| Selasa, 18 Desember 2007 | NASIONAL |
LAPORAN AKHIR TAHUN BIDANG BUDAYAKebangkitan Peran Kebudayaan Lokal
BUDAYA, tulis Samuel P Huntington dalam Kebangkitan Peran Budaya, memainkan peran besar dalam keberhasilan dan kemajuan (manusia) Korea Selatan. Orang Korea Selatan menghargai hidup hemat, investasi, kerja keras, pendidikan, organisasi, dan disiplin. Perhatian yang besar terhadap kebudayaanlah, tandas penulis The Clash Civilisations and the Remaking of the World Order ini, yang menjadikan Korea Selatan kemudian menjadi raksasa industri dengan ekonomi ke-14 dunia, memiliki perusahaan-perusaan multinasional, mengekspor mobil, alat elektronik, dan barang canggih hasil pabrik lain dalam jumlah besar, dan pendapatan per kapita cukup tinggi. Jepang, pada abad ke-19, setelah hidup dalam sihir militerisme, pada akhirnya juga memilih menggunakan pendekatan kebudayaan untuk memperbarui kehidupan. Dengan bertanya, ''Bagaimana kita bisa melakukan dengan benar?'', Jepang melakukan restorasi. Dalam pandangan David Landes, paling tidak lewat The Wealth and Poverty Nations, orang Jepang memulai modernisasi dengan intensitas dan sistem yang khas. Mereka telah siap untuk itu -dengan kebaikan tradisi (kenangan) akan pemerintahan yang efektif, tingkat melek huruf yang tinggi, keeratan struktur keluarga, etika kerja dan disiplin diri mereka, dan perasaan akan identitas nasional dan keunggulan yang melekat. Kearifan-kearifan budaya lokal semacam itu, pada akhirnya menggerakkan Jepang untuk belajar pada Amerika dan Eropa, dan bernafsu untuk mengubah diri. Tak sekadar mengubah diri, tetapi melakukan loncatan-loncatan kebudayaan yang sangat progresif. Hasilnya, kita tahu, dengan memanfaatkan etika Protestan Weber, para pemimpin Jepang kemudian juga bisa memunculkan anjuran pada rakyat agar memiliki patriotisme baru. ''Cara termudah seseorang untuk mempraktikkan patriotisme adalah mendisiplinkan diri dalam kehidupan sehari-hari, membantu menjaga ketertiban di dalam keluarga, dan melaksanakan secara penuh kewajiban kerjanya.'' Bukan hanya itu, rakyat Jepang juga dianjurkan menabung dan bukan memboroskan uang. Sekarang nyaris tak ada bangsa lain yang berani mengklaim Jepang sebagai negeri kalah perang yang tak beranjak dari kubangan darah para serdadu yang keok. Pendekatan Kebudayaan Bagaimana dengan Indonesia? Apakah setiap tindakan bangsa ini masih menggunakan politik dan ekonomi sebagai panglima? Mungkin di tingkat nasional taksu politik dan ekonomi masih belum tertandingi oleh pendekatan lain. Akan tetapi justru di berbagai kota di Jawa Tengah muncul berbagai pendekatan kebudayaan untuk mengatasi masalah-masalah besar. Sejak 15 hingga 18 Desember, misalnya, di Dukuh Salam, Slawi, Tegal, misalnya, berlangsung ''Festival Sintren pada Musim Hujan''. Ini bukan sekadar pertunjukan yang memamerkan keindahan tubuh penari. ''Lebih dari sekadar eksostisme, melihat sintren adalah memahami dunia transformasi yang dibangun oleh kekuatan sinergitas kecerdasan, daya tahan, dan kebersamaan hidup masyarakat. Dunia antara wilayah rasional dan irasional, dunia menunggu dan bersiap diri, dunia antara ikhtiar dan keyakinan dalam memahamai alam,'' ujar Slamet Gundono, penanggung jawab acara itu. Dengan sintren masyarakat dibawa sejenak melupakan beban kesulitan hidup, digiring ke dalam dunia keinginan dan obsesi menggapai hidup yang lebih baik. Mereka digiring kembali ke dunia anak-anak, bebas bermain di pelataran, mereka-reka impiannya seperti bocah cilik menggambar jagat. Mereka diminta menggambar dunianya kembali sesuai keinginan. Karena itu bertolak dari semangat ''kids drawing the universe'', acara itu memang dipakai sebagai titik berangkat menuju perubahan yang lebih baik. Perubahan ke arah apa? Ke arah memahami ''gejala alam'' dengan memanfaatkan peranti-peranti kebudayaan. Menurut Slamet Gundono, sintren adalah salah satu ikon yang memungkinkan masyarakat secara tradisonal memetakan alam: membaca musim, perubahan iklim ataupun waktu untuk berlayar. Dengan kata lain, festival tersebut sesunguhnya merupakan cara menafsir ulang tanda-tanda atau isyarat-isyarat alam yang sulit diraba. Perubahan iklim yang tak pasti hendak dibaca secara kultural dengan menampilkan kembali memori kolektif rakyat pesisiran tentang alat pembacaan kebudayaan -dalam hal