SUARA MERDEKA
 
INDEKS WACANA Jumat, 14 Desember 2007

Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading. Basuki mati? Ya meninggalkan warisan kelucuan. Kita tentu tidak sedang bermain-main dan cengengesan di tengah kesedihan keluarga pelawak eks Srimulat itu, tetapi justru meyakini Mas Bas bangga, kasrena eksistensinya sebagai pelucu yang telah memberi warna tersendiri dalam dunia humor di Tanah Air, tetap disebut, diakui dalam posisi khusus hingga akhir hayatnya. Dia menyusul Asmuni, seniornya yang telah berpulang beberapa bulan sebelumnya. Dan, dunia lawak nasional pun kehilangan salah seorang pemicu tawa terbaiknya.

Apakah Malaysia semakin dalam menganut paham represif? Serangkaian penangkapan terhadap para aktivis oposisi, tokoh-tokoh partai oposisi, dan yang terakhir penahanan singkat terhadap Anwar Ibrahim, memunculkan kekhawatiran tersebut. Kekhawatiran itu makin kental karena sepekan sebelumnya Perdana Menteri Abdullah Ahmad Badawi secara tegas menentang setiap bentuk demonstrasi dan unjuk rasa. Badawi tanpa basa-basi menegaskan tidak akan menyesal sedikit pun kalau harus menerapkan Undang-Undang Keamanan Internal (Internal Security Act/ ISA) untuk membungkam suara oposisi.

Sinkron dengan julukan "negara maritim terbesar", sudah selayaknya negeri ini mempunyai visi maritim yang direfleksikan dalam pembangunan berwawasan bahari termasuk menguatnya armada laut.

PERKEMBANGAN demokrasi di Indonesia, ditandai antara lain oleh tumbuh dan berkembangnya semangat politik bangsa Indonesia guna melakukan perubahan UUD 1945. Salah satu perubahan dimaksud adalah, MPR tidak lagi diberi amanat untuk GBHN.

SAYA tidak tahu pasti apakah istilah ini tepat atau tidak. Yang dimaksudkan di sini adalah gejala ketika para pemeluk agama (Islam) mulai mencari kegunaan dari pengamalan agama berupa keuntungan yang bersifat kekinian. Dengan kata lain agama mulai diamalkan dengan harapan memberikan dampak keuntungan duniawi, sementara selama ini dipahami bahwa pengamalan agama tidak seyogianya dimotivasi oleh pamrih-pamrih duniawi, seperti kekayaan, perbaikan status sosial, kesehatan dsb.

Melengkapi isi surat pembaca tentang biografi Soeharto berhubungan dengan peristiwa G-30-S/PKI beberapa waktu yang lalu, tampaknya apa yang pernah saya sampaikan bahwa sejarah berpihak kepada penguasa ada benarnya. Biografi Soeharto pada buku pintar seri senior oleh Iwan Gayo, 1991 menggambarkan betapa "harumnya" nama Soeharto. Padahal seperti pernah disampaikan guru saya almarhum, pada tahun enam puluhan (sebelum peristiwa kelabu 1965), pemrakarsa Serangan Oemoem (SO) 1 Maret 1949 adalah Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

  Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA