| Minggu, 16 Desember 2007 | NASIONAL |
Amerika Akhirnya Melunak
NUSA DUA - Setelah melalui perundingan maraton yang melelahkan sejak Jumat (14/12) pagi hingga Sabtu (15/12) dan diperkirakan gagal, akhirnya Bali Road Map disepakati. Semua delegasi peserta Konferensi PBB untuk Perubahan Iklim yang berlangsung di Bali International Convention Centre (BICC), Nusa Dua, Bali, Sabtu (15/12) itu menyepakati draf konsensus bersama tersebut. Kesepakatan itu tercapai setelah Amerika Serikat yang selama ini ngotot menolak, akhirnya melunak dan menyepakati draf Bali Road Map. ''Kami akan terus bergerak maju dan bergabung dalam konsensus yang dihasilkan pada UNFCCC (United Nations Framework Convention on Climate Change-Red), meski ini memiliki syarat-syarat komitmen dari negara-negara berkembang,'' kata juru runding AS Paula Dobriansky saat sidang pleno UNFCCC yang disambut tepuk tangan oleh seluruh delegasi yang hadir. Dikatakan, delegasi AS menghadiri UNFCCC untuk ikut menghasilkan sebuah road map yang akan mengarah pada perjanjian global mengenai perubahan iklim yang efektif baik di bidang lingkungan maupun ekonomi. ''Kami juga menghargai komitmen yang ditunjukkan negara-negara berkembang, terutama yang ekonominya berkembang pesat. Karena itu, kami juga ingin menghasilkan road map untuk berkomitmen mereduksi emisi sesuai dengan target 2050. Kami sudah datang jauh-jauh dan ingin meyakinkan semuanya bahwa AS akan mengikuti konsensus yang dihasilkan hari ini,'' ujarnya. Menurutnya, Bali Road Map itu penting untuk menyusun agenda mitigasi, adaptasi, alih teknologi, dan keuangan menuju pertemuan Kopenhagen pada 2009 mendatang. Selain itu, AS juga menyadari, pentingnya pertemuan tak lepas dari hasil penelitian ilmiah Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC). ''Kami telah mengambil langkah pertama di Bali sebagai permulaan sebuah diskusi penting mengenai cara mencapai solusi global sejati. Ini babak baru dalam diplomasi. Kami berkomitmen untuk bekerja keras dalam dua tahun mendatang untuk memastikan kami menjalankan keputusan yang kita capai hari ini. Dan upaya itu dimulai hari ini,'' tegasnya. Delegasi Indonesia-AS Sementara itu, Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda menjelaskan, sikap AS yang akhirnya menyepakati Bali Road Map juga didasari hasil pembicaraan antara Indonesia dengan delegasi AS yang berlangsung hingga Sabtu dinihari. ''Kami bicara panjang lebar dengan mereka. Saya mengatakan kami menghargai Anda. Dan ternyata, AS tidak hanya datang, tapi mau bicara terbuka dengan yang lain,'' katanya usai mengikuti sidang pleno. Terpisah, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga menyatakan kepuasannya setelah Bali Road Map tercapai. ''Untuk pertama kalinya, seluruh dunia naik satu gerbong yang sama untuk menghasilkan kerangka baru yang lebih efektif lagi,'' kata Presiden dalam jumpa pers di BICC, Nusa Dua, Bali. Menurut Kepala Negara, kesepakatan itu merupakan langkah yang sangat maju untuk menyusun kerangka pascaberakhirnya Protokol Kyoto tahun 2012 mendatang. ''Ini adalah langkah yang sangat maju dan belum ada sebelumnya, karena AS pada akhirnya setuju ikut dalam konsensus ini. Artinya, AS akan menjadi bagian dari perundingan di Warsawa, Polandia, pada 2008 dan Kopenhagen, Denmark, pada 2009 untuk menyusun kerangka setelah Protokol Kyoto habis masa berlakunya pada 2012,'' pujinya. Selain itu, SBY juga puas dengan disepakatinya penerimaan dana kompensasi melalui program Reducing Emission from Deforestation and Degradation (REDD). ''REDD mendapat dukungan penuh. Kami akan mengajak semua negara hutan tropis bersatu untuk mendapatkan kompensasi yang adil,'' tandasnya. Bukti dukungan negara maju adalah Inggris yang menjadikan Indonesia sebagai kandidat kuat mendapatkan dana sebesar 30 juta dolar AS melalui Forest Carbon Partnership Facility (FCPF). Inggris juga telah menyiapkan 1,6 miliar dolar AS melalui Environmental Transformation Fund (ETF) untuk mendukung mitigasi dan adaptasi perubahan iklim di negara-negara berkembang. ''Pada tahun ini Inggris telah memberikan 500.000 dolar untuk mendukung kerja Indonesia Forest Climate Alliance dan memberikan komitmen 10 juta dolar untuk mendukung multistakeholder forestry program. Dengan suksesnya REDD, pemerintah akan menjalankan manajemen pengolahan hutan dengan lebih baik,'' jelas SBY. Sidang UNFCCC sendiri resmi ditutup oleh Presiden COP ke-13 Rachmat Witoelar sekitar pukul 18.30 Wita di Plenary Hall BICC, Nusa Dua.(J22-62) |