| Jumat, 21 Desember 2007 | NASIONAL |
KECELAKAANMudik Hari Raya yang Berakhir Duka
Keinginan dua keluarga dari Jakarta untuk mudik pada libur bersama Idul Adha dan Natal berselimut mendung. Tiga anak-anak yang masih kerabat tewas saat kendaraan yang ditumpangi disambar KA. Lagi-lagi, kejadian itu terjadi di perlintasan KA tanpa palang pintu. TINA Sari (36) terus menangis di ruang Unit Gawat Darurat (UGD) RSUD Kebumen, Kamis (20/12). Ia seolah tak peduli pada rasa sakit akibat luka di tubuhnya. Ibu tiga anak itu terus meratap sembari memegang erat tangan Irfangi (34), suaminya, yang masih terkulai di hadapannya. Sementara tiga anaknya berada di ruang terpisah. Dua di antaranya yakni M Yusuf Irfan (8 tahun 6 bulan) dan Nikmatul Hasanah (4) sudah tertutup kain putih. Bercak-bercak merah darah yang merembes dari bekas luka anak sulung dan bungsunya yang sudah dipanggil Yang Kuasa. Ada pun seorang anaknya bernama Rizki (5 tahun 6 bulan) dalam kondisi kritis. Rizki menderita robek di bibir, dahi, kepala serta sejumlah giginya patah. Ia sungguh tak menyangka, mudik Lebaran Idul Adha itu akan berakhir dengan duka. Dua anaknya telah pergi jauh, dan tidak akan kembali selama-lamanya. Sedangkan, seorang buah hatinya lagi masih berjuang di antara hidup dan mati. Mengingat itu semua, tangis perempuan asal Batam yang bersuami warga Sumberadi Kebumen itu makin menjadi-jadi. Apalagi tatkala melihat suaminya dalam kondisi tak berdaya duka itu semakin dalam. Suasana duka menyelimuti ruangan itu. Sejumlah famili berusaha menghibur dan membesarkan hatinya. Namun rasa sedih kehilangan anak-anak yang dicintai tidak begitu saja segera hilang. Air matanya terus bercucuran mengiringi tangisan yang tanpa suara itu. Sementara Ade Abdulrahman (43) dan Taryumi (34) istrinya salah satu korban tertabrak KA Taksaka II juga membisu. Dengan tatapan kosong mereka hanya mampu melihat dua anaknya Nabila (3) dan Hila Amida (1,4) yang terkulai. Sementara untuk menerima kenyataan bahwa putri sulungnya Zakiyah (5) sudah pergi untuk selamanya, mereka belum sanggup. Ah, andai waktu bisa terulang. Tentu ia akan mengabulkan permintaan keluarga Irfangi untuk diturunkan di tepi jalan raya Kebumen-Kutoarjo. Kijang yang dikemudikannya pun tidak harus melintas di perlintasan KA. "Sebenarnya mereka (keluarga Irfangi-red) sudah minta diturunkan di jalan raya," tutur Ade dengan ucapan terbata-bata. Ya, keluarga Irfangi rencananya akan pulang ke rumahnya di Desa Sumberadi RT 2 RW 2 yang terletak sekitar satu kilometer arah utara dari jalan raya dengan naik becak atau ojek. Untuk itu mereka minta diturunkan di jalan raya, sehingga Ade bisa langsung melanjutkan perjalanan kembali menuju Yogyakarta. Namun, karena tidak tega, Ade rencananya akan mengantarkan keluarga saudara iparnya itu sampai ke rumah. Namun takdir berkata lain, KA 42 Taksaka II jurusan Jakarta-Yogyakarta yang meluncur dengan kecepatan tinggi menjadi penanda duka dua keluarga muda pada hari raya Idul Adha. Diperoleh informasi, Taryumi dan Tina Sari merupakan saudara kandung. Karena satu arah, mereka pun mudik bersama-sama dengan menggunakan satu mobil milik Ade suami Taryumi. "Saya tidak melihat kalau ada kereta api akan lewat," tambah Ade. Ade dan istrinya masih tampak terguncang. Pupus sudah harapan merayakan hari raya Idul Idha bersama keluarga di kampung halaman. Pasalnya yang tersiasa hanya tinggal duka. Tak ada pula ucapan selamat hari raya. Melainkan yang mereka terima adalah ungkapan duka cita dari keluarga dan sanak saudara saat pemakaman anak mereka. Sodikin (33) adik Irfangi menuturkan keluarga kakaknya itu pada Lebaran Idul Fitri lalu tidak pulang. Hanya kakaknya seorang diri yang menyempatkan mudik, meski hanya sebentar. Nah, pada libur panjang Idul Adha dan Natal ini, kakaknya yang membuka usaha perakitan komputer mudik. "Tidak menyangka kalau semua akan berakhir begini," ujarnya.(Supriyanto-64) | ||||