| Kamis, 06 Desember 2007 | NASIONAL |
Dunia Pawukon setelah Mbah Hadi Dibui (3-Habis)Bukan Satu-Satunya Sumber Petung
''Dengan mengetahui tanggal, bulan, dan tahun kelahiran seseorang, kita akan bisa membaca sifat, watak, karakter, dan nasib orang tersebut. Caranya ya dengan melakukan pendekatan melalui kalender wuku atau pawukon,'' kata Bambang Saptono. BAMBANG Saptono adalah seorang alumnus seni rupa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta yang kini berprofesi sebagai pelukis. Namun objek lukisannya boleh jadi lain daripara pelukis pada umumnya, yakni tentang pawukon. Lukisan pawukon? Benar, dan ternyata dari olah kuas di kanvas tersebut, keberadaan horoskop Jawa itu menjadi semakin jelas dari gambaran yang selama ini (lebih banyak) ada pada bahasa tutur dan teks. Dari lukisan, detail tentang unsur-unsur dari pawukon memang bertambah jelas. ''Bagi saya cukup menarik menggambarkan pawukon dalam bentuk lukisan,'' katanya. Bentuk lukisan itu adalah dengan menggambarkan detail dari unsur-unsurnya. Setiap wuku dari 30 wuku yang ada memiliki unsur antara lain dewa, lingkungan alam, dan burung. Sebagai contoh wuku wayang, dewanya Hyang Bathari Sri yang duduk di atas jambangan air, pohonnya cempaka, burung ayam alas, serta candranya api bersinar di bumi dan langit. ''Orang yang memiliki wuku wayang, intinya memiliki budi yang luhur, disenangi banyak orang meski kemudian hidupnya menjadi bergantung. Rasa sosialnya besar, bahkan segala yang ada tak segan untuk disumbangkan,'' kata dia. Tentu masih banyak lagi penjelasan tentang wuku yang lain. Yang jelas, Bambang Saptono memilih wuku sebagai objek lukisan berangkat dari keprihatinannya tentang dunia tersebut. Meski fungsinya tak beda jauh sebagai horoskop (termasuk dalam masyarakat Jawa digunakan sebagai petung nasib), pawukon seperti tak bisa berkembang seperti zodiac (Eropa) atau juga cap njie shio (Cina). Ada yang Lain ''Itulah mengapa kemudian saya berusaha untuk menjadikan pawukon sebagai objek lukisan,'' tandasnya. Jika pawukon memiliki fungsi yang nyaris sama dengan zodiac dan cap njie shio, lalu kenapa tidak bisa berkembang? Inilah pertanyaan yang menarik. Dan ketika itu kemudian disampaikan kepada sejumlah budayawan Jawa, ternyata memang ada beberapa faktor yang menyebabkan kondisi itu terjadi. Menurut penuturan Bambang Murtiyoso SKar Mhum, budayawan yang juga Dosen Jurusan Pedalangan ISI Surakarta, dalam fungsinya sebagai petung, pawukon bukanlah satu-satunya. Sebab masih ada lagi media lain yang juga berkembang dalam kehidupan masyarakat. ''Sebut saja dengan ilmu dari buku Betaljemur. Sama seperti pawukon, pengetahuan dari buku tersebut selama ini juga digunakan sebagai sumber petung. Dan itu juga tak kalah dikenal oleh masyarakat,'' katanya. Di luar itu, menurutnya masih ada lagi media lain tentang petung yang berkembang dalam kehidupan masyarakat Jawa. Bahkan di antaranya juga ada yang menggunakan semacam ilmu titen dengan mengacu dari alam dan lingkungan atau anatomi tubuh. ''Inilah beberapa di antaranya yang kemudian membuat pawukon tidak bisa berkembang dan dikenal luas oleh masyarakat karena memang bukan satu-satunya sumber,'' tandas dia. (Wisnu Kisawa-62) | ||||