logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 14 Desember 2007 NASIONAL
Line

"Bapak seperti Sedang Syuting"

JAKARTA- Puluhan pelawak dan selebritis berjubel bersama ratusan warga lainnya untuk memberikan penghormatan terakhir kepada almarhum Basuki sebelum dimasukkan ke liang lahat. Terik matahari di atas Taman Pemakaman Umum (TPU) Kampung Kandang Jagakarsa, Jakarta Selatan, tidak menyurutkan langkah mereka guna mengantar jenazah pelawak yang mempunyai nama lengkap Haji Agus Basuki tersebut.

Kamis pukul 12.50, almarhum Basuki dikebumikan, setelah menghembuskan nafas terakhir sehari sebelumnya pada pukul 18.20, setelah bermain futsal dengan teman-temannya di kawasan Cibubur. Selain rekan sejawat dan warga, juga hadir mantan pembina Srimulat Agum Gumelar serta keluarga besar almarhum dari Semarang. Sedangkan yang berperan sebagai wakil dari keluarga memberikan pengantar pemakaman almarhum Basuki adalah "Si Doel" Rano Karno.

Ketika hendak dimasukkan ke liang lahat, air mata istri Basuki, Sri Mulyani dan ketiga anaknya, Galih Saputra, Wahyu, dan Uki bertambah deras setelah sebelumnya tampak tabah walaupun sambil sesenggukan. Bahkan Sri Mulyani seperti kehilangan tenaga sehingga terduduk lemas. Beberapa keluarga, hingga Agum Gumelar, mencoba membesarkan hati Sri Mulyani agar tabah.

Adapun Galih Saputra dengan berurai air mata mengumandangkan adzan dan komat sebelum jenazah ayahandanya dikubur dengan tanah. Pukul 01.15, nisan bertuliskan Haji Agus Basuki bin Suwito Hadi Wiryono, lahir 5/3/1956, wafat 12/12/2007, berdiri sebagai tengara makam legenda Srimulat itu.

Upacara pemakaman dilanjutkan dengan tabur bunga. Usai tabur bunga, Rano Karno sebagai wakil keluarga duka memberikan sambutan. Dia mengatakan, kematian almarhum harus diikhlaskan. Selain itu, kematian tersebut mengingatkan bahwa semua orang pasti akan dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. "Peristiwa ini mengingatkan kepada kita yang masih hidup, bahwa kita semua juga akan menyusul Mas Basuki," ujar Rano.

Kesan yang mengharukannya sebelum kematian "Mas Karyo" adalah ketika Rano bertemu dengan Basuki saat membantu mempersiapkan pemakaman tetangganya di Perumahan Graha Cinere Jalan Tampak Siring Depok. "Saat itu, Mas Bas, membantu memasang tratak, kursi, dan sebagainya. Saya tidak mengira itu menjadi pertemuan terakhir saya dengan Mas Bas semasa hidup. Saya berharap agar semua keluarga mengikhlaskan kepergian Mas Basuki."

Syuting

Ditemui usai upacara pemakaman, anak kedua almarhum Basuki, Wahyu Putranto mengemukakan, kematian ayahnya masih seperti mimpi. "Semuanya berjalan sangat cepat. Ini masih seperti mimpi. Saya tidak mengira Bapak tidur di sini (sambil menunjukkan makam ayahnya). Pikiran saya, Bapak seperti sedang syuting di sini," ujarnya.

Wahyu mengaku, pertama kali mengetahui kematian ayahnya ketika ditelepon Margono, teman bermain futsal ayahnya, Rabu malam. Ketika itu, Margono mengatakan, jika ayahnya sakit dan dirawat di Rumah Sakit Meilia Cibubur. "Saya langsung ke sana, bersama dengan Ibu. Sesampai di sana, Bapak sudah tidak ada. Kami syok, Ibu kemudian menangis, tahu Ibu menangis saya ikut menangis," katanya.

Menurutnya, sebelum pergi bermain futsal ayahnya tidak menunjukkan gejala penyakit apapun. Selama ini, ayahnya tidak pernah menderita sakit jantung, yang menjadi penyebab kematian Basuki. "Biasanya Bapak memamg diam, tapi diamnya seminggu ini lain. Setelah meninggalnya Bapak, saya harus bisa menjaga nama baiknya," tutur Wahyu. (J21-49)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA