Diskusi yang mengambil tema '' Mencari Format ( Wadah) Pengelolaan Naluri
Politik Warga NU'' yang digelar Sabtu lalu di Aula Pondok Pesantren Radlah
Al Thahiriyah, Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso Pati berusaha mengritisi
dan menyoroti kiprah warga NU di jalur politik praktis. Pertemuan itu dihadiri
oleh para kiai dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama kendati tampaknya kurang
menarik perhatian mereka yang sedang disorot yakni para politikus dari
ormas Islam terbesar itu. Rasanya sangatlah penting pembahasan mengenai
hal itu sebab selama ini bukan hanya warga Nahdliyyin yang sering bingung
melihat kiprah politikus NU.
|
 |
Pemetaan banjir di wilayah kecamatan kawasan bawah Kota Semarang pada
musim penghujan kali ini memperlihatkan faktor-faktor utama pemicu. Kesimpulannya,
sungai-sungai utama kurang berfungsi, saluran-saluran pendukung mampat,
selokan di kawasan permukiman juga tidak cukup akomodatif. Tepatlah jika
penanganan sumbatan sampah di sungai-sungai dan saluran dijadikan prioritas
utama. Kalau kita amati dalam beberapa kali hujan deras di kota ini, rendahnya
kemampuan saluran dalam mengakomodasi aliran air menjadi penyebab terjadinya
peluberan dan genangan.
|
 |
KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK), memiliki kewenangan luar
biasa dan tanpa pengawasan dari lembaga mana pun. Dengan kewenangan besar,
lembaga ini begitu ditakuti, meski kinerja mereka memberantas korupsi masih
jauh dari harapan.
|
 |
MASA kini ada karena Tuhan menciptakan masa lalu dan masa depan.
Di masa kinilah, masa lalu sekaligus masa depan dapat bertemu. Masa lalu
hadir sebagai sejarah, sedangkan masa depan datang sebagai rencana.
|
 |
Saya masih ingat di tahun 1940 menonton film di gedung bioskop Glodok
Batavia alias Jakarta, sebuah film berjudul Terang Bulan. Pemain
utama pria adalah Raden Mochtar, pemain wanitanya Miss Roekiyah dan pemain
pembantu Tan Tjeng Bok. Ceritanya cinta segi tiga, di mana cinta Raden
Mochtar dan Miss Roekiyah diganggu oleh saudagar kaya tukang kawin Tan
Tjeng Bok.
|