| Minggu, 16 Desember 2007 | NASIONAL |
Bablas Nyawane
KARENA tak ingin dikategorikan ndesit, Mas Celathu menyatakan ingin menjadi bagian manusia modern. Maka tiba-tiba penampilannya jadi gaul banget. Sok metroseksual. Sebenarnya rada ganjil jika Mas Celathu yang dikenal sering nglomprot, berpenampilan sesukanya dengan sepatu sandal dan baju katun gombor, belakangan ini menjadi necis. Wangi. Rapi. Sibuk cari baju dan celana branded. Sangat peduli pada kebersihan dan keindahan tubuhnya. Rajin ke salon untuk keramas, creambath, facial, atau sekadar manicure alias potong kuku. Rambut yang biasanya jothakan dengan sisir, kali ini terlihat kelimis. Memang perubahan rambutnya belum ekstrem. Masih hitam warnanya. Belum dicat belang-bonteng atau disemprot jadi blonde kayak boneka Barbie. Dengan begitu, tentu saja, Mas Celathu belum layak menyandang predikat sinis "LKMD", londo kok mung ndase. Sungguh, perubahan yang sontak itu membikin keluarga Celathu jadi senam leher alias geleng-geleng kepala. Bayangkan saja, Mas Celathu yang dikenal ekonomis dan selalu kritis dalam menyikapi lifestyle, mendadak terseret arus. Bukankah selama ini kepada anak-bininya dia selalu mengajarkan prinsip-prinsip kesederhanaan? Masa sekarang hanya untuk memotong kuku harus keluar ongkos? Ajaib ta? Jangan-jangan Mas Celathu sedang puber kedua? Entahlah. Bahkan Mas Celathu yang biasanya berolahraga murah meriah, yaitu jogging keliling kampung atau senam olah tubuh di pelataran belakang rumah, kini untuk membakar kalori tubuh Mas Celathu merasa perlu bermain futsal. Maka dia pun merasa perlu memperlengkapi diri dengan segala tetek bengek perlengkapan futsal alias minisoccer yang sedang ngetren itu. Sepatu, kaus, celana, handuk - semua penuh simbol yang mencerminkan budaya futsal sebagaimana dilihatnya di film-film manca. Artinya, semua itu harus diperoleh dengan harga berbunyi. Awalnya Mbakyu Celathu, istri gemati yang jagoan bikin sambal dan baceman kambing, memang mengurut dada melihat perubahan itu. Namun lama-lama dia ikhlas saja. Batin Mbakyu Celathu, itu lebih baik ketimbang suaminya kecemplung ke gaya hidup sesat: hura-hura, memelihara gundik, menyantap narkoba dan berjudi. Karena itu, ketika ketiga anaknya berniat mengajukan gugatan, Mbakyu Celathu bergegas mencegah dengan penuh kelembutan, "Ssssttttt, sudahlah. Biarkan ayahmu begitu. Mungkin bapakmu sedang menghayati peran, latihan main sandiwara. Bisa jadi dia sedang persiapan main film, kedaphuk memainkan karater seorang suami metroseksual." "Iya, tapi kalau dikit-dikit ke salon kan bahaya tuh. Apalagi sekarang kan banyak salon plus. Tidak hanya mengurus rambut yang terlihat," si sulung yang pernah jadi pengurus masjid mengingatkan. Memang di kota tempat tinggalnya yang dulu dipredikati kota budaya dan kota pelajar, belakangan ini kerap dihebohkan oleh kemenjamuran salon-salon yang ber-"dwifungsi". Mungkin para pemilik salon dan mbak-mbak kapster itu sedang khilaf atau malah kelewat kreatif memaknai arti kebudayaan. Yaitu, membudidayakan pelayanan terhadap organ-organ tubuh yang ditumbuhi rambut dan wilayah sekitarnya. "Ho-oh, lagian Bapak tuh selalu marah kalau aku rajin dandan. Aku pengin ganti sepatu bermerek saja langsung disantlap. Kok sekarang gayanya malah melebihi aku," Jeng Genit yang fashionable seperti