| Senin, 17 Desember 2007 | NASIONAL |
Diam adalah Strategi PolitikPATI- Mengemban dan melaksanakan amanat bukan sesuatu yang mudah. Butuh kehati-hatian dalam menentukan setiap langkah. Tampaknya itulah yang selama ini selalu dijaga oleh Ketua Rais Aam PBNU KH MA Sahal Mahfudh. Menduduki jabatan dalam ormas terbesar di negeri ini bukan menjadikannya selalu mengumbar suara, baik di media massa maupun khalayak umum. Justru kedudukan itu menjadikannya cenderung tertutup dan diam. Sikap demikian, bukan berarti acuh terhadap persoalan bangsa yang berkembang. Namun, lebih pada menjaga diri agar tidak terjebak dalam pergulatan politik praktis. Karena sejauh ini pendekatan persoalan bangsa belum bisa dilepaskan dengan politik. Sejak dahulu, kata Sahal Mahfudh, Nahdlatul Ulama (NU) selalu bersinggungan dan berkiprah dalam politik. Untuk politik praktisnya adalah menduduki lembaga-lembaga politik seperti DPR, MPR, dan DPD. Adapula yang berada dalam jajaran eksekutif maupun yudikatif. "Di samping itu, perilaku, sikap, dan budaya NU selalu menggunakan taktik dan kebijakan tepat, termasuk perilaku politik saya yang tidak mau diwawancarai," tandasnya, saat memberikan tausiyah dalam forum Majma' al Buhuts al Nahdliyah di Ponpes Raudlah Al Thahiriyah Desa Kajen, Margoyoso, Pati, Sabtu (15/12). Sikap demikian, lanjut pengasuh Ponpes Maslakul Huda Desa Kajen, Margoyoso, Pati ini adalah sebagai bagian dari stategi politik untuk meminimalkan wacana. Tujuannya tak lain agar persoalan bangsa yang mengemuka tidak hanya diselesaikan dengan ungkapan di media massa, namun bisa dicarikan solusi di rumah sendiri (NU). Sementara itu, dalam rangka memperingati 70 tahun usia Kiai Sahal, pagi ini di halaman pondoknya diselenggarakan acara bedah buku Fiqh Sosial karya KHMA Sahal Mahfudh. ''Buku ini berisi pikiran-pikiran saya tentang pengembangan fiqh. Maksudnya agar fiqh dipahami masyarakat tidak sekadar formal sebagai lembaga halal-haram tetapi menjadi sebuah etika kehidupan,'' katanya. (fen,B13-46) |