| Kamis, 13 Desember 2007 | NASIONAL |
Pak Guru yang Mengenal Hampir Semua Tersangka Teroris
KISAH petualangan Abu Dujana ternyata sangat panjang. Dalam petikan surat dakwaan yang dibacakan jaksa penuntut umum (JPU), kegiatan yang disebutnya sebagai jihad, telah mempertemukan dirinya dengan tersangka-tersangka teroris besar lainnya. Mulai dari Lajnah Ikhtiar Linasbil Amir (LILA) Al Jamaah Al Islamiyah Mbah alias Zarkasih, Imam Samudra, Noordin M Top, Ali Gufron alias Muklas, sampai Dr Azahari. Pria kelahiran Bandung 20 Agustus 1969 tersebut, pada 1989 berada di Camp Militer Sa'adah Pakistan guna menjalani latihan militer bersama bersama dengan Zuhroni alias Zainuddin Fahmi alias Oni alias Abu Irsyad alias Zarkasih alias Nu'aim, tersangka teroris yang kini disidangkan dalam berkas terpisah. Sebelum berangkat ke Pakistan, tahun itu juga di Malaysia, Abu Dujana mengenal Pengasuh Pondok Pesantren Ngruki Sukoharjo Abu Somad atau Bakar Ba'asyir. Kemudian pada 1993, dirinya bertemu dengan terpidana mati Bom Bali I, Imam Samudra alias Kuduma. Pertemuan itu saat dia masih berlatih di Pakistan. Ketika kembali dari Pakistan 1997 menuju Malaysia, bertempat di Pondok Pesantren Kelantan, dirinya mengenal tersangka teroris yang kini masih menjadi buron, Noordin M Top. Lalu oleh Noordin, dirinya dikenalkan oleh terpidana lain kasus bom Bali I Ali Gufron. Pertemuan selanjutnya dengan Noordin pada 2001 di kantor Yayasan Yasmin milik Wakalah Solo, untuk mengetahui cerita perkembangan terakhir masalah Afghanistan. Dua tahun kemudian, bersama dengan tersangka teroris yang telah mati saat penggerebekan Dr Azhari dan Ismail, mendampingi Mas'ul Darurat Al Jamaah Al Islamiyah Pak Adung untuk menemui Noordin di rumah kontrakannya di Lampung. Pertemuan di Bandung Di dalam kesempatan tersebut, Noordin meminta kepada Pak Adung untuk mengirimkan seseorang yang agar dijadikan Qo'id atau ketua yang dapat mengarahkan dirinya bersama kawan-kawannya. Atas permintaan tersebut, Pak Adung menunjuk Abu Muslikun alias Basir alias Qotadah sebagai Qo'id. Pertemuan terakhir Abu Dujana dengan Noordin terjadi di Bandung, setelah peristiwa peledakan bom di Hotel JW Marriot di Kawasan Mega Kuningan Jakarta. Pada pertemuan tersebut, Noordin meminta bahan peledak dan senjata api, serta meminta dibuatkan KTP kepada Abu Dujana dan Qotadah. Sedangkan perkenalan dengan Dr Azhari dimulai sejak 2000 di sekolah Mahad Ali Solo. Pada tahun itu juga Abu Dujana bertemu dengan Suparjo alias Sarwo Edi Nugroho alias Said alias Sulaim bin Ali Rejo, saat ada pelatihan Yarmuk-II di Camp Militer Hudaibiyah Moro Filipina. Dalam pelatihan itu, Abu Dujana sebagai instruktur pelatihan dalam taktik peperangan. Setelah itu, bertempat di Solo, Tawangmangu, Banjarnegara, hingga Bojonegoro, berkenalan dengan tersangka-tersangka teroris lainnya. Sekitar Mei 2004, di Ngawi Jawa Timur, ditunjuk oleh Pak Adung menjadi Ketua Askari Sariyah Al Jamaah Al Islamiyah. dalam jabatan tersebut, dirinya bertanggung jawab untuk melakukan pembinaan, keterampilan, dan pelatihan Askari terhadap anggota Sariyah Al Jamaah Al Islamiyah. Menurut Abu Dujana usai persidangan dirinya di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan kemarin, semua perbuatan dilakukan untuk agama Islam. (Wahyu Wijayanto-60) | ||||