| Jumat, 21 Desember 2007 | NASIONAL |
Person of the Year
WASHINGTON - Presiden Rusia Vladimir Putin Kamis kemarin terpilih sebagai Person of the Year 2007 versi majalah Time. Majalah itu memilih Putin dengan pertimbangan dia berhasil mengubah negerinya dari situasi kekacauan ke "kancah kekuatan dunia", kendati dengan mengorbankan prinsip-prinsip demokrasi. Wajah Putin akan muncul pada sampul edisi khusus Time. Tim redaksi majalah itu setiap tahun memilih tokoh yang diyakini membawa dampak terbesar pada peristiwa dunia, entah dampak yang lebih baik atau dampak yang lebih buruk. "Dia memang bukan orang baik, namun dia telah berbuat luar biasa," kata redaktur pelaksana Time Richard Stengel, saat mengumumkan terpilihnya Putin. Pengumuman itu disiarkan oleh stasiun NBC. "Dialah tsar baru Rusia. Dia orang berbahaya karena dia tidak peduli pada kemerdekaan sipil. Dia tidak peduli pada kebebasan berbicara. Dia hanya peduli pada stabilitas. Namun, stabilitas itulah yang dibutuhkan Rusia sehingga warga Rusia memuja dia." Majalah Time dalam situsnya menyatakan, Putin memimpin Rusia dengan sikap tegas, visi yang tajam, dan semangat nasionalisme "Ibu Pertiwi Rusia". Putin berasal dari keluarga kebanyakan. Ayahnya adalah pekerja pabrik, meskipun kakeknya menjadi juru masak diktator Soviet Josef Stalin. Putin menyingkirkan empat nominasi person of the year, yakni mantan wakil presiden Amerika Serikat Al Gore, pengarang Inggris JK Rowling, Presiden China Hu Jintao dan Panglima AS di Irak Jenderal David Petraeus. Pengakuan Deputi juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan, penobatan oleh Time itu adalah pengakuan atas peranan Putin memulihkan kembali kebanggaan bangsa Rusia. Namun, dia membantah pernyataan majalah itu mengenai kebebasan di Rusia yang disebut sebagai produk stereotipe masa lalu. Putin menghabiskan waktu lebih dari dua jam dalam wawancara dengan Time. Kremlin menggambarkan suasana wawancara itu seperti percakapan yang menarik. "Dia sangat puas," kata Peskov. Dia menegaskan, Rusia telah muncul kembali sebagai mitra yang andal dan konstruktif dalam pembentukan hubungan internasional. Namun, kembalinya Rusia dalam kancah internasional juga menimbulkan kerumitan dalam relasi antara Putin dan Amerika Serikat, terutama menyangkut isu soal tekanan AS terhadap Iran. "Jelas, dia adalah tokoh yang sangat menantang dalam sejarah modern," kata juru bicara Gedung Putih Dana Perino. Dia menolak berkomentar soal pemilihan majalah itu. Setelah bertemu Putin untuk pertama kalinya pada 2001, Presiden George W Bush mengatakan, "Saya tahu siapa dia. Saya lihat, dia adalah orang yang tegas dan bisa dipercaya." Sejak pertemuan itu, Putin dan Gedung Putih berselisih pendapat menyangkut beberapa hal, termasuk soal reformasi demokrasi di Rusia dan rencana tameng rudal Amerika Serikat di Eropa timur. Pada Februari lalu, Putin menuduh Amerika Serikat hendak mendominasi dunia. Beberapa hari lalu, Putin mengumumkan rencana untuk tetap memegang kekuasaan setelah lengser dari kursi presiden tahun depan. Dia mengatakan, apabila sekutunya Dmitry Medvedev terpilih sebagai presiden, dia bersedia menjadi perdana menteri. "Putin membawa kembali negeri itu ke panggung dunia. Dia berniat merumuskannya sendiri. Dia akan terus memimpin negeri itu sebagai perdana menteri dan mengubah negeri itu menjadi bangsa baru, tidak berpihak pada Timur ataupun Barat."(rtr-gn-25) | ||||