logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 14 Desember 2007 NASIONAL
Line

Menpora Ancam Tarik Kontingen

  • Protes Kecurangan di Taekwondo

SM/Muhammadun Sanomae BERDEBAT: Menpora Adhyaksa Dault (kiri) berdebat dengan salah satu panitia pertandingan taekwondo SEA Games XXIV 2007 di auditorium Universitas Vongchavalitkhul, Nakhon Ratchasima, kemarin.(22)

NAKHON RATCHASIMA- Tiga kali beruntun dipecundangi wasit membuat kekesalan kontingen Indonesia tak lagi bisa ditutupi. Kebetulan, pada kejadian terakhir di arena taekwondo kemarin, pertandingan disaksikan langsung Menpora Adhyaksa Dault. Protes keras pun langsung dilakukan. Menpora bahkan terlihat emosional ketika mengajukan protes atas keputusan wasit yang memberikan kemenangan untuk taekwondoin tuan rumah, meski jelas terlihat seharusnya kemenangan menjadi milik atlet Indonesia.

"Ini bukan soal kalah dan menang, tapi fair play. Anda harus sportif," teriak Adhyaksa dari tepi lapangan pertandingan di auditorium Universitas Vongchavalitkul, Nakhon Ratchasima, kemarin.

Ketika itu, di lapangan tengah bertanding Mela Mayasari melawan Dongnoi Wacharaporn pada kelas di bawah 59 kg. Maya yang berkali-kali memasukkan tendangan, tak dihitung wasit.

Sementara saat Dongnoi menendang, meski belum masuk, angka sudah ditambahkan.

Penonton selalu diam tiap kali Dongnoi terkena tendangan dan sebaliknya bersorak-sorak saat Maya yang kena. Nah, pada saat angka ditambahkan wasit pada menit-menit akhir tersebut, penonton tengah diam membisu pertanda tegang melihat jagonya dalam tekanan.

Adhyaksa mengancam akan menarik seluruh kontingen Indonesia sebelum SEA Games ditutup jika sportivitas diabaikan tuan rumah. Dari tribune dia memberikan semangat kepada Mela Mayasari. Pada babak terakhir, ketika wasit memutuskan Mela kalah 1-4, Menpora langsung turun dari tribune. Dari pinggir lapangan, dia berdiri memprotes wasit bersama semua ofisial, termasuk pelatih asal Korsel, Oh Ill-nam.

Namun dia hanya ditemui oleh salah satu panitia pertandingan. Protesnya tak begitu dihiraukan. Panitia tampaknya tidak tahu kalau yang protes adalah Menpora RI sehingga tidak memberikan tanggapan serius. Menyadari hal itu, Adhyaksa segera menyatakan bahwa dirinya adalah Menteri Olahraga Indonesia.

"Saya menteri olahraga Indonesia. Protes ini amat serius. Saya bisa perintahkan kontingen Indonesia untuk boikot, bukan hanya di taekwondo tapi di semua cabang, kontingen Indonesia menarik diri jika fair play tak lagi dihargai," tegasnya dengan nada suara yang sangat tinggi.

Pengamanan

Mengetahui bahwa yang protes adalah seorang menteri, seketika itu juga kondisi menjadi riuh. Panitia terlihat belingsatan. Mereka yang semula tak memperhatikan, langsung munduk-munduk dengan kedua tangan menyembah di depan dada.

"Maafkan kami, maafkan kami. Kami akan bekerja sebaik mungkin dan menjaga fair play," kata seorang panitia berulang-ulang. Seluruh penonton terdiam. Tegang. Puluhan wartawan dari berbagai media di Asia Tenggara yang mengetahui pemrotes adalah seorang menteri, segera tumplek blek ikut mendengarkan dengan amat serius.

Pertandingan dipimpin wasit asal Meksiko, Rosa Maria Adam Tovor, dengan empat juri, yaitu Ae Bang-kyoung (Korsel), Fabricius Bethany (Irlandia Utara) serta Samuel Michael Loiacono dan Rene Reymond Leveaux dari Australia.

"Jika tidak ada fair play, kami akan segera menarik diri. Anda menginginkan itu?," kepada panitia OC yang tak lagi banyak bicara. Beberapa petugas polisi dan tentara segera memberikan pengamanan setelah tahu bahwa pemprotes adalah Menpora.

Saking kecewanya, Oh Ill-nam bahkan sampai menantang panitia untuk berkelahi. "Ayo keluar, kita berkelahi. Ayo, jangan diam saja," ujarnya dengan nada yang tak kalah tinggi dari Adhyaksa.

Protes Adhyaksa memang wajar. Kekalahan tak wajar Mela Mayasari terasa begitu menyesakkan di tengah upaya tim Merah Putih yang sangat getol ingin menambah medali untuk mengejar target masuk empat besar.

"Satu medali emas kami telah hilang kemarin karena ulah wasit. Hari ini kami kembali diperlakukan dengan sangat tidak adil. Apakah SEA Games akan dilanjutkan dengan cara-cara yang tidak sportif seperti ini," tandas Menpora.

Pada Rabu lalu, taekwondoin Indonesia Basuki Nugroho yang ditarget merebut emas, harus puas dengan medali perak. Wasit memberikan kemenangan kepada taekwondoin tuan rumah, Srichan Dam. Dalam final kelas di bawah 78 kg itu, Basuki memimpin 3-2 pada babak kedua. Pada babak ketiga, dia kembali mencatat satu angka, namun Dam kemudian juga membukukan satu poin sehingga skor sementara 4-3 untuk Basuki dan babak tersebut menyisakan waktu 20-an detik.

Pada saat itulah muncul "skor setan" yang sangat merugikan. Sricham Dam mendadak mendapat empat poin tambahan sehingga keadaan berbalik menjadi 7-4 begitu babak ketiga tuntas. Pada babak terakhir, Sricham terlihat berusaha menjaga jarak menghindari pertarungan hingga tak ada lagi tambahan nilai untuk dua pemain sampai waktu habis.

"Itu skor setan. Dari mana wasit bisa ngasih angka itu sementara saya tak pernah kemasukkan tendangan," kata Basuki, taekwondoin asal Jatim.

Sekjen Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI), Tubagus Ade Lukman Djajadikusumah yang mendampingi Menpora mengatakan, Mela dan Basuki memang sangat dirugikan. Wasit tidak akurat dalam memberikan nilai.

Setelah protes lisan itu, PBTI kemarin langsung melayangkan surat tertulis yang intinya memprotes kinerja wasit. Protes akan disampiakan ke Panitia SEA Games XXIV, dengan pemberitahuan kepada Asian Taekwondo Union (ATU).

"Hanya satu motivasi kami, sportivitas. Bujkan persoalan kalah menang," lanjutnya. (*-40)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA