logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 14 Desember 2007 NASIONAL
Line

Warga Blora Pecahkan Rekor Makan Sate Ayam


SM/Abdul Muiz PINCUK DAUN JATI: Sejumlah murid SD di Kabupaten Blora ikut makan sate ayam dengan pincuk daun jati guna memecahkan rekor Muri, Kamis (13/12).(30)

BLORA- Sebanyak 7.015 orang pada waktu bersamaan makan sate ayam di Blora, Kamis (13/12). Museum Rekor-Dunia Indonesia (Muri) mencatat, jumlah tersebut sebagai rekor baru. Rekor sebelumnya dibuat masyarakat Mojokerto, Jatim, dengan jumlah warga yang makan sate ayam 2.004 orang, pada 27 Januari 2004.

''Atas keberhasilan ini, Muri memberikan penghargaan kepada Pemkab Blora sebagai penyelenggara makam sate ayam bersama terbanyak,'' ujar Manajer Muri, Paulus Pangka.

Muri juga menerima usulan, jumlah pincuk daun jati yang digunakan untuk membungkus sate ayam tercatat sebagai rekor baru.

Sebab selama ini, belum ada di Indonesia yang menggunakan daun jati sebagai pembungkus makanan dalam jumlah banyak. ''Usulan rekor baru ini kami terima,'' kata Paulus.

Bagi warga Blora, pemecahan rekor tersebut mempunyai makna penting. Selain mendapatkan penghargaan, prestasi yang diciptakan dalam rangka memperingati HUT Ke-258 Blora itu, sekaligus mengukuhkan nama Blora sebagai Kota Sate Ayam.

''Melalui acara ini kami juga menegaskan bahwa Blora sebagai salah satu kabupaten yang bebas dari flu burung. Karena itu sate ayam Blora layak dikonsumsi,'' ujar Wakil Bupati RM Yudhi Sancoyo.

Untuk memecahkan rekor Muri yang pernah dibuat warga Mojokerto, bukan sesuatu yang sulit bagi masyarakat Blora. Sebab jumlah pedagang sate ayam cukup banyak. Namun pada event kemarin panitia hanya menyiapkan 50 angkringan (stan).

Angkringan tersebut berjejer rapi di sepanjang Jalan Pemuda. Tidak kurang dari 37.500 tusuk sate ayam telah disiapkan. Setiap stan tersedia 750 tusuk sate.

Warga yang memakan sate ayam diambil dari sejumlah desa/kelurahan, siswa sekolah, dan pegawai. Sebelumnya, mereka telah diberi kupon.

Pincuk Daun Jati

Satu orang warga makan lima tusuk sate beserta nasi yang telah dibungkus pincuk daun jati.

Saat Wabup melakukan hitungan mundur sebagai aba-aba dimulainya acara, ribuan warga yang sebelumnya duduk di pinggir jalan, segera mengerumuni angkringan.

Tidak lama kemudian petugas Muri melakukan penghitungan jumlah warga yang memakan sate ayam.

''Usulan awal yang diajukan kepada kami, jumlah warga yang memakan sate ayam 5.000 orang. Namun setelah kami hitung, jumlahnya 7.015 orang,'' tandas Paulus Pangka.

Beberapa bulan lalu, di Blora juga tercipta rekor penjualan satu pohon jati termahal dengan harga Rp 1 miliar.

Bagaimana penjual sate menyiapkan pemecahan rekor MURI itu? Tak ada persiapan khusus. Mereka tak ubahnya berjualan seperti hari biasa.

Pada hari biasa, mereka berjualan pada jam yang berbeda. Ada yang membuka warungnya pada pagi hari dan ada juga yang malam.

Namun mereka kemarin bekerja serentak di satu waktu. Mereka mengusung alat kerjanya, berupa tempat pembakaran sate serta kipas bambu.

Supadi, pemilik warung sate Pak Di di Jalan Gunung Sumbing Blora, yang turut serta dalam kegiatan itu mengatakan, kesehariannya dia berjualan mulai sore hingga malam. Karena itu, untuk ikut memecahkan rekor MURI, dia bersama istri tidak tidur semalam.

Sebab, sehari sebelumnya dia masih jualan sampai malam hari. ''Selesai jualan saya masak untuk acara hari ini. Jadi sampai sekarang saya belum tidur. Sekitar jam 12 malam kami sudah mulai bekerja menyiapkan bumbu sate,'' ujarnya. (H18,ud-76)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA