| Rabu, 19 Desember 2007 | NASIONAL |
Fashion Tendance 2008 APPMI JatengTenun dalam Balutan KontemporerKAIN tenun selalu identik dengan busana tradisional. Namun dalam Fashion Tendance 2008 Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) Jateng, yang diselenggarakan di Santika Premiere Selasa (18/12), tenun disulap menjadi busana cocktail dan gaun malam gaya anak muda. Dalam ajang tahunan APPMI ini, tenun diangkat menjadi tren busana 2008. Taruna K Kusmayadi, ketua umum APPMI Pusat mengatakan, dipilihnya tenun adalah untuk mengingatkan kembali bahwa Indonesia memiliki kekayaan kain-kain tenun yang dapat menjadi nilai tambah dalam desain busana. "Puluhan tahun perajin tenun tak pernah beranjak dari tempatnya. Karena selama ini tenun digunakan sebatas seremonial. Karena itu desainer dan perajin ditantang untuk mengembangkan tenun," ujarnya. Kesan tenun yang cantik dalam balutan kontemporer tampak dalam peragaan busana bertajuk "Weaving the Future". Busana-busana rancangan 11 desainer yaitu Tedjo Nogo Laksono, Ave Sanjaya, Gregorius Vici, Soese Asmadhi, Kesdik Tur Wiyono, Indrawati, Vincent Lee, Christine Wibowo, Pinky Hendarto, Inge Chu, dan Jonathan Titi, memadukan tenun dengan bahan-bahan seperti tule, brokat, shantung silk, satin, chiffon, sutra chiffon, taffeta, sutra organsa, dan lain-lain. Masa Kini Tidak hanya ketepatan dalam memadukan warna dan penggunaan material bahan, tapi juga ketajaman mereka menggali inspirasi yang berbasis tradisional. Kesan kain tenun yang terasa berat dan kaku berganti menjadi ringan dan nyaman dikenakan, di tangan para desainer itu. Tengok saja rancangan Christine Wibowo yang bertema "Dine with Angels". Ia menghadirkan tenun dalam gaya berbeda. Bukan hanya memasukkan tenun sebagai aplikasi, melainkan juga menampilkannya dalam citra gaya hidup masa kini. Dengan nuansa lipat, tekuk dan ikat, ia mencoba mengetengahkan koleksi bergaya modern sekaligus bernapaskan sentuhan etnik lewat penggunaan aplikasi tenun. Begitu juga dengan koleksi Soese Asmadi. Ia justru berani mengangkat warna hitam dalam rancangannya yang bertema "The Magic of Beauty". Ia menggabungkan warna hitam, tenun sutera dari Jepara dan batik Pekalongan dalam kolaborasi gaun malam yang elegan. Busana cocktail ala 60-an hingga 80-an juga ditampilkan desainer muda Gregorius Vici. Sentuhan khas busana Thailand, India dan kebaya Indonesia, dijadikan satu dalam balutan warna-warna hangat gaya kasual. Ia tak cuma menggabungkan tenun polos Jepara dan Klungkung Bali dengan tule dan brokat Prancis. Namun garis sportif elegan yang glamour melambai tegas dalam seluruh koleksinya.(Fani Ayudea, Budi Winarto-60) |