| Sabtu, 15 Desember 2007 | NASIONAL |
inmemoriamBasuki Tidak Melawak Lagi
SETIAP mendengar berita ada pelawak Indonesia meninggal dunia, saya selalu diliputi berbagai pertanyaan. Salah satu pertanyaan yang paling sering menyelinap ke dalam benak adalah mengapa harus pelawak? Mengapa bukan politikus ingkar, polisi korup, atau pengusaha nakal? Pelawak kita yang baik jumlahnya sangat sedikit. Sedikit sekali bila dibanding dengan oknum-oknum yang disebutkan di atas tadi. Populasi pelawak sangat lambat. Kadang dalam waktu satu atau dua dekade baru lahir satu atau dua pelawak bermutu. Sementara dalam sepuluh tahun saja, kita mampu melahirkan ratusan sarjana, puluhan sarjana utama dan belasan doktor. Dari kenyataan populasi pelawak yang jarang tadi, ada kebajikan yang dapat dipetik, yakni sesuatu yang baik dan bermutu memang tak pernah menjadi kodian dan massal. Basuki yang dikenal sepak terjangnya dalam kesenian lawak sangat khas dan memiliki riwayat hidup ''mendebarkan'', ternyata harus minggir pula dari peredaran. Kepergian sebelumnya pelawak Asmuni, Taufik Savalas, Pak Bendot, Ateng dan lain-lainnya, semakin mempertipis jumlah daftar pelawak yang tersisa di negeri ini. Mengapa dibilang riwayat hidup Basuki ''mendebarkan''? Karena Basuki benar-benar pelawak yang memulai semuanya dari lapis paling bawah. Dari keadaan paling miskin dan lapar. Dan kondisi yang menantang dedikasi dan kesungguhannya dalam berkesenian itu, dialaminya cukup panjang dan sangat melelahkan. Jadi kalau Basuki dalam sepuluh atau belasan tahun belakangan ini terlihat moncer dan ekonominya berlebih, itu semata karena jerih payah dan kerja kerasnya di masa lalu yang seakan tak punya ''wudel''. Bila pelawak-pelawak baru begitu merintis lalu bermimpi tentang penghasilan besar yang bakal diraihnya, anggapan seperti itu sebenarnya sangat naif. Kalau sekadar bercita-cita menjadi pelawak besar dan akan berpenghasilan besar serta mampu mempersembahkan karya yang juga besar bagi masyarakat, mengapa tidak? Tetapi gegabah mengukur potensi diri sungguh sangat tidak bijak dan berbahaya. Ketajaman dan Kecerdasan Motif-motif pintas berupa: popularitas, penghasilan, penghidupan yang serba wah, rasanya seperti candu yang terus menerus menggoda atau mengiming-imingi calon-calon pelawak di negeri ini. Sudah sepantasnya bila candu itu disikapi dengan tenang dan tidak grusa-grusu; jujur saja candu itu dapat membuat pelawak-pelawak muda terbanting-banting antara impian, harapan, dan kenyataan. Orang-orang ahli selalu berkata, tidak ada yang simsalabim dalam dunia kreativitas. Karena ketajaman dan kecerdasannya hanya akan terlihat bila telah melewati proses percobaan dan pelatihan yang tak kunjung lelah. Keberhasilan Basuki memang tak dapat diirikan oleh siapa pun. Kalau toh ia pernah menduduki singgasananya, itu bukan diberikan oleh siapa pun, tetapi diperoleh oleh dirinya sendiri. Dibangun dan didirikan oleh Basuki sendiri. Bayangkan, berbagai benturan selama berkarier sebagai pelawak, pernah dialami oleh Basuki. Semoga para pelawak pemula mengetahui bahwa Basuki pernah sangat kelaparan karena memang tak ada yang dapat dimakan. Pernah tidak punya duit sama sekali, sehingga tidak dapat membeli apa pun. Tetapi apakah kondisi itu lalu membuatnya jadi surut langkah dan kabur dari dunia lawak Indonesia? Berkarier