dapat kesempatan melancarkan serangan. Memang, selama ini Mas Celathu selalu cerewet mengkritik gaya anak gadisnya yang sangat peduli pada wajah dan tubuhnya, hobi berdandan serta obsesinya ingin jadi cover girl. Dengan segala jurus keibuannya, Mbakyu Celathu memang sukses meredam protes. Semua mencoba mengerti dan memaklumi. Rencana demo ketiga anaknya sudah dibatalkan. Tapi, bagi Jeng Genit ternyata masalahnya bukan sekadar gaya hidup boros yang sekarang dilakoni ayahnya itu. Untuk perkara menghamburkan duit, dia nggak mau ambil using. Toh juga sang ayah yang mencari fulus. Sanalah kalau mau dihamburkan. Yang jadi persoalan, kata Jeng Genit dengan menghiba, "Mbok ya Bapak tuh jangan bermain futsal. Kan masih banyak olahraga yang lain yang tidak berbahaya." "Lho, bahayanya di mana? Lha wong cuma main bal-balan di lapangan sempit kok. Risikonya paling hanya lecet, karena lapangannya nggak berumput," jawab Mas Celathu. "Main futsal bisa bablas nyawane. Tuh, pelawak Basuki meninggal selagi main futsal. Kan berbahaya ta?" sahut Jeng Genit sok yakin, seraya bikin kesimpulan, "Pokoknya kalau mau umur panjang, jangan main futsal." Demi mendengar kesimpulan ngawur itu, Mas dan Mbakyu Celathu tak bisa menahan tawa. "Wualah-walah, Nduk, kamu ini kok ya belum tambah cerdas ta? Pak Basuki itu wafat karena serangan jantung. Bukan karena futsalnya." Lakon "Basuki Gugur" itu memang bukan cerita lawakan. Melainkan sebuah keniscayaan yang bisa terjadi pada siapa pun. Tak ada yang lucu, meskipun kisah itu menimpa orang yang jagoan memancing tawa dan sangat kondang dengan tagline hasil kreasinya, "Whes hewes-hewes, bablas angine". Dari warning putri bungsunya itu, Mas Celathu justru bisa memungut pesan, betapa kedatangan sang maut sulit dijadwalkan. Kapan saja kehadirannya bisa mengentak siapa pun, kapan pun, di mana pun. Pesan lain? Tentang kesederhanaan dan happy ending seorang pelawak. Jika dulu kita sering mendengar kisah kehidupan miris dan tragis para bintang lawak, kali ini ceritanya lain. Basuki wafat dengan menyisakan keteladanan tentang perencanaan dan pengelolaan ekonomi seorang komedian yang peduli gaya hidup sehat, peduli keluarga, dan tidak terseret gaya hidup salah kaprah. Di tengah gempuran berita yang memojokkan artis, termasuk komedian, yang digebyah-uyah seakan-akan selalu berdekatan dengan narkoba dan dunia miring lain, almarhum Basuki memperlihatkan citra kesenimanan yang bersahaja, bukan sebuah kehidupan yang semaunya dan bebas nilai. Basuki tahu persis bahwa kegemerlapan dunia panggung, periklanan, televisi, dan film hanyalah dunia semu yang harus membuat kita selalu terjaga untuk mengambil jarak. Di dunia palsu, komedian bisa dan harus jenaka lantaran tuntutan kerja. Di dunia nyata, tak mungkin dia begitu saja mengobral tawa dan kejenakaan. Kemampuan mengenal batas dunianya itulah, mungkin sebuah nilai yang pantas kita renungkan. Janganlah mentang-mentang pelawak, lalu cengengesan sepanjang masa pada setiap kehadiran. Janganlah mentang-mentang punya pangkat dan kedudukan, lalu main gertak dan pamer kuasa di sembarang tempat. "Jadi, Bapak tetap mau main futsal dan jadi ayah metroseksual?" tanya Jeng Genit. Mas Celathu tidak menjawab. Sepertinya masih ada yang dirahasiakan. Dia hanya memoncongkan bibir yang segede iwak empal. (53) | ||||