| Rabu, 12 Desember 2007 | NASIONAL |
Abu Dujana Pernah Diberi Uang Pembunuh di PosoJAKARTA- Tersangka teroris Abu Dujana mengenal sejumlah orang yang disangka teroris, dari Azahari hingga Noordin M Top. Dia pun pernah berhubungan dengan pelaku pembunuhan di Poso. Pembunuh yang dimaksud adalah Hasanuddin yang telah diganjar 20 tahun penjara. Hasanuddin terbukti secara bersama-sama memutilasi tiga siswi SMU Poso mutilasi yang bernama Alvita Poliwo, Theresia Morangki, dan Yani Sambue. Abu Dujana pernah menerima uang Rp 30 juta dari Hasanuddin. Perintah pemberian uang berasal dari pemimpin sementara Jamaah Islamiyah (JI) Zarkasih alias Simbah. "Rencananya yang akan diberikan Rp 50 juta. Yang memberi Hasanuddin, dia yang dianggap senior di Poso," ujar Dujana tanpa merinci dari mana dan untuk apa uang tersebut. Hal itu disampaikannya saat menjadi saksi terdakwa teroris Maulana Yusuf Wibisono alias Kholis alias Abdullah bin Goek Soewarto dan Suparjo alias Sarwo Edi Nugroho alias Said alias Suparman alias Sulaen bin Ali Rejo di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa (11/12). Abu Dujana yang merupakan Ketua Askari atau bidang tempur, salah satu bidang organisasi JI, mengaku memerintahkan pengiriman sejumlah persenjataan ke Poso. Pengiriman tersebut berdasar pemesanan seseorang bernama Abdul Hakim. "Tapi saya tidak pernah memerintahkan untuk untuk digunakan dalam tembak menembak, dan tidak bermaksud berbuat teror," ujarnya di muka sidang yang diketuai hakim Lexi Mamonto. Senjata itu, lanjut dia, hanyalah untuk cadangan dan untuk berlatih. Sebelum dikirim, senjata-senjata itu disimpan di rumah Ayassi (terdakwa dalam berkas terpisah). Pengiriman senjata ke Poso melalui Surabaya dengan bantuan terdakwa Maulana yang juga menjadi Ketua Askari wilayah Surabaya. Senjata dikirim dua kali. Pertama pada pertengahan 2006. Ayassi membawa senjata tersebut dari Sukoharjo ke Surabaya. Setelah dikemas dalam beberapa kardus, senjata yang antara lain terdiri dari detonator, TNT, dan potasium ditenteng dengan menumpang bus. Pengiriman pertama sukses, namun yang kedua pada akhir 2006 belum sempat terkirim ke Poso. Terdakwa Sarwo Edi yang merupakan Ketua Askari Semarang tertangkap di Yogyakarta saat dilakukan pemindahan sejumlah senjata dari terdakwa lainnya yakni Ayassi bersama Sikas dan Amir. (dtc-60) |