| Selasa, 11 Desember 2007 | NASIONAL |
Indonesia Terancam Kehilangan 2.000 Pulau
NUSA DUA - Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto mengungkapkan, 2.000 pulau di Indonesia terancam tenggelam akibat dampak perubahan iklim. ''Sekitar 2.000 pulau mungkin tenggelam akibat pemanasan global. Karena itu pemerintah telah melakukan tindakan-tindakan khusus terhadap pulau-pulau kecil,'' katanya di Pavillion Indonesia, arena Konferensi PBB untuk Perubahan Iklim di Nusa Dua, Bali, kemarin. Menurutnya, pemerintah sudah mela-kukan penelitian di Pulau Nusa Penida, sehingga sudah diketahui dampak yang diakibatkan oleh kenaikan muka air laut. Selanjutnya, Departemen PU mulai menyusun indeks kerawanan kepulauan Indonesia, khususnya untuk pulau-pulau kecil. ''Departemen PU telah merumuskan langkah-langkah mitigasi dan adaptasi untuk meredamnya. Mitigasi antara lain, pengaturan lahan hijau, konservasi tangkapan air, dan konservasi rawa dan gambut,'' ujarnya. Sementara sebagai langkah adaptasi, lanjutnya, antara lain membuat disaster risk management dan manajemen keamanan air untuk suplai makanan. ''Selain itu, pemerintah juga melakukan program untuk mengurangi angka kemiskinan di pulau-pulau kecil sehingga membuat mereka lebih menjaga natural buffer zone,'' imbuhnya F11 Bertemu G8 Sementara itu, negara-negara hutan hujan tropis yang tergabung dalam F11 akan membahas langkah penanganan pemanasan global dengan negara-negara maju yang tergabung dalam G8. Pertemuan itu direncanakan berlangsung di Nusa Dua, 13 Desember. ''Ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan pemimpin-pemimpin negara F11 di New York, 24 September lalu,'' kata Ambassador Deputy Permanent Representative of Indonesia to United Nations, Adityatwidi Adiwoso Asmady di Hotel Westin Nusa Dua, kemarin. Dikatakan, pertemuan ini didasari bahwa sekitar 25 persen dari emisi dunia gas rumah kaca berasal dari deforestasi dan kebakaran hutan. Emisi dari deforestasi kesebelas negara ini merupakan jumlah yang cukup besar dari seluruh emisi dunia gas rumah kaca yang dikeluarkan oleh wilayah tropis. ''Sebaliknya hutan hujan tropis memiliki daya serap CO2 yang relatif lebih tinggi dibanding dengan daya serap jenis hutan lainnya dari hutan di negara maju, seperti Rusia, Kanada, Amerika Serikat, dan Australia,'' tandasnya. Menurutnya, hutan hujan tropis memiliki peran yang penting dalam pelestarian lingkungan hidup dunia. Sekitar enam atau tujuh persen dari permukaan bumi ditumbuhi oleh hutan hujan tropis, yakni 3,4 juta mil persegi. Data FAO tahun 2005 mengindikasikan bahwa hutan hujan tropis mencakup sekitar 16 persen dari seluruh hutan di dunia. ''Pertemuan ini untuk menentukan langkah apa yang harus dilakukan untuk masa depan terutama tahun 2008 hingga 2012, karena saat ini negara-negara hutan hujan tropis belum memiliki kesamaan pandangan dalam penanganan pemasanan global,'' ujarnya.(J22-62) |