kesenian, khususnya di bidang lawak, supaya indah perjalanannya, perlu memulai dari minat, kecintaan pada bidang pilihan, dan etos kerja yang tahan banting. Itu artinya, sanggup hidup dalam kondisi yang bagaimana pun. Kepergian Basuki memang sangat mengagetkan. Tetapi lebih mengagetkan lagi kalau perjuangan dan jerih payahnya yang lama tidak membuahkan pelajaran apa-apa bagi pelawak muda atau generasi pelawak sesudahnya. Saya pernah punya kecurigaan kepada Basuki, sepertinya ia tidak mudah memberi kesempatan pada pelawak-pelawak baru; termasuk Tukul Arwana atau beberapa pelawak yang mengikuti Audisi Pelawak TPI pertama maupun sesudahnya. Sepertinya ia punya dendam yang sangat mengakar kepada para pendatang baru, karena ia sendiri melewati semuanya dengan jerih payah yang luar biasa sulit dan menyakitkan. Maka, seolah-olah terkesan ia tak rela anak-anak baru memperoleh semuanya dengan mudah, dengan tanpa susah payah, bahkan tanpa keringat sama sekali. Dugaan saya ternyata keliru besar. Basuki menerapkan ''metode'' pendidikan yang sangat khas. Intinya, ia ingin mengingatkan pada para pelawak muda agar sekokoh mungkin membangun pondasi bagi sikap kesenian dan keperibadiannya. ''Tamparan-tamparan'' yang sering sengaja atau tak sengaja ia alamatkan kepada para pelawak muda, semata-mata dilandasi agar setiap pelawak mengenal proses. Mengenal tahapan dari bayi, menjadi anak-anak, remaja, hingga dewasa. Seperti yang dapat dilihat, keberhasilan Tukul (lewat pengakuan masyarakat di salah satu award yang diadakan oleh televisi swasta), membuktikan bahwa proses atau tahapan yang harus dia lewati telah selesai dia jalani. Berupa: ujian dalam karya. Dalam positioning. Dan yang menguji adalah masyarakat langsung. Sebuah survei atau angket atau jajak pendapat yang nilai validitasnya cukup memadai. Tukul dapat menjadi sedemikian matang, bukan karena upayanya sendiri, tetapi juga adanya campur tangan para senior baik yang mendukung maupun menyerangnya. Dua hal itu dibutuhkan untuk mencapai keseimbangan. Siapa saja para senior yang telah turut serta ''mengisi'' ilmu ke dalam diri Tukul? Sudah jelas, salah satunya adalah pelawak Basuki. Tukul dapat mengakui atau menolak fakta ini, tetapi transformasi ilmu dan kiat-kiat berkeseniannya tak dapat dipisahkan dari jasa mereka. Dan cara mereka mengajar yuniornya juga menggunakan metode yang beraneka. Salah satu yang dipakai oleh Basuki adalah metode meledek atau meremehkan pihak lain supaya yang bersangkutan ''tersinggung'', sehingga bangkit emosi dan energinya. Pelawak yang akan terpilih oleh waktu dan akan menjadi besar, ternyata tidak akan pernah dapat digilas oleh gangguan sesaat seperti itu. Dia justru makin dapat melihat kemungkinan eksplorasi dan peluang yang tak pernah habis bertengger di depan matanya. Basuki atau Agus Basuki yang terlahir di Solo, 5 Maret 1956, akhirnya meninggal pada 12 Desember 2007. Tepat dalam usianya yang ke-51. Belum lama Basuki menikmati hasil jerih payahnya. Tetapi itu mungkin tak penting baginya; nyatanya ia sudah mempersiapkan berbagai penopang hidup untuk keluarganya. Tetapi, bahwa semangat berkesenian dan berjuang demi kesenian yang menjadi pilihannya, adalah warisannya yang paling berharga bagi dunia perlawakan negeri ini. So, selamat jalan, Bas....(60) - Penulis adalah pengamat dunia lawak Indonesia |