ini sintren- yang terlupakan. Jika memori kolektif itu termunculkan, akan hadir pula daya hidup, spirit bertahan, kreativitas, kearifan lokal dan kepekaan terhadap ekologi. Saran-saran Pembangunan Sebelumnya, pada 20-30 November di Taman Budaya Surakarta, juga berlangsung ''Panggung Seni Seribu Bunga''. Para penyelenggara dengan tegas mengarahkan peristiwa itu bukan hanya sebagai pemujaan terhadap kegemulaian tubuh para penari dan keindahan suara para pelantun tembang yang tangguh. Mengusung tema ''Menyiram Bunga, Menggugah Bangsa'', para seniman dan penonton pertunjukan diharapkan agar lebih ramah terhadap alam dan lingkungan. Hal semacam itu diperlukan sebab selain diamuk bencana berulang-ulang, penebangan hutan secara liar masih terus berjalan, pencurian pasir laut, penjualan pulau, dan sebagainya telah jadi potret perilaku yang semena-mena dalam mengelola alam. Karena itu tak perlu kaget jika dalam aktivitas yang didominasi oleh pertunjukan kesenian itu juga diselenggarakan gerakan penanaman pohon, pameran dan festival tanaman. Juga tak perlu diperdebatkan mengapa mengangkat lakon teater-tari Rob Sanggar Greget mencoba memberikan saran-saran penanganan masalah rob dan banjir di Semarang. ''Jika orang tak bisa lagi disentuh dengan teori-teori tata kota, cara terbaik yang masih mungkin dilakukan adalah membelai mereka dengan kesenian. Saya akan mengelilingkan pertunjukan ini di berbagai tempat agar orang-orang bekerja sama memecahkan persoalan rob dan banjir,'' kata Yoyok Priyambodo, pemimpin Sanggar Greget. Cara-cara mengatasi persoalan dengan pendekatan kebudayaan juga dilakukan oleh Komunitas Lima Gunung. Budayawan Tanto Mendut bersama aktivis kesenian Haris bahu-membahu ''membakar'' semangat ''orang-orang gunung'' untuk memahami spirit kegunungan yang mereka miliki. ''Sebagaimana gunung semangat utama orang gunung adalah memberikan segala yang dimiliki untuk kemaslahatan orang lain,'' kata Tanto. Spirit semacam itulah yang menggerakkan orang-orang gunung membuat Surat dari Gunung. Buku itu menandaskan kepada kita betapa tak mungkin meninggalkan kearifan kebudayaan (gunung) untuk mengatasi persoalan-persoalan yang berkait dengan modernitas, kekerasan terhadap para perempuan dan orang-orang miskin, lemah, dan terpinggirkan. ''Dan jangan lupa kebudayaan jugalah yang bisa mengembalikan orang-orang gila kembali ke peradaban waras. Obat, pengetahuan kedokteran, dan psikologi saja tidaklah cukup. Orang-orang gila itu membutuhkan medan ekspresi lain, terutama kesenian, untuk menemukan jatidirinya kembali,'' ujar Haris. Haris tidak sedang menjual kearifan kebudayan. Berkali-kali ia memang mengajak beberapa orang yang masih dalam perawatan di rumah sakit jiwa yang tergabung dalam Komunitas Saras Jiwa untuk mendukung berbagai ''pertunjukan pencerahan'' Komunitas Lima Gunung. Tak hanya di gunung, perhatian terhadap kearifan lokal budaya pesisiran juga dipertunjukkan oleh para akademisi Universitas Diponegoro Semarang. Menyelenggarakan seminar internasional ''Dinamika Kemaritiman dalam Perspektif Sejarah dan Sastra'', para akademisi itu berusaha meyakinkan publik betapa spirit kemaritiman bisa juga digunakan sebagai cara memajukan manusia. ''Kita telah terlalu lama meninggalkan berbagai kearifan lokal pesisiran. Kita juga telah melupakan daya juang kemaritiman dalam kehidupan modern. Akibatnya masyarakat kita menjadi lembek,'' tutur sejarawan Dr Dewi Yuliati, ketua penyelenggara acara itu. Apakah dengan melihat berbagai peristiwa kebudayaan (lokal) di tengah-tengah dunia global yang dilipat di dalam televisi, kita bisa mengatakan tahun ini telah terjadi kebangkitan peran kebudayaan lokal? Kebangkitan peran kebudayaan lokal memang telah terjadi dan tak terhindarkan. Akan tetapi jika Anda bertanya kepada siapa pun mengenai hasilnya, jawaban yang muncul adalah, ''Tunggulah hingga segala tindakan kebudayaan itu menjadi kesadaran kebudayaan.'' Kesadaran kebudayaan, siapa pun tahu, adalah motor yang menggerakkan, perilaku sosial. Maka, jika tahun ini kita masih berada di dalam fase ''aksi seni'', semoga tahun depan sudah berada dalam taraf ''sadar kebudayaan.'' Ya, jalan menuju sadar kebudayan masih panjang, tetapi kita tak boleh berhenti menyusuri area yang mungkin dipenuhi kerikil tajam itu. (Triyanto Triwikromo-35) | ||||