian dan kesalehan yang harus dibangga-banggakan melainkan ketetapan hati yang diwujudkan dalam sikap dan laku. Kesalehan adalah kebersihan hati, kepasrahan, dan keikhlasan jiwa untuk manembah kepada Allah.

Selintas kilas, penyamaran Sunan Kalijaga itu mengingatkan saya pada kisah Adipati Semarang Ki Ageng Pandanaran. Untuk menyadarkan Ki Ageng yang terlena oleh silau rajabrana, Sunan Kalijaga juga dikisahkan menyamar sebagai penjual rumput. Ending kisah pun serupa, Ki Ageng tersadar dan akhirnya memilih menanggalkan jabatannya, nenepi mendekatkan diri kepada Sang Pencipta di Tembayat, Klaten.

Gerakan Shalat

Kepada Suara Merdeka, Ketua Lesbumi Al Zastrouw mengatakan, kisah yang disendratarikan dipetik dari Serat Kaki Waloko, sebuah karya sastra lama yang mengisahkan pengembaraan Sunan Kalijaga setelah Kasultanan Demak berdiri. Kisah itu, kata dia, terbilang jarang diungkap, dibandingkan cerita masa lalu Sunan Kalijaga ketika masih menjadi berandal.

''Kisah yang lebih populer, kan tentang Sunan Kalijaga semasa masih jadi berandal Lokajaya. Sering diceritakan, bagaimana dia merampok, mencegat Sunan Bonang, terpukau kolang-kaling berwarna keemasan, terus diminta menjaga tongkat di pinggir kali, sampai akhirnya menjadi Sunan Kalijaga,'' katanya.

Tapi, kisah Sunan Kalijaga setelah syiar Islam berhasil, relatif jarang diungkap. Padahal, kata Zastrouw, kisah itu kontekstual untuk masa saat ini. (46)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA