| Minggu, 16 Desember 2007 | NASIONAL |
Ba'asyir Nasihati Amrozi csCILACAP - Ketua Majelis Syuro Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) Ustad KH Abu Bakar Ba'asyir bersama Koordinator Tim Pengacara Muslim (TPM) H Achmad Michdan SH, kemarin, berkunjung ke Pulau Nusakambangan. Mereka ke pulau itu untuk menjenguk tiga terpidana mati kasus bom Bali, yaitu Amrozi, Muklas, dan Imam Samudra. KH Abu Bakar Ba'asyir datang ke Nusakambangan diikuti anggota Dewan Syuro MMI lain, antara lain Ustad Azhari Dipo Kusumo, KH Mudzakir, Kiai Syarifudin Dal Din, Ustad Abdul Rohim, Ustad Hasyim, dan Ustad Said Ahmad Sungkar. Keluarga Amrozi, Muklas, dan Imam Samudra juga menjenguk. Mereka antara lain Khoiriyanah, Sumarno, Hj Suratmah, Ja'far Shodiq, Sonhadi, Zulkarnain Yusuf, Muhammad Sayalan, dan AA Amanah. Dari keluarga Imam Samudra antara lain istri Zakiah Darajad, ibu Embay Badriah, Mila Jamilah, Wawan Setiahudi, Aliyah, Dedi Chaidir, Risma, dan Khotimah. Ustad KH Abu Bakar Ba'asyir bersama rombongan berangkat ke Cilacap dari Solo. Keluarga Amrozi dan Muklas berangkat dari Lamongan, sedangkan keluarga Imam Samudra berangkat dari Serang. Rombongan datang dengan beberapa kendaraan, yakni Honda Jazz AB-7942-BN, Toyota Kijang H-2747-CZ, Toyota Kijang AD-9170-BU, dan Daihatsu Xenia AD-8701-MB. Mereka tiba di Cilacap, Sabtu pukul 01.00. Mereka bermalam di Wisma Darussalam, kompleks Masjid Agung Darussalam. Kemarin pukul 08.00, seluruh rombongan meluncur ke Dermaga Wijayapura. Begitu tiba di dermaga, pukul 08.22, Koordinator TPM H Achmad Michdan SH langsung melapor ke petugas jaga. Abu Bakar Ba'asyir menyatakan datang ke Nusakambangan untuk menasihati Amrozi, Muklas, dan Imam Samudra agar tetap sabar. Itu sebagai wujud kepedulian terhadap sesama muslim.''Setiap muslim yang terkena musibah harus sabar,'' katanya. Ketika dimintai tanggapan mengenai keputusan MA, Abu Bakar Ba'asyir menyatakan keputusan itu tidak benar. Sebab, keputusan tersebut menyalahi keputusan yang ada. Menyinggung soal keinginan Amrozi dieksekusi dengan penggal kepala, Abu Bakar Ba'asyir menyatakan pada zaman dulu senjata yang ada hanya pedang. Jadi eksekusi dilakukan dengan memenggal kepala. Namun sekarang dunia sudah modern. Sekarang sudah tak menggunakan pedang, tetapi senjata. Bisa dengan Ditembak Jadi sekarang eksekusi bisa dilakukan dengan ditembak. Kalau mau dieksekusi, boleh ditembak. Namun sebelum eksekusi, kata dia, jaksa dan polisi harus hati-hati. Dia meminta mempertimbangkan dengan baik-baik. Usai menjawab pertanyaan wartawan, pukul 08.30, petugas LP meminta Abu Bakar Ba'asyir menuju ke KM Pengayoman II yang akan membawa rombongan menyeberang ke Nusakambangan. Begitu tiba di LP Batu, Abu Bakar Ba'asyir bersama rombongan dipertemukan dengan Amrozi, Muklas, dan Imam Samudra di ruang pertemuan. Abu Bakar Ba'asyir memberikan nasihat ketiga terpidana itu agar bersabar. ''Dalam perjuangan kadang ada langkah yang benar, kadang ada pula langkah yang salah. Kalau kalian yakin langkah perjuangan kalian benar, ya bersabar. Namun kalau salah, ya harus segera bertobat. Manusia bisa keliru. Yang tidak keliru itu hanya nabi,'' kata Ba'asyir. Seusai memberikan nasihat, Abu Bakar Ba'asyir bersama TPM dan keluarga terpidana makan bersama Amrozi cs. Mereka makan dengan menu yang dibawa keluarga terpidana. Salah satu menu adalah sate ayam dan kambing. Pukul 13.20, rombongan meninggalkan Nusakambangan. Tiba di Dermaga Wijayapura, mereka tak langsung pulang ke daerah masing-masing. (ag-53) |